Pesona Jude Bellingham

Analisis

by Muhammad Farhan Yazid

Muhammad Farhan Yazid

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Pesona Jude Bellingham

Jude Victor William Bellingham tak pernah berhenti menunjukkan pesona yang dimilikinya. Puncaknya, gelandang berusia 20 tahun ini berhasil menyabet Golden Boy Award 2023 pada (05/12/23) lalu. Bellingham menjadi pemain Real Madrid pertama yang meraih gelar tersebut ketika membela klub ibukota Spanyol ini. Keberhasilannya ini tak lepas dari performa yang ia tunjukkan sepanjang tahun 2023.

Sejauh musim 2023/24 ini berjalan, ia telah berpartisipasi dalam 19 gol Real Madrid di semua kompetisi. Rinciannya, 15 gol dan 4 assist ia cetak dari 17 laga yang telah dijalani. Selain itu, Bellingham juga menjadi top skor sementara di La Liga dengan 11 gol.

Catatan golnya itu terbilang sangat fantastis untuk ukuran remaja kelahiran 2003 yang bermain di musim pertamanya di La Liga bersama El Real. Terlebih, Bellingham adalah seorang gelandang. Bukan striker.

Sebelum tampil fenomenal bersama Madrid, Bellingham memang sudah beberapa kali menunjukkan bakatnya yang luar biasa kepada dunia. Birmingham City adalah tim profesional pertama yang merasakannya.

Bellingham tercatat sebagai pemain termuda yang melakukan debut untuk Birmingham. Usianya 16 tahun 38 hari saat memulai dongengnya di St. Andrews. Dengan segala kualitas dan bakat yang dimiliki Bellingham, The Blues memutuskan untuk memensiunkan nomor punggung 22 yang identik dengannya di Birmingham. Harapannya, sang wonderkid bisa jadi inspirasi bagi pemain muda lain.

“Jersey nomor punggung 22 ini sudah identik dengan Jude. Ia dipromosikan ke tim utama saat baru berusia 16 tahun dan 38 hari dengan kualitas-kualitas yang dimiliki. Klub telah memutuskan bahwa akan sangat layak untuk memensiunkan nomor punggung [22 milik Bellingham] ini, untuk mengingatkan ia adalah salah satu milik kami sekaligus menginspirasi orang lain,” begitu bunyi pernyataan klub saat Bellingham memutuskan pergi ke Borussia Dortmund untuk mengasah bakatnya pada Juli 2020 lalu.

Keputusannya pergi ke Jerman untuk membela Dortmund membuat sinarnya semakin terang. Penampilannya yang konsisten dan luar biasa meski di usianya yang masih remaja telah mengejutkan pelatih-pelatihnya di Dortmund termasuk, Edin Terzic.

Terzic seringkali memberikan pujian kepada bintangnya itu. Karena yang mengejutkan adalah meski terbilang masih sangat muda, Bellingham sudah menawarkan kedewasaan yang dimilikinya. Dengan 132 penampilan bersama Dortmund di semua ajang kompetisi, ia berhasil meningkatkan mental dan kedewasaannya lewat pengalaman yang didapatkan tiap bermain. Terzic juga berpendapat bahwa yang mengerikan dari Bellingham adalah fakta bahwa ia masih bisa terus berkembang.

“Satu-satunya hal yang kita tidak tahu tentang Jude adalah batasannya. Dia adalah pemain berusia 19 tahun tertua di dunia,” katanya dalam konferensi pers setelah pertandingan Dortmund melawan Werder Bremen.

Disempurnakan Ancelotti

Kedatangan Bellingham di awal musim 2023/24, membuat pening Carlo Ancelotti dengan melimpahnya stok gelandang yang dimiliki Madrid. Namun dengan menjalani rantaian laga pramusim, Don Carlo akhirnya punya pakem yang cocok untuk menempatkan Bellingham pada skemanya.

Idenya jelas, 4-4-2 diamond yang sudah tak asing lagi dengan pelatih asal Italia ini, karena formasi ini pernah membawanya berkuasa di Eropa bersama AC Milan. Dengan menumpuk dan memaksimalkan stok gelandang tengah yang dimiliki El Real, 4-4-2 diamond menjadi sesuatu yang realistis. Karena di formasi ini, Bellingham bisa ditempatkan sebagai gelandang serang di belakang dua striker.

Menempatkan Bellingham sebagai gelandang serang ternyata bukan hal yang buruk melihat kesuksesan Madrid di awal musim ini. Padahal yang menonjol dari pemuda 20 tahun tersebut terutama di musim terakhirnya di Dortmund adalah aspek bertahannya.

Jika melihat statistik di musim terakhirnya di Signal Iduna Park, Bellingham memang menunjukkan bahwa ia adalah gelandang yang serba bisa. Namun dikutip dari The Analyst, Bellingham lebih condong menawarkan kestabilan di lini tengah dengan menetralisir serangan lawan sebelum masuk ke sepertiga akhir.

Di musim 2022/23, Bellingham memimpin jumlah rataan tekel berhasil untuk Die Borussen dengan 76 tekel. Dengan keahliannya membaca permainan, pemuda asal Inggris itu juga berhasil menciptakan 35 intersepsi terbanyak kedua di Dortmund dan hanya kalah dari Raphael Guerreiro (36) yang berposisi sebagai fullback kiri.

Bellingham yang punya kecepatan dan dribble bola di atas rata-rata melengkapi keterampilannya dalam memenangkan bola di lapangan tengah. Dengan kemampuan tersebut, membuat Bellingham mampu untuk melakukan transisi dari bertahan ke menyerang.

