Kegemilangan Pogba Antarkan Perancis jadi Juara

Analisis

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Kegemilangan Pogba Antarkan Perancis jadi Juara

Pertandingan final Piala Dunia 2018 yang digelar pada Minggu (15/07) menghasilkan Perancis sebagai juara dunia yang baru. Perancis menumbangkan Kroasia dengan skor 4-2. Kemenangan Perancis tersebut seolah menyempurnakan pendekatan strategi Didier Deschamps yang melakukan segalanya demi meraih gelar juara.

Melawan Kroasia, Perancis seperti Perancis di laga-laga sebelumnya: tidak banyak menguasai bola, kuat dalam serangan balik, Antoine Griezmann sebagai joker, dan Kylian Mbappe memainkan peran penting di sisi kanan. Hal itu membuat Kroasia yang sebenarnya tampil impresif di laga ini tak mampu membendung ketangguhan Perancis yang kemudian meraih bintang keduanya Piala Dunia.

Kegagalan 4-4-2 untuk Mengantisipasi Sayap Kroasia

Kroasia mampu membalikkan keadaan di tiga laga fase gugur. Tertinggal lebih dulu, skuat asuhan Zlatko Dalic tersebut menyamakan kedudukan lalu melenggang ke babak berikutnya. Melawan Denmark dan Rusia dilalui dengan adu penalti. Perjuangan Inggris disudahi tanpa adu penalti.

Melawan Inggris, Kroasia mencetak dua gol dengan cara yang identik. Menyiasati kuatnya area tengah Inggris yang bermain dengan pola 5-3-2 saat bertahan, Kroasia mencecar pertahanan Inggris lewat serangan kedua sayap. Lantas gol Ivan Perisic jadi penyama kedudukan, memanfaatkan umpan silang Sime Vrsaljko dari sisi kanan. Gol Mario Mandzukic yang memanfaatkan serangan dari sayap kiri (melalui Ivan Strinic dan Perisic) jadi penentu kemenangan.

Kedua sayap Kroasia diwaspadai betul oleh Perancis. Deschamps memang tidak mengubah susunan pemain dari laga semifinal melawan Belgia. Tapi ada perubahan skema dan cara bermain dari beberapa individu. Yang paling kentara, pola 4-2-3-1 yang mulai digunakan sejak pertandingan kedua fase grup diubah menjadi 4-4-2.

Pada laga ini, Mbappe yang biasanya statis berada di dekat garis pertahanan terakhir lawan sering terlihat sejajar dengan N`Golo Kante dan Paul Pogba yang menghuni lini tengah. Blaise Matuidi yang sebelumnya memainkan peran defensive winger dipertegas pada laga ini.

Tapi ketangguhan sayap Kroasia membuat Matuidi kewalahan (total Kroasia mencatatkan 28 umpan silang pada laga ini, Perancis hanya lima kali). Kante menjadi pemain yang terdampak atas situasi ini karena biasanya ia terbantu impresifnya permainan Matuidi. Matuidi kalah cepat dari para pemain sayap Kroasia.

Perancis akhirnya kebobolan akibat situasi ini. Dalam dua situasi berdekatan, Kante melanggar Perisic karena terlambat meng-cover situasi serangan balik (Kante diganjar kartu kuning). Tak lama setelah pelanggaran olehnya, gol penyama kedudukan Kroasia terjadi. Perisic lagi-lagi merepotkan gelandang Chelsea tersebut sebelum akhirnya mencetak gol.

Situasi sebelum terjadinya pelanggaran pada Perisic, Kante awalnya fokus menjaga Modric

Penampilan Kante secara keseluruhan pada laga ini kurang maksimal. Apalagi lini tengah Kroasia yang dihuni Luka Modric, Marcelo Brozovic, dan Ivan Rakitic merepotkan gelandang Perancis lainnya lewat tekel-tekal agresif. Dari 28 kali kehilangan penguasaan bola, 14 di antaranya dilakukan gelandang Perancis (termasuk Mbappe dan Matuidi).

Pada babak pertama Perancis memang unggul 2-1. Tapi mereka unggul dengan hanya mencatatkan satu tembakan. Satu-satunya tembakan pun terjadi saat gol tendangan penalti Antoine Griezmann. Kroasia, sementara itu, melepaskan delapan tembakan. Secara permainan, Kroasia memang lebih unggul di babak pertama. Gol terjadi oleh tendangan penalti dan gol bunuh diri, keduanya lewat bola mati.

Paul Pogba Membebaskan Perancis dari Tekanan

Meski unggul pada babak pertama, situasi Perancis tetap tertekan. Ancaman dari kedua sayap Kroasia terus meneror Lucas Hernandez dan Benjamin Pavard sehingga mengisolasi keduanya di zona pertahanan sendiri. Trio lini serang yang biasanya mendapatkan bantuan dari overlap kedua full-back kesulitan. Kehilangan penguasaan bola Perancis banyak dilakukan oleh trio lini serang, Giroud dan Mbappe tujuh kali, Griezmann enam kali.

