Casillas, Real Madrid, dan Rumah yang Tak Yahud-yahud Amat

Editorial

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Casillas, Real Madrid, dan Rumah yang Tak Yahud-yahud Amat

“Bangunlah sebuah rumah yang yahud / Di mana kita kan dapat bersama / Tak ada yang dapat menyusup masuk ke dalam” – Naif, Rumah yang Yahud

Sepertinya musim panas di Kota Manchester semakin membuat David De Gea kegerahan. Gosip kepindahannya ke Real Madrid CF semakin santer terdengar. Katanya ia ingin pulang ke rumahnya, ke Kota Madrid. Benarkah?

Benarkah apanya, nih? Benarkah De Gea mau pindah? Atau benarkan Madrid itu adalah rumahnya De Gea?

Kita pasti sudah bosan mendengar kabar De Gea yang ingin pindah dari Manchester United, jadi sebaiknya kita stop saja pembahasan sampai di sini. Kemudian jika kita beralih: benarkah Madrid adalah rumah De Gea? (Fokus: Berapa Sebenarnya Harga David de Gea?)

Untuk memahami rumah, kita pasti sepakat bahwa rumah adalah tempat di mana kita selalu merasa diterima, dicintai, dan merasa nyaman. Dalam kasus Fernando Torres, yang akhirnya kembali pulang ke rumah Atletico Madrid usai melanglang buana di kota-kota besar Eropa lainnya, rumah boleh jadi adalah-- dengan mengutip bait milik penyair Ralph Waldo Emerson, tempat yang ingin kau tinggalkan ketika sedang tumbuh dan ingin kau kembali ketika mulai menua.

Tapi ternyata suhu di Manchester saat ini adalah 18o Celcius, masih terbilang dingin untuk ukuran musim panas. Sedangkan di Madrid saat ini dilaporkan sedang panas-panasnya, yaitu 30o Celcius. Panas.

De Gea mungkin sedang gerah, karena bisa jadi ia tidak sedang berada di Manchester. Tidak ada yang tahu pasti. Tapi ternyata ada yang lebih merasa gerah lagi, yaitu dia yang sedang berada di Madrid, dia adalah Iker Casillas.

Menyebut Kota Madrid sebagai rumah De Gea bisa jadi tepat, tapi menyebut Real Madrid sebagai rumah De Gea... ini yang masih menjadi perdebatan. Masalahnya, jika Santiago Bernabéu adalah “rumah yang yahud” bagi De Gea di mana manajemen dan suporter adalah keluarganya; ada tidak penghuni rumah yang disoraki “booo” oleh keluarganya sendiri akibat peformanya yang sedang menurun?

Cristiano Ronaldo mencetak 225 gol dalam 200 pertandingan La Liga bersama Real Madrid, ia sempat dicemooh. Gareth Bale yang menjadi pahlawan saat Madrid mengalahkan FC Barcelona di final Copa del Rey Spanyol dan juga bermain cemerlang pada final La decima, juga dicemooh.

Yang keterlaluan adalah ketika situasi ini juga menerpa Iker Casillas, sang kapten kesebelasan yang sudah berkarir seumur hidupnya di kesebelasan kebanggan ibu kota tersebut. (Baca juga: Sudah Pantaskah De Gea Gantikan Casillas?)

Ini bukan sekali-dua kali saja Real Madrid memperlakukan pemain mereka dengan semena-mena. Masalahnya lagi, jika pemain tersebut adalah (maaf jika ada yang tersinggung) Thomas Gravesen, Jonathan Woodgate, atau Julian Faubert, kita mungkin bisa memaklumi.

Meskipun saya bukanlah suporter Real Madrid, tapi saya juga tidak membenci mereka. Namun, ketika mereka membuat perlakuan yang -- bisalah dikatakan-- semena-mena kepada para pahlawan, para legenda, pemain yang paling berpengaruh bagi mereka... maka saya jadi mengerutkan dahi sambil berpikir, “Real Madrid ini maunya apa, sih?”

Raúl González

Ia adalah pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Liga Champions UEFA (sebelum akhirnya digeser oleh Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo), memenangkan 6 gelar La Liga, 4 Supercopa de España, satu Piala Super UEFA, dan 2 Piala Intercontinental.

Ia juga memiliki gelar individual yang lebih banyak ketimbang yang seluruh jari di kedua tangan kita bisa hitung. Tapi itu tidak cukup untuk membuat kesebelasannya puas.

