Dixie Dean: Gentleman dan Legenda yang Setia Sampai Mati

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Dixie Dean: Gentleman dan Legenda yang Setia Sampai Mati

Footballer. Gentleman. Evertonian. Everton memilih tiga kata itu untuk mendeskripsikan Dixie Dean. Tiga kata itu tertera dalam inskripsi patung Dixie Dean, yang terletak di Park End, Goodison Park.

Sebuah inskripsi yang bersahaja. Terlalu bersahaja, malah, untuk seorang pemain hebat yang salah satu rekornya disamai Gerd Müller dan dilampaui Lionel Messi. Namun dengan caranya sendiri, tiga kata tersebut menggambarkan Dean dengan tepat.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa Liverpool dan Everton bukanlah kesebelasan yang selalu akur. Memuji kehebatan satu sama lain bukanlah praktik populer antara kedua kesebelasan dan para pemainnya.

Namun Dean begitu hebat sehingga manajer legendaris Liverpool, Bill Shankly, tak menyembunyikan rasa kagum yang ia miliki terhadap Dean saat dirinya untuk kali pertama melihat aksi pemain bernama lengkap William Ralph Dean tersebut. Lebih jauh lagi, Shankly menyebut Dean pantas disamakan dengan Ludwig van Beethoven, William Shakespeare, dan Rembrandt Harmenszoon van Rijn.

“Dixie adalah penyerang tengah terbaik yang pernah ada. Rekor golnya adalah hal paling luar biasa di dunia. Ia pantas disejajarkan dengan sosok-sosok luar biasa hebat seperti Beethoven, Shakespeare, dan Rembrandt,” ujar Shankly (baca juga: Menghormati Bill Shankly).

Berlebihan atau tidak, Dean memang luar biasa. Rekor 85 gol dalam satu tahun, yang ia torehkan pada tahun 1928, memang berhasil disamai Müller pada tahun 1972 dan dilampaui Messi di tahun 2012. Namun hingga saat ini belum ada pemain yang mampu mencetak 60 gol dalam satu musim liga, seperti yang Dean lakukan dalam First Division musim 1927/28.

Hal lain yang membuat Dean layak dipandang sebagai legenda sepakbola adalah fakta bahwa ia menorehkan rekor tersebut dua tahun setelah divonis tak dapat lagi bermain sepakbola. Dean mengalami retak tulang tengkorak dan rahang setelah mengalami kecelakaan motor di Holywell.

Tak hanya hebat, Dean adalah pribadi terpuji. Tak pernah sekalipun sepanjang karirnya ia diusir dari pertandingan. Padahal provokasi yang diarahkan kepadanya tidak jarang terjadi. Salah satu yang paling parah ia terima dalam sebuah pertandingan di Prenton Park pada tahun 1925. Seorang pemain Rochdale menendang kemaluan Dean sampai ia kehilangan satu buah zakar.

Pernah memang Dean melakukan kekerasan, namun ia tak lantas dipandang bersalah karenanya. Dean memukul seorang penonton yang memanggil dirinya “anak haram berkulit hitam”. Polisi datang untuk menangani situasi. Alih-alih menangkap Dean, mereka menjabat tangannya.

Cerita mengenai Dean sebagai seorang gentleman juga dikisahkan oleh Thomas Lawton, penyerang yang didatangkan Everton untuk menggantikan Dean yang mulai tua.

Pada sebuah pagi di hari pertamanya sebagai pemain Everton, Lawton bertemu seorang kondektur trem yang bertanya apakah dirinya Lawton si penyerang baru. Lawton mengiyakan, dan sang kondektur membalas: “Kamu tak akan sebagus Dean.”

Setelah turun dari trem dan sampai di markas kesebelasan barunya, Lawton kemudian bertemu secara langsung dengan Dean, yang merangkulnya sembari berkata: “Pemuda, aku tahu kamu datang untuk mengambil tempatku. Jadi apapun yang dapat kulakukan untuk mengajarimu, akan kulakukan.”

Tak mengherankan jika kemudian Lawton langsung menghormati Dean. “Dixie Dean! Dixie yang hebat, menakjubkan, dan abadi. Pemain yang hebat. Pria yang hebat!” kenang Lawton mengenai pertemuan pertamanya dengan Dean.

Tak hanya memberi kesan pertama yang baik, Dean memenuhi janjinya kepada Lawton. Gordon Watson, pemain kiri dalam Everton, bersaksi dirinya sering melihat Dean melatih Lawton.

Para legenda sepakbola selalu menyodorkan cerita-cerita kehidupan yang menarik. Secara rutin kami menuliskan kisah-kisah para legenda sepakbola. Di antaranya:

Disiplin ala Stanley Matthews
Duncan Edwards: Menjegal Sepakbola dengan Caranya Sendiri
Ketakutan yang Melahirkan Legenda Telmo Zarra
Penyelamatan Legendaris Gordon Banks
Ricardo Zamora, Sang Illahi yang Menjaga Gawang Spanyol
Herbert Chapman Sang Inventor yang Terlupakan

Pembuat Onar yang Abunya Ditanam di Stamford Bridge


Hebat sebagai pemain sepakbola dan terpuji sebagai seorang pria, Dean juga memiliki sifat setia. Kata “Evertonian” yang tertera dalam inskripsi patungnya tak hanya ia dapatkan karena Dean mencetak 200 gol pertamanya untuk Everton dalam 198 pertandingan saja. Dean dicintai karena ia setia.

Saat Everton terdegradasi dan terpaksa bermain di Second Division pada musim 1930/31, ia bertahan dan membantu Everton meraih promosi. Dean mencintai Everton sampai mati. Ini bukan kiasan atau bualan. Dean meninggal di Goodison Park, hari pertama di bulan Maret 1980, beberapa menit setelah pertandingan melawan Liverpool berakhir.

Komentar