Keterpaksaan yang Membentuk Kejeniusan Laurent Blanc

Backpass

by Agung Putranto Wibowo

Agung Putranto Wibowo

hidup di sebuah negeri yang rakyatnya jago main sepakbola, tapi tidak pandai mengurusnya.

Keterpaksaan yang Membentuk Kejeniusan Laurent Blanc

"Saya disuruh jadi bek? Wah, nggak, deh.”

Kalimat penolakan keluar dari mulut Laurent Blanc ketika Michel Mezy memintanya untuk bermain di area pertahanan sendiri. Mezy adalah mantan gelandang bertahan Tim Nasional Perancis era 1970-an. Setelah gantung sepatu, Mezy menjajal karier sebagai pelatih dan sebagian besar karier kepelatihannya dihabiskan untuk melatih klub Montpellier.

Pada 1990, Mezy melakukan keputusan penting dengan menggeser posisi Blanc dari tengah lapangan ke posisi belakang. Namun dia malah mendapat penolakan dari yang bersangkutan. Akhirnya sehari sebelum pertandingan, Mezy mendatangi loker Blanc dan mengultimatum: “Entah kamu bermain di posisi belakang atau tidak usah bermain sama sekali!” ucap Mezy dengan ketus.

Perlu diketahui, saat itu usia Blanc sudah 25 tahun. Pria kelahiran 19 November 1965 ini pun terpaksa mengikuti keinginan pelatihnya. Hal itu semata-mata agar masa depannya sebagai pesepakbola tetap aman.

Bagi Blanc, perpindahan posisi ini bukan yang pertama kalinya. Pada usia 15 tahun, dia ditolak oleh klub AS Monaco. Alasannya karena sebagai seorang striker, Blanc tidak begitu efektif di muka gawang lawan. Akhirnya dia dilirik oleh klub Montpellier. Namun alih-alih berposisi sebagai penyerang, dia malah sering bermain di wilayah tengah.

Dengan cermin kita dapat mengetahui rupa sendiri, tetapi dengan pandangan orang lain, kita dapat mengetahui apa saja yang tidak tampak. Dalam hal ini, Blanc mungkin melihat dirinya sebagai penyerang berbahaya. Namun pelatihnya merasa dia bakal lebih berguna di jantung pertahanan.

Tak butuh waktu lama untuk menyadari bahwa dia masih sanggup mencetak gol meski bermain di belakang. Pada musim 1990/91, musim pertamanya sebagai seorang bek, dia menorehkan 14 gol di Ligue 1. Ternyata posisi barunya itu membawa perubahan nasib. Tampil konsisten sepanjang musim sebagai bek tengah cukup membuat Napoli tertarik. Pada 1992, Blanc hijrah ke Italia sebagai seorang bek tengah. Itulah kali pertama Blanc menginjakkan kaki di luar wilayah Perancis.

Meski cuma semusim berkostum I Partenopei, Blanc setidaknya belajar tentang strategi bertahan. Perlu diingat, saat itu dia berada di Italia yang terkenal sebagai pabrik bek-bek kelas dunia—posisi yang akhirnya dia emban sampai pensiun pada 2003 di Old Trafford.

Pernah menjajal hampir setiap posisi di sepakbola—kecuali kiper—jadi modal utama Blanc meneruskan karier sebagai pelatih. Pada musim panas 2007, namanya terpilih sebagai pelatih baru Bordeaux untuk menggantikan Ricardo Gomes. Selama tiga musim membesut Les Girondins, Blanc dua kali masuk nominasi Manajer Tahun Ini. Bahkan di musim pertamanya, dia berhasil memenangkan penghargaan individu paling bergengsi untuk para manajer se-Perancis itu. Pada musim 2009/10, Bordeaux keluar sebagai juara grup di Liga Champions tanpa mengalami kekalahan. Patut diketahui, musim itu mereka tergabung bersama Juventus dan Bayern Munchen yang lebih berpengalaman di panggung Eropa.

Atas prestasinya itu, pihak FFF (PSSI-nya Perancis) sepakat mengontrak jasanya untuk melatih Timnas. Babak belur-nya timnas di bawah asuhan Raymond Domenech membuat FFF harus segera mencari pelatih baru. Sosok Blanc kemudian dipilih karena dianggap revolusioner. Namun relasi Blanc dan FFF hanya bertahan dua tahun. Blanc dianggap sebagai biang keladi kegagalan Perancis pada Piala Eropa 2012 di Polandia dan Ukraina.

