Sepatu Bola Pertamaku

Cerita

by Zen RS Pilihan

Zen RS

Board of director | Panditfootball.com

Sepatu Bola Pertamaku

Saya sudah kelewat jarang bermain bola. Impian menjadi pemain sepakbola sudah dikubur jauh-jauh hari. Kini saya hanya bisa bermain sepakbola dengan tangan yang mengetikkan huruf demi huruf, kata demi kata dan kalimat demi kalimat -- menuliskan sepakbola. Ya, saya menggunakan tangan untuk apa yang sudah terlampau sukar untuk dilakukan dengan kaki.

Rasanya belum terlalu lama saya masih mengangankan diri menjelma menjadi pemain sepakbola yang hebat. Seperti Marco van Basten [saya masih ingat pernah menuliskan kalimat "aku ingin seperti van Basten" di buku pelajaran sekolah saat kelas 5 SD], setidaknya bisa semahir Adjat Sudrajat. Membayangkan diri sendiri berlari mengejar bola di bawah tatapan puluhan ribu orang di San Siro atau diasuh oleh tempik sorak belasan ribu orang di Stadion Siliwangi.

Saya pernah merasa kalau angan-angan itu sudah agak dekat dari jangkauan tangan.

Saya lupa persisnya kapan, tapi kira-kira menjelang pagelaran Piala Eropa 1992, bapak membelikan saya sepatu bola. Saya sudah lupa dengan apa saya menebusnya. Seingat saya, benda-benda yang bukan barang kebutuhan sehari-hari [misalnya: sepeda] tak pernah mampir di rumah dengan cuma-cuma. Bapak selalu membelikan benda-benda macam itu sebagai imbalan atas sesuatu hal yang dengan baik saya lakukan. Entah itu menjadi juara kelas, entah itu khatam mengaji atau karena saya bisa berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan tanpa absen shalat tarawih. Nah, untuk sepatu bola itu, saya sudah tak ingat hal baik apa yang sudah saya perbuat.

Tapi saya masih ingat dengan baik sepatu itu. Warnanya hitam, terbuat dari kulit yang sangat keras. Alasnya putih, dan semuanya terbuat dari bahan plastik. Jumlah pul-nya ada 12, berwarna putih, dan semuanya terbuat dari bahan plastik yang juga keras. Di bagian belakang ada empat pul, di bagian tengah hingga depan ada delapan.  Di bagian samping, ada empat garis melintang miring dari atas ke bawah. Mirip seperti Adidas, bedanya: ini empat garis. Sudah jelas itu bukan Adidas. Merk sepatunya juga saya masih ingat: Super Cup!

Sebelum mulai menuliskan memoir kecil ini, saya sempat menggunakan mesin pencari untuk melihat lagi sepatu Super Cup. Tapi tak ada yang terjaring di mesin pencari. Saya lebih kerap menemukan sepeda motor lawas dengan nama yang sama.

Bapak memperlihatkan sepatu SuperCup itu menjelang maghrib, beberapa saat sebelum saya pergi ke langgar untuk mengaji. Rasanya luar biasa. Saya memegang, menimang dan mengelus-elusnya dengan begitu mesra. Saat itu, ingin rasanya segera berlari ke lapangan sepakbola yang jaraknya kurang dari 100 meter dari rumah. Tapi maghrib sebentar lagi tiba, dan seorang teman sudah menunggu di beranda untuk bersama-sama pergi ke langgar.

Selama di langgar, saya selalu ingin lekas pulang ke rumah, untuk apa lagi selain mengelus-elus sepatu itu. Malamnya, menjelang tidur, saya menaruh sepatu itu di atas kasur, di samping tubuh saya sendiri. Memandangnya lama dengan antusiasme yang tak terkatakan. Esoknya, saat di sekolah, saya sudah malas mendengarkan pelajaran yang disampaikan oleh Pak Uken Sukendar, guru saya di kelas. Waktu rasanya sangat lambat bergerak. Lekaslah datang, hai... kau sore hari!

Selepas sekolah, saya tak bisa segera bermain bola dan mengenakan sepatu. Sebab jam 1 siang, saya sudah harus berada di Madrasah Ibtidaiyah. Ya, selain sekolah di SD, saya juga menempuh -- istilah orang-orang kampung saat itu-- sekolah agama. Pelajaran di sekolah agama berlangsung hingga jam 4, dan begitu pelajaran itu usai, saya melesat berlari ke rumah.

Setelah menunaikan shalat Ashar -- saya akan "diseret" dari lapangan jika tak melakukannya-- saya pun pergi ke lapangan dengan menenteng sepatu bola itu. Rasanya bangga sekali, rasanya gagah betul. Saya menikmati proses berjalan dari rumah menuju lapangan saat itu. Berjalan tanpa alas kaki, saya menenteng sepatu itu dengan bahu yang ditinggi-tinggikan. Saya membayangkan seperti seorang pemain sepakbola yang baru turun dari bis dan lantas bergerak memasuki stadion diiringi tatapan mata kagum para penonton dan suporter.

