Egy Maulana Menuju Gdansk, Kota Pelabuhan Primadona Para Imigran

Cerita

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Kontributor

Egy Maulana Menuju Gdansk, Kota Pelabuhan Primadona Para Imigran

Lechia Gdansk, kesebelasan asal Polandia yang terbentuk pada 1945, sebenarnya bukan kesebelasan besar di Polandia. Statusnya tak lebih dari tim medioker yang lebih sering merumput di divisi bawah Polandia. Pada musim 2017/18 di Ekstraklasa (kompetisi divisi teratas Polandia) Lechia Gdansk tengah terseok di urutan 12 dari 16 kontestan.

Prestasi terbaik Gdansk di Ekstraklasa adalah menduduki posisi tiga besar di tahun 1956. Sementara era keemasan Gdanskie Lwy ada di tahun 1983, saat berhasil meraih gelar juara di ajang Polish Cup. Prestasi berlanjut, setelah pada tahun yang sama menjuarai Polish Super Cup.

Dari sudut pandang prestasi, tidak ada yang terlalu spesial dari Gdansk. Meski begitu, Gdansk dikenal sebagai kesebelasan yang memiliki keterkaitan erat dengan sejarah kontemporer Polandia. Gdansk, sebagai kota asal Lechia Gdansk merupakan kota yang memulai perlawanan terhadap rezim komunis Jenderal Jaurzelski.

Setelah berakhirnya Perang Dunia II pada 1945, negara-negara Eropa berhaluan komunis di bawah pengaruh Uni Soviet menggelar pertemuan di Warsawa pada 1955. Dalam pertemuan tersebut, negara-negara komunis itu membentuk aliansi militer untuk menghadapi Sekutu melalui sebuah perjanjian yang dikenal dengan "Pakta Warsawa".

Sejak saat itu seluruh wilayah Polandia yang pada Perang Dunia II dikuasai NAZI pun menjadi wilayah yang sepenuhnya dikontrol oleh Komunis Uni Soviet. Satu ketika, terjadi perlawanan yang dilakukan masyarakat Polandia terhadap kontrol komunis di negara mereka.

Perlawanan tersebut dilakukan para buruh di galangan kapal di kota Gdanks, yang dikomandoi Lech Walesa. Walesa menjadi salah satu pendiri organ perlawanan bernama Solidarnosc (Solidaritas). Perlawanan para buruh tersebut menuai hasil pada 1989. Rezim komunis tersingkir dari pemerintahan Polandia.

***

Gdansk sebagai kota tak hanya dikenal sebagai daerah yang mempelopori perlawanan terhadap rezim komunis Soviet di Polandia. Gdansk dikenal pula sebagai primadona para ‘penjajah’.

Sejak berabad-abad silam, Gdansk menjadi kota yang sering diperebutkan oleh banyak negara. Sejarah mencatat, Gdansk pernah dikuasai Jerman, Polandia, dan Prussia (Kerajaan bangsa Jerman). Gdansk bahkan pernah menjadi kota bebas, lepas sama sekali dari Republik Polandia dan penguasa sebelumnya, Imperial Germany.

Perebutan takhta kekuasaan di Gdansk tak dimungkiri karena letaknya yang strategis. Gdansk merupakan wilayah pelabuhan yang terletak di pantai Baltik Polandia. Hal tersebut membuat Gdansk menjadi kota pelabuhan yang sering disinggahi banyak kapal dagang dari berbagai dunia.

Hal tersebut membuat pertumbuhan ekonomi di Gdansk berkembang pesat. Sebelum abad ke-20, Gdansk sempat menyandang status sebagai kota terkaya di Polandia, sebelum akhirnya status tersebut diambil alih Warsawa.

Berstatus sebagai kota pelabuhan, Gdansk pun menjadi salah satu destinasi favorit para pengungsi. Dilansir dari The Guardian, pada 2016, balai informal kota Gdansk memprediksi kota tersebut memiliki populasi sekitar 460.000 jiwa, dengan 15.000 di antaranya diperkirakan bukan penduduk asli Polandia.