Tapi kejelian Deschamps dalam merespons situasi jadi penentu keberhasilan Perancis lepas dari tekanan. Pada menit ke-55, ia mengganti Kante dengan Steven N`Zonzi. Keduanya bertipikal sama, tapi N`Zonzi lebih lambat dari Kante.

Peran Kante yang biasanya menjadi jembatan antara lini belakang ke tengah (pada Pogba) dan depan tidak diemban N`Zonzi. Sebagai gantinya, Pogba-lah yang lebih sering menjemput bola. Walau begitu, ia tetap berperan sebagai box-to-box untuk membantu lini serang Perancis yang sejak babak pertama hanya mengandalkan tiga pemain saja.

Grafis sentuhan Pogba pada bola (via: whoscored.com)

Pada babak pertama, Pogba hanya 17 kali menyentuh bola dan 8 kali mengoper. Tapi perubahan skema yang dilakukan Deschamps membuat Pogba lebih banyak terlibat dalam membangun serangan. Pada babak kedua Pogba menyentuh bola 38 kali (dua kali lipat dari babak pertama) yang di antaranya 27 operan.

Gol yang dicetak Pogba, gol ketiga Perancis, merepresentasikan keberhasilan perubahan yang dilakukan Deschamps. Dalam situasi tertekan (meski menguasai bola), sebuah umpan Pogba membuat pertahanan Kroasia kocar-kacir. Lantas kemampuannya dalam memainkan peran box-to-box midfielder menyempurnakan serangan Perancis tersebut lewat tendangan kaki kiri yang merobek jala Danijel Subasic.

Gol keempat Perancis yang diciptakan Mbappe pun tak lepas dari peran Pogba. Ketika Griezmann gagal melancarkan serangan balik, ia memberikan bola ke Pogba yang masih berada di belakangnya.

Pogba lantas memainkan umpan-umpan pendek bersama N`Zonzi. Pogba juga yang mengoper bola pada Lucas Hernandez (yang kemudian melewati Mandzukic) dan meneruskannya pada Mbappe. Di situlah Mbappe menemukan ruang dan momen untuk mencetak gol.

Babak kedua memang menjadi panggung Pogba. Di akhir laga, ia menjadi pemain Perancis dengan operan terbanyak (35 operan). Ia juga berhasil melewati lawan sebanyak tiga kali, empat tekel berhasil dari lima kali percobaan, dan dua intersep. Golnya yang menjadi gol ketiga Perancis pun menjadi momentum Perancis kembali di atas angin setelah terus tertekan sejak babak pertama.

Tidak ada Opsi B dari Dalic

Dari 23 nama pemain yang dibawa pelatih Kroasia, Zlatko Dalic, ke Rusia, tidak semuanya bisa ia andalkan. Bahkan Dalic hanya mempunyai 22 pemain sejak pertandingan kedua setelah memulangkan Nikola Kalinic.

Jurang besar antara pemain utama dan pelapis cukup besar di skuat Kroasia. Dari 22 pemain, sebanyak empat pemain hanya bermain satu kali. Total tujuh pemain yang bermain kurang dari 100 menit. Susunan pemain terbaik hanya diubah saat menghadapi Islandia di laga terakhir fase grup (di mana Kalinic yang lain—Lovre Kalinic—bermain) dan babak 16 besar melawan Denmark.

Di laga final, Dalic pun tidak punya banyak opsi saat skuat utama Kroasia mulai tak bisa mengejar ketertinggalan. Hanya Andrej Kramaric (menggantikan Ante Rebic) yang secara taktikal tidak menurunkan kualitas serangan Kroasia. Marko Pjaca dimasukan mengganti Ivan Strinic pun dilakukan pada 9 menit terakhir, sebagai salah satu upaya menambah pemain depan yang biasanya sebagai pertanda skema all-out-attack.

Hanya dua pergantian pemain yang dilakukan Dalic pada laga final. Perancis sementara itu mengganti tiga pemain dan semuanya memberikan dampak positif. Selain N`Zonzi, Colentin Tolisso yang menggantikan Matuidi dan Nabil Fekir yang menggantikan Giroud tetap menjaga kualitas Perancis. Bahkan Fekir nyaris menambah keunggulan Perancis lewat tendangan keras dari luar kotak penalti.

***

Kroasia diakui atau tidak, merasakan kelelahan fisik pada laga final ini setelah menjalani 120 menit pertandingan di tiga laga terakhir. Apalagi melawan Perancis, mereka lebih banyak menyerang dan menguasai bola yang kemungkinan lebih menguras stamina. Perancis memanfaatkan tersebut melalui serangan-serangan balik, khususnya babak kedua, melalui kegemilangan Pogba.

foto: @frenchteam

Komentar