Awal Kebangkitan Aston Villa: Investasi, Kepercayaan Pelatih, dan Kebijakan Transfer

Cerita

by Bayu Aji Sidiq Pramono

Bayu Aji Sidiq Pramono

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Awal Kebangkitan Aston Villa: Investasi, Kepercayaan Pelatih, dan Kebijakan Transfer

Pada artikel sebelumnya, Masa Kelam Aston Villa, tergambar jelas bahwa Aston Villa tidak pernah tercatat sebagai penantang gelar Liga Inggris. Angin segar setelah kepemilikan klub berpindah tangan ke Randy Lerner hanya membawa Aston Villa ke peringkat enam dalam tiga musim berturut-turut (musim 2007/2008 sampai 2009/2010). Perencanaan yang salah arah dan kecerobohan dalam mengelola finansial berbuntut pada penampilan di lapangan yang jauh dari konsisten. Buntutnya, tim berjuluk The Claret and Blue Army tersebut terdegradasi pada musim 2015/2016.

Situasi Aston Villa pada saat itu sangat tidak stabil, baik dari sisi manajemen maupun kepelatihan. Dari sisi manajemen, Aston Villa berencana untuk melakukan pengurangan jumlah karyawan. Sementara dari sisi kepelatihan, musim tersebut (2015/2016) The Villa telah memecat tiga pelatih yaitu Tim Sherwood, Kevin MacDonald, dan Remi Garde. Eric Black yang memegang jabatan pelatih sementara gagal menyelamatkan nasib klub. Sangat pelik.

Dampak dari degradasi memunculkan gerakan dari kelompok Out The Door On 74’. Kelompok tersebut mendorong gerakan para pendukung Aston Villa untuk menyuarakan protes dengan meninggalkan pertandingan setelah menit ke-74 (terinspirasi dari berdirinya Aston Villa tahun 1874). Kelompok tersebut berencana melancarkan protes lebih lanjut terhadap Randy Lerner sebelum musim berakhir. Reaksi penggemar diperparah ketika Joleon Lescott (pemain bertahan) menggambarkan degradasi sebagai “beban di pundak”.

“Sekarang sudah dipastikan (kami terdegradasi), mungkin kenyataan ini menghilangkan beban dari pundak dan kami dapat memberikan apa yang penggemar layak dapatkan, (yaitu) sisa pertandingan (yang kami mainkan tanpa beban)” ujar Lescott dilansir dari Sky Sport.

Tidak mudah bagi sebuah klub untuk dapat segera kembali ke puncak tertinggi Liga Inggris setelah terdegradasi. Hal ini terbukti di beberapa tim seperti Bolton Wanderers, Fulham, Blackburn Rovers, Queens Park Rangers, Swansea dan beberapa tim lain yang butuh banyak waktu untuk dapat merebut kembali posisinya di Liga Inggris. Meski demikian, kekhawatiran tersebut tidak terjadi di tubuh Aston Villa. Mereka hanya membutuhkan tiga musim untuk kembali ke level tertinggi. Bagaimana caranya?

Pemilik Baru

Randy Lerner sebagai pemilik tentu bertanggung jawab atas keterpurukan Aston Villa terdegradasi dari Liga Inggris. Kebijakan finansial yang salah arah seakan mengaburkan kecintaan kepada klub. Lerner menyadari bahwa terjadi penurunan prestasi setelah sikap impulsifnya pada empat musim pertama. Tidak heran mulai tahun 2014, Lerner mencoba menawarkan klub yang ia beli seharga 62,2 juta paun tersebut.

Butuh dua tahun bagi Lerner untuk mendapatkan pembeli. Ia adalah Tony Xia yang menjabat sebagai pemilik Recon Group. Pengusaha asal Cina tersebut sepakat membeli Aston Villa yang telah terdegradasi dengan harga 76 juta paun. Pengambilalihan ini terdiri dari harga pembelian sebesar 52 juta paun dan overdraft yang mencapai 24 juta paun. Selain itu, ia juga akan memberikan kontribusi sebesar £60 juta untuk biaya operasional.

Tony Xia memboyong Chris Samuelson sebagai wakil ketua. Chris merupakan pemodal internasional yang pernah terlibat dalam pengambilalihan klub Championship lainnya, Reading. Tony juga menunjuk Keith Weyness sebagai kepala eksekutif yang baru. Keith cukup berpengalaman di posisi tersebut. Sebelumnya, ia pernah mengerjakan peran yang sama di Aberdeen dan Everton. Setelah itu, Tony memilih Roberto Di Matteo sebagai pelatih. Mantan pelatih Chelsea tersebut disediakan anggaran sebanyak 30 juta paun untuk belanja pemain.

Pergantian pemilik dari Randy Lerner ke Tony Xia ternyata tidak cukup untuk menyelesaikan masalah manajerial di dalam tubuh Aston Villa. Tony Xia yang tidak kalah “sembarangan” dalam mengatur keuangan tidak membawa Aston Villa ke arah kemandirian. Klub asal Birmingham tersebut justru terlalu bergantung pada suntikan dana langsung dari Tony Xia.

Laporan The Guardian mencatat bahwa Tony Xia melakukan transfer rutin untuk menutupi pengeluaran Aston Villa dengan nilai rata-rata empat juta paun per bulan. Ketergantungan ini menjadi masalah sejak tahun 2017 ketika bisnis Tony Xia mengalami guncangan yang menyebabkan suplai kas berhenti. Masalah tersebut terus bergulir bersamaan dengan klub yang terus merugi hingga terancam aturan Financial Fair Play. Perlahan, kebangkitan yang diidamkan para penggemar semakin memudar.

