Sulap Terhebat Cazorla Adalah Kariernya Sendiri

Cerita

by Evans Edgar Simon

Evans Edgar Simon

Death. Glory. Rock n Roll. Kontributor Pandit Football Indonesia.

Sulap Terhebat Cazorla Adalah Kariernya Sendiri

Kepala Santi Cazorla tertunduk di lorong stadion Benito Villamarin pada April 2019. Eksekusi penaltinya pada menit-menit akhir pertandingan vs Real Betis baru saja gagal, membuat Villarreal kalah dan berada di ambang degradasi.

Upaya pelatih Javier Calleja menghibur sia-sia. Cazorla kadung larut dalam sedu sedan penyesalan; membayangkan kemungkinan dirinya menjadi penyebab Villarreal terdegradasi.

Bagi Cazorla, Villarreal adalah segalanya. Klub ini merupakan titik tolaknya meniti karier sebagai pesepakbola profesional. Klub ini pernah membuatnya sempat mengguncang Spanyol karena menolak tawaran Real Madrid. Ini merupakan klub yang menerimanya kembali dan-dengan penuh kebanggaan-disebutnya sebagai rumah.

Pergi Dua Kali, Pulang Tiga Kali

Ada masa ketika Cazorla bukan siapa-siapa bagi publik El Madrigal. Ia baru berusia 17 tahun enam bulan ketika menjadi bagian dari tim muda Villarreal pada awal musim 2003/04.

Meski pemain asal Llanera, Asturias tersebut promosi ke tim utama dalam hitungan bulan, debutnya hanya berlangsung selama satu menit (melawan Deportivo La Coruna pada 30 November 2003). Ia dipercaya tampil sekali lagi oleh pelatih Benito Floro ketika menghadapi Atletico Madrid pada 28 Maret 2004-kali ini, selama 65 menit. Namun, hanya sedikit yang berani memprediksi bahwa Ia akan tampil secara reguler di musim berikutnya.

Jika ada sosok yang memercayai sentuhan magis Cazorla, maka itu adalah mantan pelatihnya di Real Oviedo, Luis Sanchez.

"Santi langsung menonjol, sekalipun Ia bertubuh kecil. Ia bisa menendang bola dengan baik menggunakan kedua kakinya. Ia bisa melewati anda dari sisi manapun," tutur Sanchez seperti yang dikutip These Football Times. "Permainannya dinamis, istimewa. Talentanya alami."

Cazorla memang terbiasa menggunakan kedua kakinya untuk mengolah bola, bahkan sebelum para pelatih memintanya. Sejak kecil, Ia membiasakan diri menendang dengan kaki kiri dan kanan ketika berlatih bersama ayahnya.

Kendati demikian, bakat saja tidak cukup. Seorang pemain harus memberikan dampak positif bagi permainan tim secara keseluruhan di atas lapangan jika ingin terus dipercaya.

Cazorla sebenarnya cukup rutin mendapatkan menit bermain selama dua musim di bawah arahan pelatih Manuel Pellegrini, namun kesulitan memberikan nilai tambah bagi permainan Villarreal-apalagi, ketika itu, mereka masih memiliki Juan Roman Riquelme sebagai dirigen lini tengah. Ia dilego ke Recreativo Huelva dengan harga murah, yakni 600.000 Euro pada musim panas 2006.

Sedikit Cazorla tahu, kepindahan ke Recreativo menjadi titik balik dari kariernya. Menjadi starter dari pekan ke pekan memudahkannya mengasah kemampuan dan menunjukkan potensi besar yang dimiliki.

Cazorla membawa Recreativo yang baru promosi di awal musim 2006/07 finis di peringkat ke-8. Majalah olahraga Don Balon menganugrahinya dengan gelar Pemain Terbaik Spanyol.

Performa apik bersama Recreativo membuat Villarreal langsung mengaktifkan klausa pembelian kembali Cazorla sebesar 1,2 juta Euro. Setelahnya, Ia tak pernah kehilangan tempat sebagai pemain inti.

Membawa Villarreal, klub yang menghabiskan 50 tahun untuk bisa debut di La Liga, finis sebagai runner-up pada musim 2007/08 tentu bukan prestasi sembarangan. Cazorla dilirik oleh Madrid, namun baginya kemegahan Santiago Bernabeu tak lebih hangat ketimbang El Madrigal.

"Ada banyak hal dalam sepakbola selain Real Madrid. Mengatakan tidak kepada mereka adalah hal yang mungkin," ucap Cazorla. "Tak perlu diragukan lagi bahwa mereka adalah tim hebat, tetapi saya juga merasa sangat puas dan dihargai oleh Villarreal."