Raúl González adalah pemain terbaik Real Madrid di generasinya. Dia adalah talenta homegrown yang sudah dijuluki “Pangeran Real Madrid” bersama banyak Galactico-nya. (Baca juga: Masih Ingatkah dengan Raúl González?)

Pada suatu titik, ia tidak ditawari perpanjangan kontrak pada usia 32 tahun. Raúl yang hanya pernah mengenakan seragam putih Real Madrid kemudian bingung akan masa depannya. Sebanyak 228 gol dari 550 pertandingan La Liga sudah ia persembahkan seolah menyublim.

Dengan putus asa, ia kemudian pindah ke Jerman untuk bergabung bersama FC Schalke 04 di mana ia mencetak 28 gol selama dua musim di Bundesliga Jerman. Ia juga masih menunjukkan ketajamannya di Al Sadd SC, dan di usianya yang sudah 38 tahun, ia masih aktif bermain di New York Cosmos.

Vicente del Bosque dan Fernando Hierro

Real Madrid, melalui presiden Florentino Pérez, lagi-lagi membuat keputusan gila dengan tidak memperpanjang kontrak manajer Vicente del Bosque pada musim panas 2003.

Setelah memenangkan La Liga dan dua gelar Liga Champions, Del Bosque tentunya sudah menunggu perpanjangan kontrak yang sudah disiapkan manajemen. Pérez kemudian malah menawarkannya posisi direktur tehnik yang langsung ditolak oleh Del Bosque dengan mengatakannya sebagai sebuah penghinaan.

Keputusan ini menimbulkan masalah lebih lanjut di ruang ganti, dengan beberapa pemain seperti Fernando Hierro, Steve McManaman, dan Fernando Morientes menyerukan ketidaksetujuan mereka.

Pada akhrinya mereka semua dipaksa untuk dijual. (Selengkapnya: Dosa-dosa Florentino Pérez)

Claude Makélélé

Menjual Makélélé ke Chelsea ditengarai sebagai awal dari akhirnya sebuah era Los Galacticos. Padahal gelandang asal Perancis ini sudah dianggap sebagai pemain paling penting di skuat.

Pada 2003, sang gelandang meminta untuk negosiasi ulang kontraknya, di mana Pérez saat itu langsung menolak. Rekan-rekan setimnya di Real tidak setuju dengan Pérez dan ia mendapatkan dukungan dari Raúl, Zinedine Zidane, dan Morientes.

Namun, Pérez tak kunjung mengubah pendiriannya dan malah mengkritisi kemampuan Makélélé. (Baca juga: Holding Midfielder Lebih Kompleks dari Gelandang Bertahan)

Selama di Madrid, Makélélé mempersembahkan 6 trofi termasuk dua La Liga dan satu Liga Champions. Tanpanya, Madrid mengalami kesulitan. Kepindahannya ke Chelsea menjadi vital bagi kesebelasan London tersebut.

Duo Belanda

Pernah terdapat dua pemain jagoan Belanda di Real Madrid. Mereka adalah Arjen Robben dan Wesley Sneijder. Sayangnya, keduanya dipaksa untuk hijrah pada musim panas 2009 demi agar Real Madrid bisa menyediakan tempat untuk Kaká dan Cristiano Ronaldo.

Robben dijual ke FC Bayern Munich dengan harga 25 juta euro meskipun ia tidak menginginkan untuk pindah. “Saya tidak mau pergi, tapi kesebelasan ingin menjual saya,” kata Robben seperti yang kami kutip di Goal.com.

“Ada banyak kebohongan, tapi pada akhirnya saya harus memutuskan yang terbaik untuk saya, karena saya ingin bermain.”

Pada hari yang sama, Sneijder juga dijual ke Internazionale Milan. Seperti yang ia sampaikan di The Telegraph, “Saya bahagia di sini [Real Madrid] tapi saya harus melihat ke depan dan fokus kepada tim baru saya.”

