FPL: Sepakbola Fantasi Mengalahkan Realitas

Sains

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Your personal football analyst. Contributor at Pandit Football Indonesia, head of content at Box2Box Football, podcaster at Footballieur, writer at Tirto.ID, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach... Who cares anyway! @dexglenniza

FPL: Sepakbola Fantasi Mengalahkan Realitas

Hanya ada 20 kesebelasan di Premier League musim ini dengan lebih dari 500 pemain yang 325 di antaranya (65%) adalah pemain asing. Namun jumlah manajernya ternyata lebih dari 20. Tepatnya, ada 6.743.696 manajer di Premier League 2019/20 sampai gameweek keenam!

Lebih dari enam juta manajer di atas menukangi kesebelasan (atau dalam hal ini: tim) beranggotakan 15 pemain yang bisa diganti dan ditransfer setiap pekannya.

Selamat datang di dunia Fantasy Premier League, atau yang biasa dikenal dengan singkatannya: Dufan FPL.

Secara singkat, FPL mempersilakan para penonton, suporter, atau fannya menjadi manajer tim sepakbola fiksional (sesuai namanya: fantasi), yang skornya ditentukan berdasarkan penampilan para pemain sungguhan di atas lapangan.

Ini adalah permainan gratis yang dijalankan oleh pihak Premier League. Pada kenyataannya, pasar fantasy sport diestimasikan oleh Orbis Research mencapai 14 miliar dolar AS pada 2018. Jadi meski gratis, gim fantasi ini ternyata sangat berdampak pada realitas.

Alasan Orang Bermain FPL: Gengsi dan Pamer

Permainan olahraga fantasi (fantasy sports) sudah ada sejak 1960-an di Amerika Serikat. Permainan ini kemudian diaplikasikan ke sepakbola Inggris pada 1991 oleh Andrew Wainstein.

Namun untuk Fantasy Premier League, itu baru dimulai pada tahun 2002. Ketika belum menjamur seperti sekarang, awalnya hanya ada 18.000 manajer di FPL edisi perdana. Terus naiknya angka partisipasi manajer fantasi membuat konten ini kemudian menjadi buah bibir.

Sebuah penelitian dari University of Macau membandingkan koran, televisi, media daring (online) biasa, dan media fantasy sports. Menurut Tony Schirato, ketua penelitian tersebut, media yang memiliki konten fantasy sports dapat terlibat jauh lebih intensif, efektif, dan produktif kepada para konsumennya.

Itu bisa terjadi karena olahraga fantasi memiliki simulasi dari ilusi pilihan dan kegiatan interaktif antara manajer fantasy sports dengan industri olahraga (termasuk media, brand, tim, pemain, sampai kepada sesama manajer fantasi).

Brendan Dwyer dari Virginia Commonwealth University mengamini dengan menyimpulkan jika permainan olahraga fantasi adalah kegiatan daring interaktif yang menjadi refleksi utama dari statistik olahraga di dunia nyata.

Pada awalnya, olahraga fantasi dianggap sangat erat hubungannya dengan judi. Namun Seunghwan Lee dari Department of Kinesiology and Health Education, University of Texas, berkata jika maraknya fantasy sports tidak ada hubungannya dengan perjudian (gambling).

Melalui metode Fantasy Sport Motivation Inventory (FanSMI), dia menyimpulkan kalau motivasi utama bermain fantasy sports adalah pengalaman hedonis, pelarian diri dari realitas, ingin mendapatkan hadiah, mengakrabkan diri dengan teman-teman, dan interaksi sosial.

Dalam perspektif FPL, kebanyakan para manajer tak bermain untuk overall ranking (OR). “OR itu dingin dan klinis; mini-league adalah di mana FPL bertemu kehidupan nyata,” seperti yang ditulis oleh David Wardale pada bukunya yang berjudul Wasting Your Wildcard: The Method and Madness of Fantasy Football.

Mini-league adalah tempat di mana para manajer fantasi berkumpul dan memamerkan skill fantasi mereka. Liga mini ini bisa berisi rekan-rekan satu kantor, sekolah, atau geng pergaulan. Pada intinya, satu motivasi utama untuk bermain FPL hadir di sini: bragging rights (gengsi dan pamer).

“Sejujurnya aku tak pernah mengecek hadiah juara utama; kami bermain untuk bragging rights kepada teman-temanku,” kata Teja dalam wawancara yang dimuat pada penelitian Aditya Deshbandhu. “Ketika pemain-pemainku bagus, itu berarti aku memahami sepakbola lebih baik daripada yang lain.”

