Ada Apa di Balik Bajumu?

Backpass

by Evans Edgar Simon Pilihan

Evans Edgar Simon

Death. Glory. Rock n Roll. Kontributor Pandit Football Indonesia.

Ada Apa di Balik Bajumu?

Seperti kata pepatah: sudah jatuh, tertimpa tangga; sudah kemasukan gol, masih juga harus melihat kesebelasan lawan bergembira. Menonton kesebelasan lawan melakukan selebrasi memang bisa terasa lebih mengesalkan dari perkiraan.

Oleh sebab itu, FIFA melalui IFAB (International Football Association Board) berusaha memberi batasan. Para pemain tidak boleh membuka baju terhitung sejak 28 Februari 2004.

Olahraga (terutama yang kompetitif) adalah permainan yang dijalankan berdasarkan peraturan-peraturan. Tanpa adanya aturan yang mengikat, maka olahraga tidak lebih dari sekadar masturbasi.

FIFA selaku otoritas tertinggi dalam sepakbola pun `merapikan` permainan secara bertahap sejak puluhan tahun silam. Mulai dari hal-hal teknis, seperti luas lapangan, ukuran bola, jumlah pemain, hingga hal yang kemudian dianggap sepele oleh banyak orang seperti perayaan gol.

Selebrasi merupakan bagian dari permainan. Bayangkan saja jika tidak ada satupun pemain yang melakukan perayaan setelah mencetak gol. Sepakbola tidak lagi sama.

Maka, FIFA merasa sudah sewajarnya jika ada aturan. Terdengar aneh memang, tetapi ternyata tidak sepenuhnya demikian.

Profesor psikologi olahraga Murray State University, Daniel Wann, membagi suporter ke dalam dua kelompok: highly identified fans dan weakly identified fans.

Seperti yang ditulis The Atlantic, highly identified fans adalah mereka yang menganggap tim olahraga sebagai bagian penting dalam hidup mereka. Adapun weakly identified fans adalah sebutan bagi mereka yang tidak terlalu mengikuti perkembangan tim olahraga yang disukai.

Bagi para suporter ini, tim kesayangan adalah bentuk identifikasi diri. Setidaknya demikian menurut profesor psikologi di Indiana University Bloomington.

"Orang-orang menjelaskan identitas diri mereka sebagai fans dari tim X," ujar Edward Hirt. Senada dengan Hirt, Wann mengatakan bahwa "seorang fans merasakan koneksi psikis kepada sebuah tim dan performa tim dilihat sebagai diri sendiri."

Mudahnya: yang kalah dalam sebuah pertandingan bukan hanya para pemain dari sebuah kesebelasan, melainkan juga para suporter. Ketika pemain lawan merayakan gol, suporter juga ikut merasa ada yang menari-nari di atas penderitaan mereka.

FIFA takut jika para pemain diberi kebebasan tak terbatas ketika melakukan selebrasi, mereka bisa memancing emosi tim lawan atau bahkan suporter lawan saat bertandang. Jika sudah demikian, besar potensi terjadinya insiden-insiden yang tak diinginkan.

Regulasi FIFA nomor 12 tentang Pelanggaran dan Kesalahan (Fouls and Misconduct) menulis pemain yang melepas baju harus mendapatkan kartu kuning. Tidak ada penjelasan rinci terkait alasan tidak boleh melepas baju, tetapi FIFA menganggap tindakan tersebut adalah tidak sportif (berlebihan dan dapat membuang-buang waktu).

Konspirasinya, FIFA tidak ingin momen berharga itu berlalu tanpa ada keuntungan bagi para sponsor. Maklum, meski FIFA tidak memiliki ikatan langsung dengan para sponsor yang berada di seragam klub, mereka tetap memiliki regulasi yang mengatur sejauh mana klub boleh menjadi iklan berjalan (baca regulasi FIFA terkait peralatan). Jadi, FIFA semacam memiliki tanggung jawab untuk menggelar karpet merah sepanjang-panjangnya dan semeriah-meriahnya bagi sumber pemasukan tersebut.

Lebih jauh, FIFA tidak ingin ada pesan-pesan beraroma politik lolos ke atas lapangan hijau. Mantan penyerang Liverpool, Robbie Fowler, pernah mendapatkan denda karena menunjukkan tulisan dukungan terhadap pekerja pelabuhan Liverpool yang dipecat di dalam seragamnya setelah mencetak gol ke gawang SK Brann pada 1997.

Terlepas dari segala pro-kontra mengenai hukuman melepas baju, patut diakui bahwa FIFA cukup visioner dengan peraturan ini. Setidaknya untuk para atlet laki-laki, ini bisa menghindari keributan di media sosial terkait rahim yang menghangat. Sementara untuk para atlet atau pesepakbola perempuan... ya, begitu, deh.

Komentar