Kasper Schmeichel dan Bayang-bayang Sang Ayah dalam Dirinya

Cerita

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Kasper Schmeichel dan Bayang-bayang Sang Ayah dalam Dirinya

Buah tak jatuh jauh dari pohonnya. Begitu lah bunyi salah satu pepatah terkenal, yang bermakna seorang anak memiliki bakat yang sama dengan orang tuanya. Banyak sekali contoh yang dapat mewakili pepatah tersebut, tapi bagi Kasper Schmeichel, pepatah tersebut tak membuatnya senang.

Kasper sendiri hanya seorang kiper Leicester City, klub yang kini tengah menjadi pembicaraan karena berhasil menduduki peringkat pertama Liga Primer Inggris. Lebih dari itu, ia merupakan sosok kunci di Leicester, yang sejauh ini mencatatkan delapan kali clean sheet, 2,24 penyelamatan dan 92% sukses perebutan bola per pertandingan.

Tapi, melihat apa yang dilakukan Kasper musim ini di Leicester, semakin banyak orang yang membandingkannya dengan Peter Schmeichel, sang ayah kala membawa timnya saat itu, Manchester United, untuk juara. Kasper pun mengakui bahwa hingga kini ia masih dianggap anak kecil yang sering dibawa seorang legenda United.

Penilaian orang semacam itu lah yang tak diinginkan oleh Kasper, sebab ia merasa bukan orang yang mau dibandingkan, dan sama sekali berbeda dengan ayahnya.

"Hal ini (dibandingkan dengan Peter) semakin memburuk dari bulan ke bulan, saya bahkan tidak tahu mengapa saya terus dibandingkan. Beberapa orang bahkan menanyakan hal yang sama dalam setiap bulannya, dan saya tidak tahu mengapa mereka melakukan itu," ujarnya.

"Yang mereka lakukan tidak membantu karier saya, dan saya merasa hal ini malah merugikan. Saya bahkan pernah berpikir bahwa hal semacam ini lah yang membuat karier saya jatuh," imbuhnya.

Pernyataan Kasper memang benar adanya. Sempat digadang-gadang akan menjadi idola Manchester City, karier Kasper justru menurun karena tak mampu menggeser Andreas Isaksson dan Joe Hart, rekannya di tim junior City. Dipinjamkan adalah pilihan yang baik menurutnya, dan ia pun sempat berada di beberapa klub divisi bawah, di antaranya Darlington, Bury, Falkirk di Liga Skotlandia, Cardiff City, dan Coventry City, sebelum resmi memperkuat klub divisi tiga (League Two), Notts County di musim 2009/10.

Karier sepakbola Kasper pun membaik di Notts County. Keberadaan Sven Goran Eriksson yang menjabat sebagai direktur teknik menjadi salah satu alasannya. Nasihat-nasihat Eriksson bahkan membuatnya membukukan catatan apik saat di Notts, yang mana ia hanya kebobolan 29 gol dalam 43 pertandingan. Ia juga mencatatkan 24 kali clean sheet di musim tersebut dan berhasil membuat Notts County juara Football League Two.

Catatan impresif di Notts County membuat Kasper memilih hijrah ke Leeds United yang saat itu berada di divisi Championship. Tapi harapan Kasper untuk bermain apik di Leeds tak terwujud. Rekor apik saat di Notts tak dilakukannya di Leeds, hingga di akhir musim Leeds menerima tawaran dari Leicester untuk mendapatkan Kasper.

Musim 2011/12, Kasper kembali bertemu Sven Goran Eriksson yang saat itu melatih Leicester. Ia pun kembali tampil baik di bawah asuhan Eriksson, di antaranya 17 clean sheet dan menepis empat penalti. Rekor apik Kasper pun terus berlanjut hingga ia membawa The Foxes promosi ke Liga Primer pada musim 2013/14.

Keberadaan Leicester di Liga Primer sempat ditakutkan Kasper. Sebab, ia merasa bahwa semakin banyak orang mengenalnya, maka semakin banyak pula orang yang membandingkannya dengan sang ayah.

"Saya takut semua (yang dibacarakan tentang ayahnya) yang terjadi di City terulang kembali. Saya tidak tahu mengapa mereka melakukan itu, padahal menurut saya hal tersebut sangat membosankan. Mungkin mereka lupa saya pernah bermain di Liga Primer pada musim 2005/06," ujarnya.

"Semakin karier saya diketahui banyak orang, mereka akan membandingkan saya dengan ayah saya. Mungkin itu hak mereka dan terserah mereka tapi menurut saya ini tidak relevan, sebab kami bermain dengan gaya kami masing-masing," ucapnya.

Baca juga: Petualang Ayah dan Anak di Sepakbola

Ucapan Kasper memang benar. Performa Leicester yang menanjak di Liga Primer Inggris, tentu tak bisa dilepaskan dari namanya, meski mereka juga memiliki nama-nama lain yang tentu kontribusinya tak bisa dilupakan, seperti Jamie Vardy, Riyad Mahrez, NÂ’Golo Kante, dan Danny Drinkwater.

Saat ini Kasper sudah berusia 29 tahun, ia juga selalu bermain reguler untuk kesebelasan negara Denmark, sama seperti ayahnya. Sayangnya Denmark tidak berhasil lolos ke Piala Eropa 2016.

Ia menceritakan kala ia membuat empat penyelamatan gemilang saat bermain melawan Manchester City Desember lalu, yang mana sesudah pertandingan ada orang berkata: "Kamu bermain baik, tapi kamu tak akan bisa sehebat ayahmu."

Kasper menjelaskan bahwa hal itu selalu terjadi di setiap laga, namun ia mengaku sedikit melupakannya akhir-akhir ini dan memilih lebih fokus untuk pertandingan.

"Saya dan tim memiliki mimpi besar untuk menjadi juara. Meski mustahil, tapi kami berpikir jika kami berusaha maka kami akan menggapainya. Dan hal itu menjadi kenyataan, kami berada di jalur yang tepat untuk mewujudkan mimpi itu," ungkap Kasper.

Latar belakang pemain Leicester yang berbeda-beda pun diungkap Kasper sebagai alasan untuk sama-sama bekerja keras, dan ia mengaku bahwa latar belakang itu lah yang akan membuat mereka akan tetap tampil mengejutkan hingga akhir musim.

Komentar