Sejarah, Kemegahan, dan Meredupnya Derby Della Madonnina

PanditSharing

by Pandit Sharing

Pandit Sharing

Ingin menulis di PanditFootball.com? Kirimkan ke sharingpandit@gmail.com

1. Lengkapi dengan biodata singkat dan akun Twitter di bawah tulisan
2. Minimal 900 kata, ditulis pada file Ms. Word
3. Tulisan belum pernah dipublikasikan di media apapun (blog, website, forum, dll)
4. Tambahkan alamat lengkap dan nomor HP (tidak dipublikasikan)

Sejarah, Kemegahan, dan Meredupnya Derby Della Madonnina

Selamat datang di Derby Della Madonnina. Pertandingan yang mempertemukan dua rival sekota AC Milan dan Internazionale FC ini merupakan duel antar tim satu kota paling akbar di dunia.

Kedua tim adalah raksasa Italia dan Eropa yang telah menyarangkan begitu banyak trofi ke kota yang juga dikenal sebagai kota mode ini. di Jika melihat torehan gelar yang pernah diraih, kedua tim yang bermarkas di San Siro ini telah mengumpulkan 36 Scudetto (Milan 18, Inter 18), 12 Coppa Italia (Milan 5, Inter 7), 10 Liga Champions (Milan 7, Inter 3), 3 Piala UEFA (Inter 3, Milan 0,) 5 Piala Super Eropa (Milan 5, Inter 0) serta 2 Piala Dunia Klub (Milan 1, Inter 1). Dalam raihan scudetto, Milan hanya tertinggal dari Turin yang telah mendapatkan 37 gelar (30 Juventus, 7 Torino) dan di kancah Eropa, belum ada kota lain di eropa selain Madrid yang pernah merasakan datangnya trofi kemenangan Liga Champions ke kota mereka sampai 10 kali lebih.

Hal yang juga belum dapat disamakan oleh Lisbon, London, maupun Manchester yang juga memiliki dua klub besar di dalam satu kota. Selain itu, tidak sedikit juga pemain bintang dunia yang pernah bermain untuk kedua klub tersebut, nama-nama seperti  Ronaldo, Roberto Baggio, Clarence Seedorf, Hernan Crespo dan Zlatan Ibrahimovic pernah merasakan Derby Della Madonnina dengan seragam Milan maupun Inter. Ditambah lagi, rivalitas antar suporter yang saling berlawanan memenuhi curva nord dan curva sud San Siro, semakin memanaskan pertemuan kedua tim. Hal ini cukup membuktikan bahwa Milan adalah kota yang memiliki kultur dan prestasi besar dalam bidang sepakbola.

AC Milan merupakan salah satu klub sepakbola tertua di Italia. Awalnya klub ini didirikan dengan nama Milan Cricket and Football Club pada tahun 1899 oleh Herbert Kiplin dan Alfred Edwards yang berasal dari Nottingham, Inggris. Pada Tahun 1901 Milan berhasil meraih gelar Liga Italia pertama mereka dan kembali meraihnya pada tahun 1906 dan 1907 sebelum Pada tahun 1908, Permasalahan internal terkait penerimaan pemain asing terjadi di dalam tubuh Milan dan membuat satu pihak memisahkan diri dan membentuk klub baru yang sekarang kita kenal sebagai F.C Internazionale Milano. Sejak saat itulah rivalitas kedua tim ini bermula dan pertentangan antar keduanya tidak hanya melibatkan aspek sepakbola semata namun juga kelas sosial dan haluan politik.

Media sering menyebutkan ultras Milan sebagai pendukung politik sayap kiri yang berhubungan dengan paham sosialis sementara Ultras Inter beraliran politik sayap kanan yang berhubungan dengan Konservatisme atau Liberalisme. Suporter Milan dan Inter juga seringkali disebutkan berasal dari dua kalangan yang berbeda. Pendukung Milan mayoritas adalah penduduk kelas bawah yang bekerja sebagai buruh atau pekerja kasar sementara Inter didukung oleh masyarakat golongan menengah keatas. Hal-hal tersebut telah menjadi bumbu pedas yang memanaskan pertemuan kedua tim di lapangan dan persaingan mereka di liga setiap musimnya.

Setelah memisahkan diri, Inter memenangkan gelar liga Italia pertamanya pada musim 1909/1910 dan berkembang menjadi klub yang lebih kuat dari AC Milan yang setelah terpisah dari Inter tidak mampu menyamai prestasi di era sebelumnya dan lebih sering menjadi tim papan tengah. Setelah perang dunia kedua, Milan kembali menjadi tim kuat di Italia dan berhasil memenangkan scudetto pertama mereka dalam 44 tahun pada 1951. Pada masa itu, skuad Milan dihuni oleh sejumlah pemain-pemain hebat seperti Lorenzo Buffon, Cesare Maldini dan Trio penyerang asal Swedia: Gunnar Gren, Gunnar Nordahl dan Nils Liedholm.

