Terima Kasih, Rusia...

Editorial

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Terima Kasih, Rusia...

Piala Dunia 2018 sudah berakhir. Akhirnya kita bisa liburan sejenak dari sepakbola. Selama semusim kita sudah disesaki oleh urusan kulit bundar, dari mulai pekan pertama 2017/18 sampai final Liga Champions UEFA 2018. Ternyata semusim itu masih tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan apa yang terjadi di Rusia selama sebulan ini.

Untuk pertama kalinya Piala Dunia diadakan di dunia benua; Eropa dan Asia. Rusia terlalu luas, sehingga mereka memutuskan 11 kota penyelenggara letaknya berdekatan; sembilan di Rusia bagian Eropa, sementara hanya dua di bagian Asia. Sebanyak 12 stadion menyajikan total 64 pertandingan bagi 32 kesebelasan.

Turnamen ini diawali dengan foto-foto Vladimir Putin di Moskwa dan diakhiri juga dengan foto-foto Putin—sampai khusus dipayungi saat penyerahan piala—di Moskwa, lagi-lagi.

Bagi tuan rumah, Piala Dunia 2018 adalah kesempatan untuk menunjukkan wajah baru Rusia.

Pangeran Arab Saudi, Mohammed bin Salman, terlihat berjabat tangan dengan Putin di pertandingan pembuka. Berikutnya ada banyak pejabat negara yang hadir di pertandingan-pertandingan Piala Dunia 2018. Di final, Presiden Perancis (Emmanuel Macron) dan Kroasia (Kolinda Grabar-Kitarovic) juga hadir.

Meski Rusia berusaha keras menampilkan wajah baru, hal-hal di atas tetap menunjukkan jika sepakbola tak bisa lepas dari politik.

Kejutan Dari Awal Sampai Akhir

Mengesampingkan politik, mari kita kembali ke atas lapangan hijau. Kapan lagi kita bisa melihat Argentina, Brasil, atau Jerman—tiga negara penguasa sepakbola—tidak bermain di semifinal? Itu terjadi untuk pertama kalinya sejak Piala Dunia 1930.

Siapa yang menyangka sang juara bertahan Jerman bisa tersingkir di fase grup sebagai juru kunci?

Di sebuah pertandingan perempat final, Brasil yang mencatatkan 27 tembakan harus kalah dari Belgia yang hanya mencatatkan 10 tembakan.

Spanyol yang digadang-gadangkan menjadi juara, malah mendapatkan bencana sebelum turnamen dimulai dengan pemecatan Julen Lopetegui.

Tak banyak yang yakin dengan permainan Perancis di mana mereka hanya bisa mencatatkan 11,6 tembakan per pertandingan (peringkat ke-15 di antara 32 kesebelasan) tapi malah menjadi juara.

Baca juga: Perancis Berjaya dalam Keberagaman

Tak banyak juga—malah hampir tak ada—yang memprediksi Kroasia bisa melaju hingga final dengan mengandalkan Luka Modric, seorang gelandang berusia 32 tahun yang akhirnya menjadi pemain terbaik turnamen.

Football’s coming home”? Itu hampir saja terjadi. Inggris melaju mulus bersama Gareth Southgate, dengan Ashley “Young” menjadi pemain “ter-old” di antara pemain-pemain ingusan mereka. Pada akhirnya, mereka menempati peringkat keempat dan football gagal coming home meski home-nya ternyata di Tiongkok, bukan di Inggris.

Itu semua adalah perintilan soal timnas-timnas di Piala Dunia. Bagaimana dengan catatan individual?

Tidak Ada Pemain yang Lebih Besar daripada Timnasnya

Sejak Diego Maradona mengangkat trofi Piala Dunia 1986 di Estadio Azteca (Meksiko), bisa dibilang Piala Dunia 2018 ini adalah Piala Dunia yang paling tidak individualis. Tidak ada one-man team yang berjaya. Tidak ada satu pemain pun yang menunjukkan kontrol penuh di atas kesebelasannya sendiri.

Empat pemain terbaik dunia—Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, Neymar, dan Mohamed Salah—pulang lebih dulu daripada Dejan Lovren dan Marouane Fellaini.

Messi dipersilakan mengontrol satu negara Argentina oleh pelatihnya, Jorge Sampaoli; Argentina tersingkir di babak 16 besar.

Ronaldo mencetak empat dari enam gol Portugal; Portugal juga tersingkir di babak 16 besar, sehingga tidak ada Ronaldo vs Messi di perempat final—yang bisa membuat jagad internet meledak.

Baca juga: Piala Dunia Bukan untuk Pemain Terbaik

Neymar banyak dibicarakan karena ia lebih banyak menghabiskan waktu “tidur-tiduran” di atas lapangan (meski fakta menunjukkan jika ia menjadi pemain terbanyak dilanggar dengan 5,2 per pertandingan); Brasil tersingkir juga.