Di lapangan sudah menunggu teman-teman sebaya. Mereka tidak kaget melihat saya datang dengan sepatu bola. Sejak malam sebelumnya di langgar, hingga di SD dan madrasah, saya sudah menceritakannya pada teman-teman. Mereka merubungi saya yang mengenakan kaus kaki dan sepatu dengan gaya anggun yang sudah pasti dibikin-bikin dan berlebih-lebihan.

Perlu diketahui, saya orang pertama di lingkungan sebaya yang punya sepatu bola. Kami tinggal di kampung, jauh dari kota, dan kebanyakan dari kami adalah keluarga petani yang cenderung mengabaikan [setidaknya untuk sementara] kebutuhan-kebutuhan sekunder seperti sepatu bola. Mereka tidak cukup punya keberanian hati untuk meminta sepatu bola pada orang tuanya masing-masing.

Saya bahkan masih ingat bagaimana rasanya pertama kali menyepak bola dengan kaki yang diselubungi sepatu bola. Saya menyepaknya dengan kaki kiri, bukan kaki kanan. Entah kenapa, demikianlah saat itu saya merasa, sepakan saya itu begitu kuat dan kencang. Untuk diketahui, saya bukan seorang kidal, dan terbiasa bermain bola dengan didominasi oleh kaki kanan, baik untuk menggiring, mengumpan atau menendang.

Sejak itu, saya lebih percaya diri dengan kaki kiri. Saya mulai melatih kaki kiri saya. Hingga masa-masa terakhir saya aktif bermain bola, di masa-masa kuliah, saya terbiasa menggunakan kaki kiri untuk menggiring dan mengumpan [terutama umpan-umpan pendek]. Saya merasa kaki kiri saya memang tidak sekuat kaki kanan, tapi rasanya kaki kiri saya punya akurasi yang lebih baik, juga lebih empuk untuk mengendalikan [kontrol] bola yang kencang sekali pun.

Sore itu saya bermain bola dengan sepatu super cup. Tidak sampai selesai, karena seorang teman hampir menangis karena tanpa sengaja terinjak oleh saya. Bukan hal mudah kaki telanjang terinjak oleh sepatu bola. Saya merasa tidak enak hati dan dengan mudah saya mengambil keputusan untuk melepas sepatu bola dan kembali bermain dengan telanjang kaki.

Karena itulah, di hari-hari berikutnya, saya tidak lagi menggunakan sepatu bola saat bermain dengan teman-teman sebaya. Kembali telanjang kaki. Jika ingin mengenakan sepatu bola, saya harus bermain dengan orang-orang dewasa di lapangan utama. Dan terlalu sulit bagi bocah yang masih duduk di bangku SD bermain dengan orang dewasa yang lebih kuat fisiknya. Saya hanya menjadi kurcaci yang akan sangat sulit bisa menyentuh bola.

Setelah duduk di bangku SMP, tepatnya menjelang Piala Dunia 1994, juga minggu-minggu persiapan menjelang turnamen 17an, saya mulai bergabung dengan orang-orang dewasa. Di fase itulah saya mulai rutin mengenakan sepatu bola. Akan tetapi, saat itu sudah bukan lagi sepatu merk super cup yang saya kenakan. Karena jarang digunakan, bapak kemudian memberikannya pada guru  muda yang mengajar di sekolah yang sama dengan tempat bapak mengajar. Saya tidak keberatan, karena memang sangat jarang saya memakainya. Toh bapak sudah berjanji, kelak saat memasuki bangku SMP, akan ada sepatu bola yang baru dan lebih bagus.

Sepatu bola kedua saya itu memang lebih bagus. Kulitnya lebih lunak dan pul sepatunya sudah terbuat dari karet. Sehingga telapak kaki saya tidak terlalu panas saat harus bermain dengan sepatu bola di lapangan kampung yang keras. Saya masih ingat merknya: kasogi. Tapi cerita dengan sepatu kedua ini merupakan cerita yang berbeda, masa yang berbeda, dengan alam pikiran yang juga sudah berbeda. Saat itu saya sudah remaja dan untuk fase ini saya sudah menuliskan pengalaman saya di esai yang lain yang berjudul "Kebahagiaan Sepakbola Agustusan".

Saya masih kadang merindukan sepatu bola pertama itu tadi. Sepatu bola berwarna hitam, dengan garis-garis melintang berjumlah empat, dengan tapak sepatu yang semuanya berwarna putih. Mungkin karena itulah saya tidak suka dengan sepatu bola masa kini dengan warna-warni yang rasanya aneh, dengan ngejreng yang menyebalkan, juga riasan-riasan dan motif-motif yang rasanya berlebihan. Kini saya masih punya sepatu bola, dan sudah pasti bukan sepatu bola dengan desain yang menggelikan macam itu.

Sepatu bola saya saat ini, kendati sudah sangat jarang dipakai, juga seperti sepatu bola pertama dulu: berwarna hitam, dengan telapaknya yang berwarna putih, juga dilengkapi dengan garis-garis putih melintang. Bedanya, pul-nya kini berwarna hitam, dan garis-garisnya kini berjumlah tiga, bukan empat.

Seperti kata penyair TS Elliot, setelah ke sana kemari melakukan pencarian, akhirnya tiap orang akan kembali bertemu dengan sebuah tempat di mana ia memulainya untuk kali pertama.

Komentar