Hilang di Newcastle

Backpass

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Hilang di Newcastle

Awal karier Jon Dahl Tomasson di Newcastle United menjanjikan. Di masa pematangan taktik menyambut musim baru, Tomasson terbukti rekrutan tepat. Kehadirannya menyempurnakan taktik Kenny Dalglish. Jalan Newcastle di Liga Primer Inggris dan Liga Champions 1997/98 tampak mulus.

“Menyaksikannya dari jarak dekat pada pra-musim, [kami] melihat bakatnya yang menakutkan dan semua orang berpikir dia akan memberi dampak besar,” ujar Peter Beardsley, rekannya di Newcastle.

Lalu Alan Shearer cedera.

Dalam taktik Dalglish, Tomasson dan Shearer berpasangan. Shearer sebagai penyerang tengah, Tomasson beroperasi sedikit di belakangnya. Cedera pergelangan kaki yang menimpa Shearer membuat Tomasson dipasangkan dengan Faustino Asprilla. Tomasson tetap menjadi penghubung antara para gelandang dan penyerang yang menjadi pasangannya.

Seperti Shearer, Asprilla terpaksa menepi. Situasi ini memaksa Dalglish menjadikan Tomasson ujung tombak. Tugas pencetak gol utama pun dibebankan kepada penyerang berkebangsaan Denmark tersebut. Rangkaian penampilan mengecewakan dimulai.

Bukannya Tomasson asing dengan rutinitas mencetak gol dan tanggung jawab besar. Dengan 28 gol dalam dua musim, sumbangan Tomasson dalam keberhasilan Koge meraih dua promosi dalam dua tahun berturut-turut tidak sedikit. Jangan lupakan fakta bahwa Tomasson saat itu masih remaja. Usianya baru 16 tahun saat menjalani debut.

Tomasson tidak sempat mempersembahkan promosi ketiga, ke Superliga (divisi tertinggi), karena menyepakati kepindahan ke Heerenveen pada Desember 1994. Belanda mematangkannya. Tomasson terus berkembang. Bahkan sesama pemain mengakui kemampuannya.

Di musim semi 1997, lewat pemungutan suara dari para pemain Eredivisie, Tomasson meraih penghargaan Bakat Terbaik Belanda 1996, penghargaan tahunan untuk pemain muda terbaik. Peringkat kedua dan ketiga ditempati Giovanni van Bronckhorst dan Arnold Bruggink.

Beberapa hari setelah menerima penghargaan, trigol Tomasson ke gawang Vitesse Arnhem membawanya naik ke puncak daftar pencetak gol terbanyak, mengungguli Luc Nilis, Roy Makaay, dan Patrick Kluivert. Gol-gol Tomasson musim itu juga membawa Heerenveen mencapai final Piala Belanda pertama dalam sejarah klub.

Pada akhirnya Tomasson hanya menempati posisi dua top skorer Eredivisie dan di final Piala Belanda klubnya kalah. Namun itu tak jadi soal untuk Ajax, Atletico Madrid, dan Barcelona, beberapa di antara banyak klub peminat sang sang penyerang muda, yang pada akhirnya memilih Newcastle.

Yang jadi masalah, Tomasson belum bisa memainkan peran ujung tombak tapi Dalglish tetap memaksanya bermain paling dekat dengan gawang lawang. Di Koge maupun Heerenveen, Tomasson mencetak gol-golnya dengan tiba-tiba, mengejutkan pemain belakang dan penjaga gawang yang memusatkan perhatian mereka kepada pemain lain.

Permintaan Dalglish terlalu berat untuk Tomasson muda, yang saat itu baru berusia 21 tahun. Hasilnya hanya tiga gol dalam 30 pertandingan di Liga Primer Inggris dan Liga Champions 1997/98. Tidak mengejutkan karena ketidakcocokan Tomasson dengan pekerjaan yang dipercayakan kepadanya sudah terlihat sejak pertandingan pertama.

“Dia lolos sejak garis tengah tapi gagal [memaksimalkan peluang],” ujar Beardsley mengenang debut Liga Primer Tomasson, melawan Sheffield Wednesday. “Sejak hari itu dia tidak lagi sama. Andai Alan Shearer bugar kami mungkin melihat Tomasson yang berbeda, tapi anak itu seringkali harus bermain sendirian di posisi penyerang. Dia tidak beruntung.”

Menyalahkan Tomasson atas ketidakmampuannya sebenarnya tidak adil. Semua penyerang Newcastle musim itu tampil buruk. Gabungan jumlah gol Tomasson, Ian Rush, Shearer, Asprilla, dan Paul Brayson hanya 21. Shearer, pencetak gol terbanyak di antara para penyerang Newcastle saat itu, hanya mencetak tujuh gol.

Musim yang buruk di Newcastle membuat Tomasson tidak disertakan ke Piala Dunia 1998. Sang pemain pun memutuskan kembali ke Belanda, meninggalkan Newcastle di tahun pertama dari lima yang disepakati.

Di Feyenoord lalu AC Milan, Tomasson menemukan kembali kesempatan yang hilang di Newcastle. Dalam peran yang tepat Tomasson menjadi penentu kemenangan di final Piala UEFA serta ikut mempersembahkan gelar Eredivisie, Johan Cruijff Shield, Liga Champions, Serie A, Coppa Italia, dan Supercoppa Italiana. Dalam enam tahun sejak meninggalkan Newcastle, Tomasson mengangkat tujuh trofi sementara bekas klubnya tidak memenangi apa pun.

Komentar