Akankah Ada Juara Dunia Baru di Rusia?

Cerita

by Agung Putranto Wibowo

Agung Putranto Wibowo

hidup di sebuah negeri yang rakyatnya jago main sepakbola, tapi tidak pandai mengurusnya.

Akankah Ada Juara Dunia Baru di Rusia?

Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan berakhir mengejutkan karena mempertemukan Spanyol dan Belanda di partai puncak. Maklum, kedua negara sama-sama belum pernah merengkuh trofi Piala Dunia. Di Afrika Selatan, juara baru lahir. Bagaimana dengan Rusia?

Sejak diselenggarakan pada 1930, hanya ada dua kekuatan besar di Piala Dunia: Eropa dan Amerika Selatan. Dari 20 edisi Piala Dunia, wakil Eropa 11 kali keluar sebagai juara; sisanya dimenangi negara-negara Amerika Selatan. Jangan tanya di mana wakil Afrika, Asia, apalagi Oseania karena babak semifinal adalah target paling optimis yang dapat mereka capai.

Spanyol jadi negara terakhir yang menyandang predikat “juara baru” setelah Perancis pada 1998. Lantas, apa yang membuat kedua negara saat itu menjadi yang terbaik di Piala Dunia?

Kedalaman skuat dan pelatih mumpuni adalah modal utama, tapi hanya mengandalkan dua faktor itu saja belum cukup. Ketika Spanyol menjuarai Piala Dunia 2010, mereka tidak hanya dilatih oleh pelatih hebat dan kualitas para pemain yang merata, tetapi mereka juga berstatus juara bertahan Piala Eropa 2008. Ada mental juara yang kadung melembaga.

Skuat Spanyol saat juara pada 2008 dan 2010 tidak banyak berubah. Iker Casillas masih jadi pilihan utama di bawah mistar. Carles Puyol masih setia menggalang pertahanan. Di lini tengah, duet Andres Iniesta dan Xavi Hernandez masih sukses menjadi nyawa permainan Spanyol. Sementara itu di lini depan, Fernando Torres bergantian dengan David Villa untuk membobol pertahanan lawan.

Saat juara Euro 2008, Spanyol masih dilatih Luis Aragones. Kala itu Spanyol bermain dengan formasi 4-2-3-1 dengan memainkan Torres sebagai striker tunggal. Formasi itu seketika disalin oleh pelatih baru, Vicente del Bosque. Jeda waktu dua tahun antara Euro dengan Piala Dunia digunakan del Bosque untuk memadukan pemain-pemain baru dengan wajah-wajah lama. Tidak ada perombakan formasi sehingga pemain bisa langsung nyetel dengan gaya permainan khas Spanyol.

Ketika Perancis juara Piala Dunia 1998, kita tidak bisa tidak berkaca pada kejuaraan Euro sebelumnya, yakni Piala Eropa 1996 di Inggris. Memang pasukan Aime Jacquet tidak keluar sebagai juara, tetapi pencapaian Perancis di Inggris kala itu tidak buruk-buruk amat.

Tergabung di Grup B bersama Spanyol, Rumania, dan Bulgaria, Perancis jelas berada di grup neraka. Namun Zinedine Zidane dan kolega nyatanya sangup keluar sebagai juara grup dengan perolehan tujuh poin. Di babak selanjutnya tim berjuluk Ayam Jantan itu memulangkan Belanda lewat adu penalti setelah puas bermain imbang 0-0. Namun sialnya di babak semifinal justru Perancis yang dipulangkan oleh Republik Ceko lewat adu penalti. Padahal saat itu Perancis lebih diunggulkan untuk melangkah ke final.

Terhenti di babak semifinal karena adu penalti tidak membuat Jacquet dipecat. Pelatih berkacamata itu masih bertahan setidaknya hingga Piala Dunia 1998. Belajar dari kegagalan, dia merasa perlu menambah satu-dua pemain berkualitas di lini depan dan lini tengah. Jacquet segera memanggil duet penyerang muda AS Monaco, yakni Thierry Henry dan David Trezeguet demi kedalaman skuat. Sementara di lini tengah, Jacquet bertaruh dengan memanggil dan mengandalkan Emmanuel Petit.

Perpaduan pemain senior dengan junior terbukti ampuh. Perancis menjadi juara dunia di hadapan publik sendiri setelah menumbangkan Brasil di final dengan skor telak 3-0. Hari itu, dunia menyambut sang juara baru di Stade de France.