Gelombang besar imigran di Gdansk telah terjadi sejak 25 tahun terakhir. Kebanyakan imigran yang singgah di Gdansk sendiri berasal dari Ukraina, Chechnya, Georgia, Suriah, dan Belarusia.

Sejatinya, sebagian kota di wilayah Polandia memiliki sikap penolakan terhadap gelombang pasang imigran yang semakin tahun meningkat jumlahnya. Namun Gdansk berbeda.

Walikota Gdansk, Pawel Adamowicz, selalu mengampanyekan Gdansk sebagai kota yang ramah bagi para imigran. Adamowich memiliki pandangan tersendiri mengenai sikapnya tersebut. Mengacu pada sejarahnya, sejak dulu Gdansk merupakan kota yang sering disambangi oleh imigran. Darah yang mengalir di Gdansk kental dengan nuansa pluralistik. Bahkan Adamowich sendiri bukanlah orang asli Polandia. Ia dilahirkan dari kedua orang tua yang berasal dari Lithuania.

"Saya memiliki dua setengah tahun lagi sebagai walikota dan itu adalah waktu yang cukup untuk mengubah sikap banyak orang. Penting bagi orang-orang berpengaruh untuk mendapatkan nilai-nilai positif Eropa. Kita harus mengambil pengungsi. Polandia itu miskin, tapi tidak separah Bulgaria atau Rumania,” terangnya.

Kampanye Gdansk sebagai kota yang ramah bagi para imigran tak semulus yang diperkirakan. Kebijakan Adamowich juga menimbulkan pro dan kontra. Kontradiksi dari kebijakan pro-pengungsi Adamovich kebanyakan disuarakan oleh kaum konservatif. Mereka khawatir, gelombang pengungsi yang besar di Polandia, khususnya di Gdansk, menimbulkan polemik tersendiri.

Dalam beberapa tahun terakhir, Polandia, khususnya Gdansk, banyak disinggahi pengungsi yang berasal dari wilayah negara musim. Ketakutan kaum konservatif Polandia mengacu pada tumbuhnya tindak-tanduk terorisme yang dibawa oleh pengungsi tersebut.

"Ketika orang mengatakan bahwa menyambut pengungsi seperti membuka kota kita kepada teroris Muslim, saya beritahu mereka agar tidak khawatir. Teroris jauh lebih tertarik pada ibukota besar Eropa daripada di Gdansk kecil,” tukas Adamowich.

***

Gdansk sendiri akan menjadi kota tempat salah satu pemuda paling potensial timnas Indonesia, Egy Maulana Vikri, merajut karier di sepakbola Eropa. Sempat dikaitkan dengan sejumlah kesebelasan Eropa, Lechia Gdansk akhirnya menjadi kesebelasan profesional pertama Egy. Egy akan diperkenalkan pada Sabtu (6/3).

Melihat profil kota Gdansk di atas, Egy tampaknya tak perlu khawatir menjalani hari-harinya di luar sepakbola. Gdansk dikenal sebagai kota ramah pada imigran, dalam hal ini Egy yang berasal dari luar Polandia pun tidak akan mendapatkan intimidasi atau hal-hal yang tidak diinginkan.

Yang paling utama, Gdansk merupakan kota pelabuhan dengan perkembangan ekonomi yang pesat. Jadi meski kesebelasan yang dibela Egy tidak populer, tapi Gdansk punya lingkungan yang mendukung perkembangannya baik itu di dalam maupun di luar lapangan. Buktinya, markas Gdansk, Stadion Energa, menjadi salah satu stadion mewah di Polandia; merupakan satu dari 8 stadion di Polandia yang termasuk ke dalam kategori 4 (stadion dengan fasilitas terbaik).

Baca juga:

Bukan Legia Warsawa, Klub Baru Egy Maulana Vikri: Lechia Gdansk

Egy Maulana Vikri Punya Siapa?

Egy Maulana Menuju Gdansk, Kota Pelabuhan Primadona Para Imigran

Egy Maulana, Lechia Gdansk, dan Kekuatan Sepakbola yang Mengubah Polandia Selamanya

Foto: chlebiwino.eu

Komentar