Dekade 1960an adalah masa-masa paling megah dari Derby Della Madonnina. Pada periode ini, kedua klub asal Milan ini bukan saja menjadi tim yang terkuat di Italia, tapi juga di dunia. Nama-nama legendaris seperti Giacinto Facchetti, Sandro Mazzola dan Luis Suarez akan berhadapan dengan Cesare Maldini, Gianni Rivera dan Jose Altafini ketika Derby Milan digelar. Milan dan Inter kala itu dilatih oleh dua pelatih hebat yang hingga saat ini dikenal sebagai pelatih yang telah mempopulerkan kesuksesan strategi Catenaccio kepada sepakbola dunia, Nereo Rocco dan Helenio Herrera.

Bersama Nereo Rocco, Milan berhasil meraih gelar eropa pertama mereka setelah mengalahkan Benfica di final Piala Eropa 1963 dan kembali menjadi juara Eropa pada 1969. Di bawah asuhan Helenio Herrera, Inter menjalani periode terbaiknya yang kini dikenal sebagai era Le Grande Inter dimana mereka berhasil memenangkan Piala Eropa 2 kali secara beruntun di tahun 1964 dan 1965. Milan dan Inter bertemu di semifinal Liga Champions untuk pertama kalinya pada tahun 2003 di mana Milan berhasil melaju ke final dan menjadi juara setelah mengalahkan Juventus dan pada tahun 2005.

Keduanya melakoni salah satu pertemuan paling kontroversial mereka di leg kedua perempat final Liga Champions. Milan unggul terlebih dahulu lewat gol Andriy Shevchenko dan pertandingan pun menjadi semakin panas setelah gol dari Esteban Cambiasso di babak kedua dianulir oleh wasit. Objek dari tribun pun bertebaran ke lapangan dan pertandingan pun dihentikan setelah kembang api yang dilempar oleh suporter Inter mengenai kiper Milan, Dida. Setelah insiden tersebut tidak ada tanda-tanda kericuhan akan mereda dan wasit memutuskan untuk menghentikan pertandingan dengan memberikan kemenangan 3-0 kepada Milan.

Bergerak ke hari ini, tidak bisa disangkal bahwa Derby Milan tidak semegah yang dulu pernah disaksikan dunia. Saat ini Milan berada di peringkat 7 terpaut 11 poin dari puncak klasemen dan Inter berada lebih di bawah lagi yakni peringkat 9. Selain itu, kurangnya pemain bintang di kedua tim dan buruknya performa Milan dan Inter di kompetisi eropa selama 3 tahun terakhir membuat derby ini kalah pamor dari dari derby Manchester, London, maupun Madrid. Sungguh terasa ironis, pertandingan yang sejak dulu telah menjadi tontonan yang dinantikan dengan antusiasme tinggi oleh para pecinta sepakbola, kini menjadi sesuatu yang terasa kurang relevan untuk digembar-gemborkan sebagai duel dua raksasa. Derby Della Madonnina saat ini tidak memiliki faktor-faktor penarik di lapangan seperti yang dulu pernah membuat para pecinta sepakbola enggan melewatkannya seperti persaingan dua pemain kreatif Gianni Rivera dan Sandro Mazzola yang selalu berebutan tempat di tim nasional Italia. Andriy Shevchenko beradu ketajaman dengan Ronaldo, dua legenda hidup klub, Paolo Maldini dan Javier Zanetti yang saling berhadapan. Trio Belanda Milan Gullit-Van Basten Rijkaard bertemu dengan Trio Jerman Inter Brehme-Matthaus-Klinsmann dan kurang dari sepuluh tahun yang lalu kita masih bisa menyaksikan bintang besar seperti Zlatan Ibrahimovic, Luis Figo, Kaka dan Ronaldo berada di satu lapangan dalam pertandingan Derby Milan.

Daya tarik Derby Della Madonnina saat ini mungkin tidak sebesar yang pernah dirasa, Selain karena faktor kondisi sepakbola Italia yang tidak lagi berada di puncak, kedua tim memang belum memiliki skuat kelas dunia yang dapat disejajarkan dengan klub raksasa saat ini seperti Bayern, Madrid maupun Chelsea. Bahkan kekuatan klub seperti Atletico Madrid dan Manchester City punmasih terlihat lebih superior dibanding Milan dan Inter. Tapi, bagaimanapun Derby Della Madonnina masih memiliki daya tarik tersendiri terlepas dari kekuatan kedua klub saat ini. Gengsi dan panasnya persaingan antar suporter kedua klub yang telah lama berseteru masih akan terus ada dan sejarah kesuksesan kedua klub akan terus membayangi partai Derby ini.

Dikirim oleh:

Berry Choresyo

21 tahun. Meyakini kalau Sepakbola itu seluas lautan. Tidak hanya sekedar lari, rebut bola dan cetak gol.

Twitter: @berrychology

Komentar