“Sebenarnya saya bahagia, saya tidak bisa memungkirinya. Sangat sedih untuk pergi tapi itulah yang terjadi. Itulah kehidupan.” (Baca juga: Penjualan Pemain yang Menjadi Bumerang Real Madrid)

Dan sekarang: Iker Casillas

Casillas semasa muda, menjalani debutnya saat masih berusia 18 tahun (sumber: Inside Spanish Football)
Casillas semasa muda, menjalani debutnya saat masih berusia 18 tahun (sumber: Inside Spanish Football)

“You either die a hero or live long enough to become a villain.” – Harvey Dent, The Dark Knight

Iker Casillas pertama kali menerima kabar bahwa ia akan dimasukkan ke dalam susunan nama pemain dalam skuat Real Madrid adalah pada 1997. Saat itu ia baru berumur 16 tahun. Tak tanggung-tanggung, saat itu ia diberi kesempatan di Liga Champions oleh Jupp Heynckes.

Momen tersebut adalah yang menjadi tanda karir panjangnya di ibukota Spanyol, di mana ia kemudian berhasil mencatat 725 pertandingan dan memenangkan 18 piala, termasuk 5 La Liga, 2 Piala Spanyol, dan 3 Liga Champions.

Sekarang, setelah banyak spekulasi yang kita baca, pemain legendaris berusia 34 tahun itu akan meninggalkan kesebelasan yang sudah ia bela selama 25 tahun terakhir, dan siap untuk menyelesaikan karirnya di... FC Porto.

Mengingat beberapa tahun penuh gejolak terakhirnya di Bernabéu, tetap saja kepergian Casillas masih terasa janggal. Seharusnya ia bisa mendapat akhir yang lebih terhormat. Jika kita melihat kembali pada karir Casillas, kita seperti sedang membaca kisah mitos Yunani atau Romawi. Bedanya, “mitos” yang ini adalah nyata.

Pada musim 1999/2000, ketika ia masih 18 tahun, Casillas membuat debut La Liga-nya di pertandingan penuh tekanan di San Mamés menghadapi Athletic Club Bilbao. Sebuah pertandingan yang menakutkan bahkan untuk pemain yang paling berpengalaman sekalipun.

Casillas memantapkan posisinya musim itu dengan menjadi kiper termuda yang bermain di final Liga Champions. Real Madrid mengalahkan Valencia 3-0 hanya empat hari setelah ulang tahunnya yang ke-19.

Dalam karirnya yang penuh sorotan, ia sempat kehilangan tempat utamanya pada awal musim 2001/02 setelah penampilannya yang tidak konsisten. César Sánchez, yang awalnya adalah cadangan Casillas, bisa memanfaatkan kesempatan ini dan mencadangkan Casillas.

Tapi seperti yang sudah ditakdirkan, Casillas menebus dirinya di panggung termegah, pada final Liga Champions 2002. César terpaksa keluar di menit ke-68 setelah mengalami cedera, dan Casillas melangkah ke lapangan di Glasgow dengan Madrid sedang memimpin 2-1 atas Bayer 04 Leverkusen (tentu saja, pertandingan dengan gol Zidane yang satu itu).

Memanfaatkan kesempatan itu, Casillas tampil dengan mengesankan melalui tiga penyelamatan gemilangnya. Pada sebuah kesebelasan yang terdiri dari Raúl, Zidane, Hierro, Roberto Carlos, dan Luis Figo; kiper 20 tahun itu lah yang bersinar paling terang.



Dia akhirnya mengamankan posisi kiper inti Spanyol beberapa minggu kemudian dengan mengorbankan pemain lain yang cedera, kali ini kiper Valencia, Santiago Cañizares. Hanya beberapa hari menjelang Piala Dunia 2002, Cañizares menjatuhkan sebotol aftershave di kakinya yang membuat tendonnya terputus.

Kejadian (yang sebenarnya) konyol itu seperti durian runtuh bagi Casillas. Sejak itu, dia tidak pernah melihat ke belakang lagi.

Beberapa tahun ke depan setelah itu, Casillas terus tumbuh sementara Madrid mengalami stagnasi. Bahkan, penampilan paling menterengnya adalah saat Madrid sedang dalam periode yang paling tandus.

Presiden Pérez sedang kesetanan membeli pemain menyerang dan beberapa kali melupakan pertahanan, ini terpaksa membuat Madrid terlalu banyak mengandalkan Casillas.

Terlepas dari kenyataan di atas, ia mungkin telah menjadi pemain bintang yang paling konsisten, dan dia selalu tetap membumi. “Saya bukan 'Galactico'; saya dari Móstoles,” adalah salah satu kutipan paling terkenal pada zaman tersebut. Ini juga kenapa ia mendapatkan julukan “San Iker” karena aksi heroiknya di dalam dan di luar lapangan.