Pada akhirnya Tony Xia menjual 55 persen saham di Recon Group UK (perusahaan induk milik Tony Xia) kepada NSWE yang dimiliki oleh Nassef Sawiris dan Wes Edens. Mereka mendapat tambahan 13 persen saham setelah memenuhi pembayaran 30 juta paun kepada Randy Lerner setelah mereka dipastikan promosi ke Liga Inggris. Klausul tersebut memang sudah disepakati ketika Tony Xia membeli Aston Villa dari Lerner. Dengan demikian, posisi Tony Xia di dewan direksi sangat tipis dan hampir tidak memiliki hak dalam pengambilan keputusan. Akhirnya, Tony Xia resmi pergi pada 30 Juni 2019.

Kedatangan Sawiris dan Edens mengakhiri ketidakpastian keuangan dengan suntikan dana segar lebih dari 100 juta paun. Mereka memperkuat kepemilikan saham dengan terus memompa dana dengan imbalan berupa ekuitas lebih lanjut di klub, juga hak dalam pengambilan keputusan tertinggi.

Kepercayaan Penuh pada Pelatih

Selain masalah manajerial dan finansial, salah satu yang membawa Aston Villa ke jurang keterpurukan adalah rendahnya kepercayaan pada pelatih. Era Randy Lerner tercatat telah terjadi tujuh pergantian pelatih dalam kurun waktu 10 musim. Rata-rata dari mereka hanya melakoni 62 pertandingan dengan ketimpangan yang sangat jelas. Tercatat Martin O’Neill adalah pelatih dengan jumlah pertandingan terbanyak pada era tersebut (190 pertandingan). Berbeda jauh dengan Remi Garde yang hanya memimpin dalam 23 pertandingan.

Kebijakan ini justru tidak terjadi di Era Tony Xia dan Nassef Sawiris bahkan setelah mereka terdegradasi. Kebijakan tersebut menjadi modal penting kebangkitan mereka. Penunjukan Roberto Di Matteo hanya bertahan 122 hari dilanjutkan dengan Steve Bruce yang berhasil membawa Hull City ke Liga Inggris dari Divisi Championship pada musim 2012/2013. Musim pertamanya memang tidak berjalan baik dengan hanya duduk di peringkat ke-13. Namun kegagalan tersebut tidak menjadikan alasan untuk memecat Bruce. Ia bahkan diberi kesempatan untuk belanja pemain. Musim keduanya, Bruce berhasil menancapkan pondasi dengan tidak banyak bergantung pada pembelian pemain saja. Pemain-pemain muda potensial diberi kesempatan dan kepercayaan yang layak. Meski belum berhasil promosi, musim kedua Bruce menunjukan peningkatan drastis dengan finis di peringkat keempat.

Pondasi yang ditanamkan Steve Bruce dilanjutkan oleh Dean Smith yang menggantikannya pada Oktober 2018. Di tengah guncangan finansial, Tony Xia tidak menurunkan kepercayaan kepada pelatih pilihannya. Kepercayaan Tony Xia dan jajaran berbuah manis ketika Aston Villa berhasil promosi ke Liga Inggris setelah mengalahkan Derby County di partai pamungkas.

Kebijakan Transfer

Secara umum, kebijakan transfer Aston Villa selama berkompetisi di Liga Inggris tidak pernah menguntungkan secara finansial. Mulai dari era Randy Lerner hingga era Nassef Sawiris, biaya belanja pemain selalu lebih besar dari pendapatan dari penjualan pemain. Belum lagi soal beban gaji, operasional, dan sebagainya. Kebijakan finansial dari pemilik pun cenderung salah arah dan tidak berorientasi jangka panjang.

Tapi, ketika Aston Villa terdegradasi dan kepemilikan berganti ke Tony Xia dan Nassef Sawiris, ada perbedaan pada kontribusi pemain. Meski merugi, tapi kontribusi pemain yang didatangkan lebih efektif. Artinya, belanja pemain yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan tim dan tepat sasaran.

Salah satu contohnya adalah peminjaman Tammy Abraham dari Chelsea pada musim 2018/2019. Ia masih berusia 20 tahun namun kontribusinya di lapangan memberikan efek instan terhadap produktivitas Aston Villa. Tammy menjadi aktor penting keberhasilan Aston Villa kembali ke Liga Inggris berkat torehan 26 gol yang menjadikannya sebagai pencetak gol terbanyak kedua di Divisi Championship. Hanya terpaut empat gol dari Teemu Pukki di urutan pertama.

Beberapa keberhasilan transfer lain adalah John McGinn dari Hibernian pada awal musim 2018/2019. Pemain asal Skotlandia tersebut memegang peran penting di lini tengah Aston Villa, bahkan sampai sekarang. McGinn memiliki atribut lengkap sebagai gelandang box to box yang membuat organisasi permainan Aston Villa terjaga baik dalam fase bertahan, menyerang, maupun transisi.

Selain McGinn ada John Terry yang didatangkan gratis dari Chelsea. Satu musimnya bersama Aston Villa memberi kontribusi penting sebagai pemain senior untuk menanamkan mental-mental yang selama ini belum pernah hadir. Tentu di usianya, Terry mustahil bermain spektakuler di setiap pertandingan. Tapi kehadiran Terry memberi inspirasi bagi rekan-rekannya untuk tumbuh lebih cepat baik secara teknis maupun mental.

Komentar