Keterlibatan di Mini-League Memengaruhi Suasana Kerja dan Sekolah

Masih dari buku Wardale, dia bercerita pada FPL 2014/15, ada seorang manajer bernama Paul yang tertinggal 30-40 poin dari Andy di mini-league sampai gameweek 37. Dia membutuhkan satu pemain spekulatif di GW38. Dia kemudian memilih Theo Walcott, yang saat itu bermain di Arsenal dan baru sembuh dari cedera 10 bulan. Benar-benar spekulatif.

“Aku kemudian menjadikannya (Walcott) kapten dan, 34 menit memasuki awal laga pamungkas melawan West Brom, dia mencetak trigol dan game over—dia memberiku skor yang membuatku terbang melewati Andy dengan kemenangan 29 poin. Aku masih membahasnya sebagai transfer terbaik yang pernah kulakukan,” kata Paul.

Bhavik mendapatkan sebaliknya. Pada Premier League 2011/12, dia memasang Sergio Agüero di gameweek terakhir melawan Queens Park Rangers. Pada pertandingan itu, Agüero mencetak gol di injury time yang membuat Manchester City menjadi juara liga.

“Empat poin untukku dan aku pikir aku baru saja menang mini-league dengan selisih satu poin. Namun kemudian dia membuka bajunya, mendapatkan kartu kuning, dan itu artinya minus satu poin,” kata Bhavik.

Dia akhirnya tidak berhasil menjadi juara mini-league. “Usaha sembilan bulan dikacaukan oleh satu nanosekon selebrasi pentil Amerika Selatan.”

Hubungan olahraga fantasi dengan dunia kerja (dan sekolah serta kuliah) sudah lama diteliti di Amerika Serikat.

Sebuah riset dari Peninsula mengatakan jika 62% pekerja yang bermain di mini-league bisa meningkatkan moral mereka di kantor. Kemudian 49% dari mereka juga mengaku keterlibatan di olahraga fantasi bisa menolong hubungan mereka dengan rekan-rekan lainnya.

“Itu membuat mereka bisa berbasa-basi dengan nyaman di lift atau ketika sedang ngopi,” kata Tom Cantle, pembawa acara Who Got The Assist, sebuah siniar (podcast) FPL mingguan, dikutip dari Financial Times.

Sebuah survei dari OppLoans mengatakan jika para pekerja menghabiskan rata-rata 6,9 jam per pekan untuk hal-hal yang berhubungan dengan tim fantasi mereka.

Banyaknya waktu yang terbuang itu tak sesimpel hanya untuk melakukan transfer pemain atau mengatur skuat. Para manajer olahraga fantasi biasa membaca berita-berita, catatan statistik, tulisan-tulisan khusus FPL, dan bahkan sampai mengakses atau membuat spreadsheet berisi kumpulan angka-angka terkait sebelum melakukan transfer pemain atau mengatur skuat.

Konsekuensi Permainan Berbasis Data: Peduli kepada Pemain dan Kesebelasan Kecil

Survei sebelum ini menunjukkan jika manajer tim fantasi sering melihat banyak data sebelum membuat keputusan untuk tim fantasinya.

“Ada banyak orang dengan ketertarikan minimal pada sepakbola yang bermain menggunakan angka (statistik), dan mereka sukses,” kata Cantle. “Ketika kamu menonton sepakbola, itu sangat subjektif, tapi statistik bisa memberimu perspektif objektif.”

Apakah kemudian sifat FPL yang terlalu data-sentris bisa membuat kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) dalam bentuk “bot” berjaya?

Pendekatan terhadap data ini sudah bisa dicapai oleh AIrsenal dari Alan Turing Institute. Dengan menggunakan AI, mereka bisa finis di sepertiga atas dunia pada musim lalu. Kemudian situs analisis seperti Fantasy Football Fix juga bisa membantu para manajer FPL.

Namun mesin masih sulit mereplikasikan pengambilan keputusan yang kompleks. Maka meski riset, statistik, dan informasi tentang FPL banyak bisa diakses, pada akhirnya para manajer sendiri lah yang membuat keputusan akhir.

“Statistik memberi objektivitas, tapi kita harus sering menonton pertandingan sebanyaknya. Itu adalah cara terbaik menikmati FPL,” kata Anabil dalam wawancara riset Gamevironments.