Sekarang mari kita mengacu ke Rusia dengan menggunakan pendekatan yang sama. Piala Eropa 2016 di Perancis dimenangi oleh Portugal. Kebetulan, Cristiano Ronaldo dan kawan-kawan belum pernah sekali pun merengkuh trofi Piala Dunia. Lantas, apakah serta merta Portugal bakal jadi juara dunia seperti Spanyol delapan tahun silam?

Berdasarkan uraian di atas, setidaknya ada tiga faktor penting untuk menjuarai Piala Dunia: kedalaman skuat, kualitas pelatih, dan mental juara. Khusus yang terakhir, tidak bisa diukur karena banyak yang menduga Perancis menjadi juara dunia 1998 karena tampil di rumah sendiri. Berbondong-bondong warga Perancis meninggalkan rumah mereka yang nyaman untuk berdesakan di stadion demi mendukung tim nasional. Hal itu tentu saja menjadi berkah tersendiri karena bisa jadi senjata untuk menjatuhkan mental lawan, sekaligus mempertebal mental Zidane dan kawan-kawan.

Bagaimanapun, Portugal datang ke Rusia dengan status juara Eropa. Hal itu bisa jadi senjata anak-anak asuh Fernando Santos. Ketika mereka tidak tampil di hadapan publik sendiri, setidaknya ada status itu yang bisa menebalkan keyakinan mereka di Rusia. Namun tampakya hal itu menjadi satu-satunya kemewahan Portugal.

Jika melihat kedalaman skuat, saya ragu Portugal bakal melangkah jauh. Portugal mungkin punya seorang Cristiano Ronaldo, tetapi mengandalkan satu orang saja tidak cukup dan mustahil menurut saya. Bahkan Maradona sekali pun tak memenangi Piala Dunia sendirian. Maradona kala itu ditemani oleh Jorge Valdano sebagai juru gedor mematikan saat Argentina berhasil menjadi juara Piala Dunia 1986.

Jika faktor kedalaman skuat yang dilihat, maka semua mata pasti tertuju ke arah Belgia dan Perancis. Oleh karena Perancis sudah pernah juara pada edisi 1998, maka potensi lahirnya juara baru kini berada di pundak para pemain Belgia. Di situ ada banyak sekali pemain dengan kualitas individu yang ciamik. Harus diakui, kekuatan Belgia rata di segala lini, mulai dari belakang sampai ke depan. Namun pada Piala Eropa 2016 lalu, Belgia hanya bertahan sampai babak perempat final. Mereka disingkirkan Wales, negara yang bahkan tidak lolos ke Rusia.

Kegagalan di Piala Eropa 2016 membuat Marc Wilmots dipecat. Alih-alih memanggil pelatih yang telah berpengalaman menangani tim nasional, PSSI-nya Belgia malah mengontrak Roberto Martinez untuk menggantikan posisi Wilmots. Di Rusia nanti, Martinez akan menjalani kejuaraan pertamanya sebagai pelatih tim nasional. Sebelumnya, pria asal Spanyol itu melatih klub-klub papan tengah Liga Inggris seperti Swansea City, Wigan Athletic, dan Everton. Satu-satunya kemewahan Belgia di Rusia hanyalah kedalaman skuat mereka.

Di belahan kekuatan lain, tepatnya di zona Amerika Selatan, hampir mustahil ada juara baru. Sebenarnya Chili bisa saja masuk daftar potensi lahirnya juara baru, tetapi juara Copa Amerika 2016 itu malah tidak lolos kualifikasi. Jatah Chili kemudian diambil oleh Peru yang sepertinya sulit untuk berbicara banyak di Rusia. Peru tergabung di Grup C bersama Perancis dan Denmark yang lebih diunggulkan untuk lolos fase grup.

Praktis tinggal Kolombia yang menjadi harapan wakil Amerika Selatan. Perlu diingat pada Piala Dunia 2014 di Brasil, Kolombia berhasil melaju hingga ke babak perempat final. Kejutan mereka kala itu harus terhenti oleh sang tuan rumah, Brasil.

Menarik diikuti kejutan apa yang akan tersaji di Piala Dunia 2018. Dari edisi ke edisi, Piala Dunia selalu mampu menampilkan kejutan. Mulai dari Korea Selatan pada 2002, hingga keberhasilan Spanyol 2010 silam yang menjadi juara baru. Satu hal yang pasti, dengan atau tidak adanya juara baru, Piala Dunia tetap seru untuk dinikmati.

Komentar