Seketika itu pula, nama Cazorla terpatri abadi sebagai pahlawan bagi suporter El Submarino Amarillo.

Adalah situasi yang kemudian memaksa Cazorla meninggalkan Villarreal ke Malaga pada 2012. Para suporter pun dapat memahami: bermain di Segunda jelas tak ideal bagi seorang bintang yang baru berhasil membawa Spanyol mempertahankan Piala Eropa.

Berbeda dengan kepergian pertamanya, Cazorla berjanji bahwa kepergian keduanya bukan `selamat tinggal, melainkan `sampai jumpa lagi`. Ia tak berbohong. Pada 10 Agustus 2018, Ia resmi kembali membela Villarreal, tetapi tidak ada satupun menyangka kepulangannya yang ketiga harus melalui tragedi.

Cazorla Adalah Keajaiban

Manajemen Villarreal merayakan kepulangan Cazorla secara istimewa. Ia diperkenalkan (kembali) melalui aksi sulap di tengah lapangan El Madrigal; sebuah tabung transparan kosong dipenuhi dengan asap, lalu entah darimana muncul Cazorla.

Aksi teatrikal ini senada dengan julukan yang dimiliki Cazorla: `The Magician` (Sang Pesulap). Julukan itu sendiri datang dari kemampuannya dalam mengoper dan menendang bola yang sering membuat para penonton berdecak kagum. Magis.

Permasalahannya, tidak banyak yang yakin Cazorla masih semagis dahulu kala. Usianya sudah kepala tiga. Belum lagi ditambah fakta bahwa Ia tidak bermain sama sekali sepanjang 2018/19 akibat cedera parah yang diderita.

Para suporter dan manajemen Villarreal-yang hanya memberikan kontrak selama satu tahun plus opsi perpanjang satu tahun-berekspektasi rendah. Cazorla sendiri tidak berharap banyak. Bagaimana tidak? Ia baru pulih dari cedera yang membuat tubuhnya menjadi seperti "kepingan puzzle" dan diminta dokter "bersyukur jika bisa kembali berjalan bersama anaknya di taman".

Cazorla memang hampir diamputasi akibat cedera achilles yang dideritanya. Ia menjalani operasi sebanyak 10 kali dalam kurun waktu satu tahun. Otot semitendinosus dari hamstringnya terpaksa dipotong untuk merekonstruksi tendon tumitnya yang sempat digerogoti bakteri.

Seluruh ekspektasi tersebut salah. Cazorla terlahir kembali, terutama setelah memborong dua gol ketika menghadapi Madrid pada awal Januari 2019.

Maka, tentu wajar jika Cazorla tak kuasa menahan kesedihan ketika kegagalannya mengeksekusi penalti dapat membuat Villarreal terdegradasi. Tentu, kita semua tahu, pada akhirnya, mereka finis di peringkat ke-14.

"Ia adalah satu-satunya hal baik (di Villarreal) musim ini. Jika sebelumnya Ia telah begitu dicintai, kini Ia semakin dicintai di sini," ucap reporter Radio Vila-real, Javi Mata, kepada Sky Sports. "Ia adalah seorang idola bagi para suporter. Ia membuat mereka kembali tersadar makna dari klub ini."

Cazorla tidak hanya kembali untuk Villarreal, melainkan juga untuk Spanyol. Ia menjadi starter dalam laga Kualifikasi Piala Eropa 2020 melawan Kepulauan Faroe pada 6 Juni 2019. Itu adalah pertama kalinya Cazorla membela tim nasional setelah 1.302 hari.

Terakhir kali bermain bagi La Furia Roja sebelum absen panjang akibat cedera, Cazorla mencetak satu gol untuk membantu timnya mengalahkan Inggris pada 13 November 2015. Pada 15 November 2019, Ia kembali mencatatkan namanya di papan skor dalam kemenangan 7-0 melawan Malta. Jika mampu mempertahankan performanya, bukan tidak mungkin Cazorla akan dibawa ke Piala Eropa 2020.

Video Highlights pertandingan kualifikasi Euro 2020

"Sekarang, saya melihat sepakbola dengan cara berbeda. Sebelumnya, saya tidak menikmati ketika berada di hotel, di bus dalam perjalanan menuju stadion," kata Cazorla kepada BBC tahun lalu. "Saya berjuang sangat keras selama dua tahun untuk bisa mendapatkan momen-momen seperti ini lagi. Saya akan mencoba menikmatinya dan memaksimalkan setiap detiknya karena saya tidak tahu berapa lama hal ini akan bertahan."

Sewajarnya, demikian juga dengan kita yang masih bisa menikmati Cazorla, hingga entah berapa lama lagi magisnya akan bertahan.

Komentar