Peran Sentral Valdivia dan Kontroversi Masa Lalunya

Cerita

by Abimanyu Bimantoro

Abimanyu Bimantoro

Football Analyst | Promising Sports Brand Strategist | Liverpool #YNWA

Peran Sentral Valdivia dan Kontroversi Masa Lalunya

Chili berhasil menjadi juara Copa America 2015 setelah mengalahkan Argentina melalui babak adu penalti. Sebagai tuan rumah, Chili berhasil menjalani kompetisi dengan sangat baik. Sejak fase grup, mereka menampilkan permainan yang sangat meyakinkan. Hanya satu pertandingan pada Copa Amerika 2015 ini yang gagal dimenangkan Chili yaitu saat melawan Mexico di babak grup yang berakhir dengan skor 3-3.

Beberapa pemain pun menjadi pusat perhatian setelah bermain sangat baik bersama Chili. Bintang asal Juventus, Arturo Vidal dianggap sebagai salah satu pemain yang menjaga keseimbangan tim di tengah. Pemain Arsenal, Alexis Sanchez selalu berhasil memberikan ancaman tersendiri bagi pertahanan lawan. Sedangkan penyerang QPR, Eduardo Vargas, berhasil membuktikan kualitasnya dengan menjadi topskor Copa America dengan 4 gol yang dicetaknya hingga babak final. Angka ini membuat Vargas memiliki jumlah gol yang sama dengan pemain Peru, Jose Paulo Guerrero. Kiper yang kini membela Barcelona, Claudio Bravo, juga berhasil mencatatkan 4 kali cleansheet dari 6 pertandingan yang dijalaninya selama turnamen Copa America kali ini.

Namun, terdapat satu nama lain pada skuat Chili yang tidak bisa diabaikan kontribusinya pada turnamen kali ini. Meski tidak setenar Alexis Sanchez, Arturo Vidal, Vargas, ataupun Claudio Bravo, namun pemain ini berhasil membuktikan kualitasnya setara dengan bintang-bintang Chili tersebut. Dia adalah Jorge Valdivia. Bermain di posisi gelandang serang, Valdivia berhasil menjalankan tugas sebagai kreator serangan Chili. Tiga asist yang dicetaknya di sepanjang turnamen membuatnya menjadi pencetak asist terbanyak bersama Lionel Messi dalam Copa America kali ini.

Valdivia adalah salah satu pemain senior di tim Chili pada Copa America 2015. Pada usianya yang sudah memasuki 31 tahun ini Valdivia sudah mengoleksi 63 pertandingan bersama tim nasional Chili. Meski begitu, namanya mungkin memang kalah tenar dengan bintang-bintang Chili lainnya pada Copa America 2015.

Di sepanjang karirnya, Valdivia memang hanya sebentar bermain di Eropa. Ia hanya sempat dipinjamkan ke Rayo Vallecano (Spanyol) dan Servette FC (Swiss) dari tahun 2004-2005. Selain itu, ia menghabiskan karirnya di Amerika Latin dan Uni Emirat Arab.

Musim lalu, bersama Palmeiras, Validivia sempat mengalami masalah. Ia harus menerima hukuman larangan bermain selama 12 pertandingan akibat dengan sengaja menginjak pemain Flamengo pada bulan September 2014 lalu. Hal ini kemudian membuat Valdivia hanya memainkan 4 laga dalam di musim lalu bersama Palmeiras. Ia pun tidak berhasil mencetak satupun gol maupun assist bagi Palmeiras.

Namun kondisi ini tetap tidak membuat pelatih Chili, Jorge Sampaoli mencoret nama Valdivia dalam susunan tim yang dibawanya ke Copa America 2015. Sampaoli memang juga membawa Valdivia saat mengani Chili di Piala Dunia 2014 lalu. Namun ketika itu, Valdivia hanya satu kali dipasang sebagai pemain inti yaitu saat pertandingan pembukaan melawan Australia. Sisanya, Valdivia hanya menjadi pemain penggati yang masuk di tengah-tengah pertandingan.

Pada Copa America kali ini, kondisinya berbeda. Valdivia menjadi pilihan utama Sampaoli untuk mengisi posisi gelandang serang Chili. Dan hasilnya pun sangat memuaskan. Tidak hanya mencatatkan diri sebagai pencetak asist terbanyak, Valdivia juga menorehkan catatan baik lainnya.

Valdivia memainkan peran sebagai pengatur serangan Chili yang berada di belakang dua striker Chili. Dari situ, Valdivia bertugas untuk menciptakan sebanyak-banyaknya peluang bagi kedua striker Chili tersebut. Dan tugas ini berhasil dijalankan dengan sangat baik oleh Valdivia.

Hal ini terlihat dari catatan keypasses Valdivia dalam 6 pertandingan yang mencapai 2,7 per pertandingannya. Angka ini menjadikan Valdivia menjadi pemain dengan catatan keypasses tertinggi pada Copa America 2015.