Survei Pandit menunjukkan bahwa 55% responden merasa ada korelasi antara bermain FPL dengan menonton Premier League. Sebanyak 51,4% juga mengaku bermain FPL membuat mereka menonton lebih banyak pertandingan Premier League.

Berkat bermain FPL sambil menonton pertandingan-pertandingan yang tidak biasa mereka tonton, beberapa manajer FPL mengaku mereka jadi mengetahui pemain-pemain non-bintang yang di FPL justru berprestasi.

“Ada banyak pemain yang kutahu karena FPL, seperti Ighalo, Deeney, Vardy, Nyom, Hegazy, Albrighton, McAuley, dan banyak lagi,” kata Prashant dalam wawancara riset Gamevironments.

Baca juga: Pemain Premier League Juga Bermain Fantasy Premier League

Hal ini pernah dialami langsung oleh Ed Shardlow ketika bertemu Jay DeMerit, bek tengah Amerika Serikat yang pernah bermain di Watford. “Kamu ada di tim fantasiku!” kata Ed kepada DeMerit, seperti yang dikutip dari buku Wasting Your Wildcard.

“Aku akan mencoba bermain baik untuk tim fantasimu akhir pekan ini,” kata DeMerit. “Jangan khawatir. Kamu ada di situ juga hanya karena hargamu murah,” kata Ed dengan bercanda, yang kemudian dibalas dengan tawa dari DeMerit.

FPL adalah Tempatnya Para Pengkhianat

Kalau sudah kebelet ingin pamer, memuncaki klasemen di mini-league, dan sering mengonsumsi data sehingga lebih objektif, maka para manajer FPL memiliki reputasi sebagai orang yang tak punya pendirian. Pendeknya, mereka adalah pengkhianat.

Pada buku Wasting Your Wildcard, Wardale bercerita soal SB (inisial) dan pacarnya yang merupakan fan Bolton Wanderers. Ketika SB sedang menonton Everton melawan Bolton bersama pacarnya, dia bersorak gembira saat Mikel Arteta mengasis gol Joleon Lescott ke gawang Bolton.

“Aku jelas tak senang Everton mencetak gol, tapi mereka (Arteta dan Lescott) ada di tim fantasiku dan aku bisa mendapatkan poin besar,” tulis Wardale dari pengalaman SB tersebut. “Pacarku tak senang sama sekali dan masih suka membahas cerita ini kepada orang-orang ketika kami mengobrol soal sepakbola fantasi.”

Penelitian di Gamevironments juga menyoroti hal ini. “Kita harus memilih pemain-pemain terbaik. Menjadi fan [Manchester] United tapi tak punya pemain [Manchester] City itu sebuah kemustahilan. Aku punya pemain-pemain City yang membuatku dapat banyak poin dan itu tak masalah sama sekali bagiku,” kata Prateek.

“Sebagai fan Arsenal, ketika aku menonton pertandingan [Tottenham Hotspur], aku sangat ingin Tottenham kalah tapi kalau bisa Harry Kane mencetak trigol. Misalnya Spurs jadi kalah 3-4,” tambah Teja dalam wawancara riset Gamevironments.

Jeremy Lee dari Louisiana State University and Agricultural and Mechanical College juga mencoba menambahkan perspektif ini. Menurut penelitiannya, sebanyak 41,4% partisipan fantasy sports lebih ingin tim fantasinya “menang” alih-alih tim favoritnya menang. Kemudian 47,5% akan membeli pemain dari tim rival.

Meski begitu, penelitian tersebut juga menunjukkan jika itu tidak lantas menurunkan tingkat loyalitas seseorang kepada tim favoritnya, sehingga itu tak berdampak pada penjualan tiket, merchandise, dan sponsor.

Baca juga: Suporter Indonesia (Tidak) Berkontribusi kepada Industri Sepakbola

“Ada dua loyalitas: pertama loyalitas kita kepada kesebelasan [favorit] kita, dan kedua loyalitas kita kepada tim FPL kita. Itu dua hal berbeda,” kata Anabil pada riset berjudul Decoding Fantasy Football: a Ludic Perspective.

FPL Turut Mendukung Keberlanjutan Industri Sepakbola

Sepakbola sudah menjadi olahraga global. Dari situ, sepakbola fantasi (fantasy football) hadir sebagai “saudara kandungnya”, menurut David Wardale di buku Wasting Your Wildcard: The Method and Madness of Fantasy Football.