Tapi ternyata itu tidak bisa bertahan selamanya. (Baca juga: Jangan Marah, Casillas!)

Menurunnya Iker Casillas

Casillas yang mulai banyak duduk di bangku cadangan (sumber: David Ramos/Getty Images)
Casillas yang mulai banyak duduk di bangku cadangan (sumber: David Ramos/Getty Images)

Tanda-tanda pertama dari penurunan Casilllas muncul pada musim 2012/13 ketika Casillas mengalami patah tangan. Ini adalah sebuah ironi: Iker yang di masa mudanya telah diberikan begitu banyak kesempatan setelah pesaingnya mengalami cedera, sekarang malah justru berbalik.

Cedera panjang adalah hal yang langka untuk Casillas, dan ia melewatkan tiga bulan karenanya. José Mourinho kemudian mendatangkan Diego López sebagai pengganti, dan sejak saat itu posisi Casillas di Madrid tidak pernah sama.

Apa yang menyebabkan Casillas menurun? Banyak sekali faktor untuk pemain di usianya. Pada usia 34 tahun, untuk ukuran seorang kiper, sebenarnya perjalanannya masih panjang, kiper kerap kali dianggap “awet muda”: semakin tua maka semakin hebat. Jadi, jatuhnya Casillas dinilai terlalu cepat.

Dua tahun terakhir telah menjadi masa-masanya yang paling berat. Pertengkaran antar skuat, argumen dengan manajer, dan hubungannya yang memburuk dengan suporter Madrid.

Baca selengkapnya tentang kisah Casillas, pengorbanannya untuk mempersatukan negeri Spanyol, dan berujung pada perseteruannya dengan Mourinho: Iker Casillas yang Terbuang

Bagian yang paling menyedihkan tentang saga Casillas adalah bahwa rasanya seperti sesuatu yang akhirnya harus terjadi. Jika dibiarkan, isu ini akan muncul lagi dan lagi sampai ia pensiun. Casillas tidak akan pernah benar-benar mendapatkan pelipur lara.

Bagi suporter Madrid, ini benar-benar menjadi akhir dari sebuah era. Kebanyakan suporter muda belum pernah melihat kesebelasan Madrid tanpa Casillas di bawah mistar gawang. San Iker adalah legenda.

Sekarang adalah waktunya bagi Iker Casillas untuk meredup di Real Madrid, sepertinya itulah cara yang tampaknya selalu terjadi di Madrid: Fernando Redondo, Hierro, Del Bosque, Figo, Raúl, Xabi Alonso, atau Carlo Ancelotti.

Jangan heran jika setelah ini tiba waktunya bagi galaksi Cristiano Ronaldo untuk meredup juga, bahkan Gareth Bale, Sergio Ramos, Martin Ødegaard, atau yang lainnya. Atau mungkin juga inti "masalah" dari terbuangnya para legenda Madrid sebenarnya bukan merupakan sebuah "hobi" kesebelasan, melainkan hanya kerjaannya presiden Florentino Pérez. Kalau begitu, sampai kapan Pérez akan berkuasa?

Kembali kepada kutipan Harvey Dent di atas, yang jelas sekarang ini, jika ada pemain yang (sudah atau ingin) menjadi pahlawan di Real Madrid, sebaiknya mereka tidak terlalu jatuh cinta kepada kesebelasan ini, sehingga mereka hanya sebentar saja mengabdi untuk Madrid ("...die a hero..."). Karena jika terlalu lama berada di Madrid, seorang pahlawan pun lambat-laun akan dipandang sebagai penjahat ("...live long enough to become a villain”). Real Madrid, mah, emang suka gitu. Hiks.

***

“Time moves in one direction, memory in another.” – William Gibson

Waktu. Katanya waktu itu adalah dimensi yang lain. Waktu bukanlah benda padat. Waktu bukanlah benda cair. Pun waktu bukanlah gas yang megudara dan terbang bebas. Tapi waktu adalah sesuatu yang kita tidak dapat hindari. Waktu bisa datang, membawa kita, tapi waktu tak akan pernah bisa kembali.

Hal ini juga yang sebagian besar mendefinisikan karir Iker Casillas. Karirnya di Real Madrid mungkin harus berakhir sekarang, tapi kenangannya akan terus diingat selamanya.

Sumber: Fusion, The Telegraph, Goal, Marca, Dead Spin, Inside Spanish Football, Bleacher Report

Komentar