Peran sentral Valdivia pada Copa America kali ini memang tidak lepas dari cara bermain Chili yang ingin diperagakan oleh Sampaoli. Cara bermain ini memang secara tidak langsung seolah-olah dirancang untuk menjadi panggung bagi Valdivia.

Berbeda dengan Piala Dunia lalu di mana Chili lebih banyak memainkan formasi 3-4-2-1, kali ini Sampaoli lebih banyak memainkan formasi 4-3-1-2. Dengan formasi ini, Sampaoli menginginkan permainan atraktif yang terus menekan lawan di sepanjang pertandingan. Karena itulah ia membuat ketiga gelandangnya, Arturo Vidal, Charles Aranguiz, dan Marcelo Diaz, bermain melebar dan membuka area serangan hingga ke pinggir lapangan. Hasilnya, Chili memang tercatat sebagai tim dengan penguasaan bola tertinggi di Copa America 2015. Rata-rata mereka mencatatkan 68% penguasaan bola, lebih tinggi dari Argentina yang hanya 62%.

Lalu di mana peran Valdivia?

Jika kita lihat, formasi 4-3-1-2, membuat Chili tidak memiliki pemain di sisi sayap untuk menyerang. Gelandang mereka memang melebar ke kedua sisi, namun tetap saja tugas utamanya adalnya mengontrol lapangan tengah. Kedua fullback juga melakukan overlap, namun kedua fullback Chili tidak dijadikan media untuk aliran bola ke depan. Maka, dengan begitu, Valdivia sebagai gelandang seranglah satu-satunya jalan untuk menyambungkan aliran bola Chili dari belakang ke depan.

Hal inilah yang kemudian membuat peran Valdivia menjadi sangat krusial dalam permainan Chili. Kreasinya dalam mengatur serangan Chili akan sangat mempengaruhi mampu atau tidaknya Chili menciptakan peluang. Dan beruntungnya, Valdivia benar-benar berhasil menjalankan tugasnya tersebut.

Valdivia menjadi pemain yang membukakan jalan masuk ke jantung pertahanan lawan. Ditambah dengan kemampuan menggiring bolanya, Valdivia menjadi pemain yang sangat cocok memainkan peran ini. Ia bisa mengecoh satu atau dua pemain lawan terlebih dahulu, untuk menciptakan ruang kosong di jantung pertahanan lawan bagi rekan-rekannya. Hal ini terlihat dari catatan driblenya di Copa Amerika yang mencapai 2,5 kali per pertandingan.

Berbakat dan Kontroversial

Meski namanya tidak banyak terdengar, Valdivia sebenarnya adalah pemain berbakat yang sudah digadang-gadang sejak dulu. Kemampuan Valdivia diakui oleh legenda Kolombia, Carlos Valderrama, dan bahkan oleh legenda sepakbola asal Brasil, Pele.

Bersama Palmeiras, ia sempat mencatatkan penampilan gemilang di tahun 2006-2008. Ia pun bermain sangat baik saat membela Al-Ain di tahun 2009 dan menjadi pemain terbaik Liga Uni Emirat Arab ketika itu.

Namun ternyata, Suami dari model, Daniela Aranguiz, memiliki beberapa catatan kontroversial. Selain tindakan yang berujung larangan 12 pertandingan di musim lalu, Valdivia juga sempat bermasalah di tahun 2011. Ketika itu, ia dilarang membela tim nasional Chili selama 10 pertandingan.

Hal ini disebabkan karena Valdivia membuat pelatih Chili ketika itu, marah besar menjelang laga kualifikasi Piala Dunia melawan Uruguay. Bersama 4 pemain Chili lainnya, Arturo Vidal, Jean Beausejour, Gonzalo Jara, dan Carlos Carmona, Valdivia mengadakan pesta pembaptisan putrinya. Dikabarkan, dalam pesta tersebut Valdivia minum minuman keras hingga mabuk. Hal ini diketahui oleh Borghi dan membuatnya mencoret nama Valdivia dalam susunan tim.

Selain itu, Valdivia juga sempat melakukan satu tindakan konyol lainnya. Dalam satu pertandingan Liga Brasil ketika ia membela Palmeiras. Kamera menangkap dirinya tengah menghadap papan iklan di pinggir lapangan. Dari belakang terlihat Vadilivia mengangkat celananya dan berlaku seperti akan buang air kecil. Banyak orang kemudian beranggapan bahwa Valdivia memang sedang buang air kecil di pinggir lapangan.

Rekaman video yang tersebar pun cukup untuk membuat kehebohan atas nama dirinya. Namun ia menyangkalnya dan mengatakan bahwa saat itu ia hanya merasa nyeri di bagian paha sehingga sedikit mengangkat celanya.



Komentar