Sepakbola kadang tidak sesuai dengan ekspektasi, apalagi bagi para fan Manchester United di awal musim 2019/20. Namun sepakbola fantasi bisa membawa cinta kembali ke permainan yang semakin tidak mudah dicintai ini.

“Bagi seseorang yang tumbuh besar dengan [gim] Championship Manager dan Sensible World of Soccer, FPL adalah gim bertipe manajerial yang keren, yang tetap berakar pada dunia nyata,” kata Peter Kouwenberg, salah satu manajer FPL terbaik dunia.

Banyak jurnal ilmiah yang menunjukkan dampak positif fantasy sports kepada olahraga, terutama kepada para penonton, suporter, bahkan fan. Menurut penelitian dari University of Texas, konsumsi terhadap fantasy sports membuat partisipannya lebih ingin menonton pertandingan.

Itu terjadi karena rasa cinta itu adalah rasa cinta terhadap olahraga tersebut secara keseluruhan, bukan hanya untuk tim atau pemain favorit.

Dari sisi bisnis, penelitian tersebut juga menyimpulkan jika fantasy sports adalah strategi yang jitu jika sebuah entitas industri olahraga (dalam hal ini dititikberatkan kepada pihak pengelola kompetisi, media, dan brand) ingin mempromosikan kompetisi dan olahraga tersebut secara efektif.

Riset dari Deakin University juga menyimpulkan kalau konsumsi terhadap fantasy sports bersifat sebagai pelengkap, bukan sebagai kompetisi dari konten-konten media yang sudah ada.

Mereka yang bermain pada akhirnya lebih sering menonton pertandingan secara langsung, menonton pertandingan di televisi, membeli merchandise, dan mengonsumsi berbagai konten terkait yang disajikan oleh media-media, baik televisi, cetak, daring, sampai medsos.

Maka dari itu bagi para manajer FPL yang ingin mendapatkan poin tinggi setiap pekannya, sebaiknya tonton pertandingan Premier League sebanyak-banyaknya. Kemudian artikel-artikel berita, analisis, sampai FPL di Pandit Football juga bisa turut membantu manajer FPL sebelum membuat keputusan setiap pekannya.

Sebagai tambahan, melalui IMG, pihak Premier League juga rutin memproduksi konten-konten magazine yang bisa ditonton di Mola TV. Sebagai pemegang hak siar utama, Mola TV juga turut menyiarkan Premier League Programme yang memiliki dua program unggulan pendukung para manajer FPL, yaitu Match Pack (kumpulan data, analisis, serta prediksi) dan Fantasy Premier League (tips yang lebih direct).

Jadi dalam perspektif Premier League, melalui pengalaman-pengalaman unik ini, FPL membuat para pemainnya (atau dalam hal ini: manajer FPL) semakin terikat dengan pertandingan dan konten-konten Premier League lainnya. Itu adalah kabar baik bagi keberlanjutan industri sepakbola.


Referensi jurnal:

  • Dwyer, B., Drayer, J. (2010) Fantasy sport consumer segmentation: An investigation into the differing consumption modes of fantasy football participants. Sport Marketing Quarterly, 19(4), 207-216
  • Deshbandhu, A. (2019) Decoding Fantasy Football: a Ludic Perspective. Gamevironments, 85-116
  • Karg, A.J., McDonald, H. (2011) Fantasy sport participation as a complement to traditional sport consumption. Sport Management Review, 14 (2011) 327–346
  • Kotrba, V. (2019) Direct preferences of sports fans: Is there a superstar effect in the fantasy league? Journal of Behavioral and Experimental Economics, 78 (2019) 89–97
  • Lee, J. (2011) The effects of fantasy football participation on team identification and NFL fandom. LSU Master`s Theses. 1611. https://digitalcommons.lsu.edu/gradschool_theses/1611
  • Lee, S., Seo, W.J., Green, B.C. (2013) Understanding why people play fantasy sport: development of the Fantasy Sport Motivation Inventory (FanSMI), European Sport Management Quarterly, 13:2, 166-199, DOI: 10.1080/16184742.2012.752855
  • Schirato, T. (2016) Digital media, fantasy sport and the transformation of the contemporary field of sport, Communication Research and Practice, DOI: 10.1080/22041451.2016.1259972
  • Tacon, R., Vainker, S. (2017) Fantasy sport: a systematic review and new research directions, European Sport Management Quarterly, DOI:10.1080/16184742.2017.1347192
  • Wardale, D. (2018) Wasting Your Wildcard: The Method and Madness of Fantasy Football. Yellow Jersey Press. London.

Komentar