Kondisi Salah terus diragukan sebelum pertandingan pembuka Mesir; ia pun tersingkir di fase grup, Mesir juru kunci.

Penjaga gawang terbaik dunia—David De Gea—hanya bisa mencatatkan satu penyelamatan padahal sepanjang musim melakukan 114 penyelamatan di Liga Primer Inggris bersama Manchester United.

Hugo Lloris yang sebelum final hanya kebobolan di dua pertandingan (satu oleh Australia dan tiga oleh Argentina); ternyata melakukan blunder di partai pamungkas.

Harry Kane meraih Golden Boot karena menjadi top skor dengan enam gol; tapi setengah dari semua golnya ia cetak dari titik putih.

Sebaliknya, Olivier Giroud yang selalu bermain (7 pertandingan) tanpa sekalipun mencatatkan gol dan tembakan tepat sasaran, malah berhasil mengangkat trofi Piala Dunia.

Banyak hal di luar nalar yang terjadi di Rusia selama sebulan ini.

Gol, gol, gol

Gol adalah hal yang paling ditunggu dari sepakbola. Kita patut bersyukur karena gol sangat berjodoh dengan Piala Dunia. Dari total 64 pertandingan, hanya satu pertandingan yang berakhir imbang tanpa gol (Denmark vs Perancis).

Piala Dunia 2018 juga menghasilkan 169 gol (rata-rata 2,64 gol per pertandingan), 70 di antaranya dari situasi bola mati, 29 penalti (22 di antaranya masuk), 11 di antaranya didapatkan dari VAR, banyak blunder penjaga gawang, serta 12 gol bunuh diri.

Baca juga: Serba Salah VAR

Piala Dunia 2018 menghibur? Itu sisi positifnya. Sisi negatifnya adalah bola Telstar dinilai bermasalah sehingga membuat penjaga gawang sulit melakukan prediksi ketika menghadapi tembakan.

Namun mengesampingkan Telstar, semua hal di atas—banyak gol, gol dari bola mati, gol penalti, VAR, blunder, dan bunuh diri—terjadi di final; seolah pertandingan Perancis 4-2 Kroasia ingin menjadikan pertandingan pamungkas sebagai bab kesimpulan.

Jika kita belum puas, di final ada bonus lainnya: pitch invader.

Akan tetapi meski Piala Dunia ini didominasi oleh bola mati, penalti, dan bunuh diri, bukan berarti tidak ada gol spektakuler di Rusia.

Bahkan tendangan bebas Aleksandr Golovin melawan Arab Saudi, knuckle-ball Ronaldo melawan Spanyol, dan Kieran Trippier di babak semi-final adalah tiga contoh gol spektakuler dari situasi bola mati (tendangan bebas) langsung.

Gol jarak jauh spektakuler juga merajalela mulai dari Philippe Coutinho melawan Swiss, Modric ke gawang Willy Caballero (Argentina), Jesse Lingard ke gawang tim debutan Panama yang wajah penjaga gawangnya mirip Gianluigi Buffon (jadi ingat Italia gak lolos, hiks), serta Angel di Maria ke gawang Lloris.

Jika harus memilih, kami mengerucutkan gol terbaik di antara dua ini: gol voli Nacho Fernandez ke gawang Portugal; atau voli brilian Benjamin Pavard ke gawang Argentina (kali itu gawangnya dijaga oleh Franco Armani).

Pulang

Hari ini, 16 Juli 2018, Piala Dunia 2018 sudah berakhir. Hugo Lloris mengangkat trofi Piala Dunia di bawah guyuran hujan di Luzhniki, Moskwa. Semua kesebelasan (kecuali tuan rumah) bisa pulang ke negara mereka masing-masing. Terima kasih, Rusia.

Untuk sejenak, kita bisa beristirahat dari sepakbola (Eropa).

Namun 21 Juli 2018, International Champions Cup akan dimulai. Tidak sampai satu pekan, kita sudah diajak bersiap menyambut musim baru sepakbola. Kemudian pada 11 Agustus 2018, Liga Primer Inggris juga dimulai.

Kemarin-kemarin linimasa kita dijejali Piala Dunia, besok-besok sudah dijejali hal-hal baru: berita transfer pemain, persiapan kesebelasan menyambut musim baru, pertandingan-pertandingan pra-musim, dan lain sebagainya.

Sepakbola hanya punya sedikit waktu luang. Di dalam kesempitan melalui kaki-kaki pemain di atas lapangan, taktik sepakbola juga terus berevolusi untuk terus mencari ruang. Sekarang kita tahu kenapa sepakbola belum juga bisa pulang...

Komentar