Perancis saat itu hanya bertahan sampai babak perempat final. Mereka kalah dengan skor 0-2 dari juara bertahan, Spanyol. Padahal Blanc ditargetkan FFF untuk membawa tim minimal sampai ke babak semifinal. Blanc pun akhirnya diberhentikan pada 30 Juni 2012, atau satu hari sebelum laga final Piala Eropa dihelat.

Setelah hampir satu tahun jadi pengangguran, Blanc akhirnya mendapat pekerjaan baru. Kali ini sebagai pelatih Paris Saint-Germain (PSG). Pada 30 Juni 2013, dia menggantikan Carlo Ancelotti yang melanjutkan karier kepelatihan di Real Madrid.

Pada musim pertamanya, Blanc langsung mempersembahkan trofi Ligue 1 untuk PSG—hal yang tak bisa dilakukan Ancelotti di musim pertama. Selain itu, Blanc juga mengubah gaya permainan PSG menjadi lebih mengandalkan kualitas bek sayap.

Kedua bek sayap PSG adalah motor serangan. Kecepatan dan kemampuan mereka dalam melakukan umpan silang sungguh jadi momok. Blanc melakukan skema serangan seperti itu karena dia memiliki dua penyerang jangkung seperti Edinson Cavani dan Zlatan Ibrahimovic.

Sementara itu, Blanc tetap memperhatikan lini pertahanan PSG. Duet Thiago Silva dan David Luiz di jantung pertahanan saja tidak cukup. Untuk itu Blanc menyelipkan Thiago Motta sebagai ujung segitiga yang berguna mematikan serangan balik lawan, sehingga lawan akan berpikir PSG bermain dengan skema tiga bek. Perlu diketahui, skema tiga bek ini lazim digunakan klub-klub Italia dengan memaksimalkan peran libero dan sweeper. Sehingga skema ini bukan hal baru bagi Blanc mengingat dia pernah semusim di Napoli sebagai pemain.

Les Parisiens benar-benar memperkuat pertahanan mereka dan mencapai puncaknya di musim 2015/16. Saat itu di Ligue 1, PSG cuma kebobolan 19 gol dari 38 kali bertanding. Padahal di musim-musim sebelumnya mereka selalu kebobolan lebih dari 20 gol sejak Nasser Al-Khelaifi mengambil alih klub pada 2011.

Blanc menerapkan formasi 4-5-1 dengan menempatkan Ibrahimovic jadi satu-satunya pemain depan dan trio gelandang umumnya dalam bentuk melindungi empat bek. Para pemain sayap juga menawarkan dukungan defensif ke bek sayap. Kinerja bek sayap dibantu lebih banyak oleh gelandang tengah.

Adapun Marco Verratti memberikan dukungan defensif di sisi sebelah kanan untuk Serge Aurier atau Gregory Van der Wiel. Blaise Matuidi memberikan dukungan defensif di sebelah kiri kepada Maxwell atau Layvin Kurzawa. Baik Matuidi maupun Veratti merupakan pekerja keras. Jadi masuk akal menggunakan kekuatan bertahan mereka, yang pada gilirannya akan mengurangi tugas pertahanan bek sayap, sehingga membuat tugas bek sayap dalam membantu serangan jadi lebih efektif.

Orientasi ruang di wilayah tengah yang padat, sangat mungkin didapatkan ketika Blanc masih menjadi pemain tengah. Saat itu dia berperan sebagai jangkar. Dia sadar untuk memaksimalkan pertahanan, maka pemain tengah juga harus berani mengkaver area sayap. Dalam hal ini dia harus berterima kasih kepada Montpellier yang selama tujuh musim mengizinkannya bermain di area tengah lapangan sebelum ditarik ke belakang pada 1990.

Momen ketika Blanc dipaksa untuk berpindah posisi jadi bek pun bisa dianggap sebagai berkah alih-alih musibah. Buktinya dia bisa membawa PSG menjadi tim paling sedikit kebobolan di liga domestik. Wawasannya akan taktik jadi jauh lebih komplet dan tentu berguna sebagai pelatih.

Komentar