Hal tersebut terlihat dari Bellingham yang merupakan pemain yang banyak menyelesaikan dribble (88) di Bundesliga pada musim 2022/23. Kakinya cepat, dribblenya apik, dan dia juga punya senjata andalan berupa keeping bola dan melakukan fake shot seperti Riyad Mahrez.

Dengan kemampuannya tersebut, tak ayal Bellingham juga menjadi pemain ketiga yang paling banyak memenangkan pelanggaran di Bundesliga (73). Aspek menyerang Bellingham memang bukan yang terbaik, hanya saja sebagai gelandang dengan arketipe box-to-box, kemampuannya dalam membantu memenangkan lini tengah lebih dominan.

Hal inilah yang coba dimaksimalkan Ancelotti. Pelatih kawakan asal Italia tersebut berhasil mentransformasi Bellingham menjadi pemain yg berbahaya di kotak penalti. Don Carlo berhasil membantu Bellingham mengeluarkan potensi terbaiknya. Pergerakan dan naluri mencetak golnya pun tinggi.

Omong-omong Ancelotti. Ia adalah sosok dibalik ganasnya Filippo Inzaghi, munculnya Dominic Calvert-Lewin, dan meroketnya Vinicius Junior. Jadi, kualitasnya sebagai pelatih yang bisa membantu pemain mengeluarkan potensi terbaiknya tak diragukan lagi.

Keberhasilan Ancelotti mentransformasi Bellingham juga berhasil membantu meringankan beban Vini yang musim lalu menjadi pemain yang paling banyak dilanggar di La Liga dengan menerima rata-rata 3,7 pelanggaran per laga. Tak mengherankan lantaran segala aspek serangan Los Blancos berpusat padanya.

Vini yang perannya terbantu merasa senang bisa bermain bersama Bellingham. Ia juga mengatakan bahwa Bellingham memang lahir untuk bermain di Madrid. Dirinya juga berharap bisa bermain bersama selama bertahun-tahun ke depan.

“[Bellingham] dilahirkan untuk bermain di Real Madrid, untuk menandai sebuah era di klub terbesar di dunia,” kata Vinícius kepada Real Madrid TV. "Saya senang bisa bermain bersama Jude, salah satu pemain terbaik saat ini, di usianya. Kami semua senang dan para penggemar menikmatinya." ujar Vini dikutip dari ESPN.

Sejauh musim ini berjalan, Bellingham yang sudah mencetak 15 gol dan 4 assist untuk Los Blancos dari 17 laga yang sudah ia jalani di semua kompetisi. Hal ini cukup mengejutkan lantaran di musim terakhirnya bersama Dortmund Bellingham mencatatkan 14 gol dan 7 assist dari 42 penampilan.

Bellingham juga berhasil menciptakan beberapa rekor baru di Madrid. Pertama, ia berhasil melewati capaian gol para legenda (Cristiano Ronaldo dan Alfredo Di Stefano) dengan 14 gol di 15 laga awalnya bersama El Real. Tak hanya itu, ia juga menjadi pemain Madrid pertama yang berhasil mencetak gol di setiap laga Liga Champions yang ia mainkan sejauh ini (4 gol dari 4 pertandingan).

Kedewasaan

Melihat performa luar biasa Bellingham dan ketergantungan El Real dengan gol-golnya, sama sekali tak membuat Ancelotti khawatir, lantaran dengan kedewasaan yang dimiliki Bellingham, Ancelotti yakin pemainnya itu tau caranya bersikap.

“[Bellingham] sangat tenang, dia memahami momen ini,” kata Ancelotti. "Dia sadar bahwa dia bukanlah penyerang tengah, dia adalah gelandang serang, dan mencetak gol bukanlah tanggung jawabnya. Ketika saatnya tiba, dia akan berkontribusi pada tim dengan cara lain." tutupnya dikutip dari ESPN.

Sosok Bellingham memang memperlihatkan bahwa ia jauh lebih dewasa, jika dibandingkan dengan pemain lain yang seusianya. Hal ini terlihat dari begitu mudahnya ia menyatu dengan skuad. Dalam kasus lain, kedewasaannya ini diperlihatkan ketika ia membantu dan percaya pada rekan-rekannya yang sedang kesulitan di dalam lapangan, seperti ketika ia membantu Joselu mencetak gol di laga Liga Champions melawan Napoli (30/11/23).

“Ini tentang mendukung rekan satu tim Anda, teman Anda melewati batas. Kami tahu apa yang bisa dia lakukan ketika bola dikirim di area yang tepat. Malam ini dia menempatkannya beberapa lebar tapi itulah kehidupan seorang striker, penting bagi saya untuk mencarinya lebih dari apapun. Terutama di area lapangan itu. Saya sangat bahagia untuknya.” ucap Bellingham via ESPN.

Lewat ketenangan dalam bermain dan kedewasaannya di dalam maupun luar lapangan, membuat Bellingham kian berharga. Keberhasilannya meraih Golden Boy 2023 juga semakin menjadikannya salah satu bintang yang diperhitungkan perkembangannya saat ini dan di masa yang akan datang.

Satu Aspek yang Mengecewakan

Segala hal bagi Madrid dan Bellingham terasa kian sempurna sejauh ini. Namun, setelah semua pujian yang diraihnya, Bellingham justru membeberkan satu aspek yang mengecewakan dari dirinya.

“Saya hanya belum bisa berbahasa Spanyol. Maaf, tapi saya menemui kendala yang tidak terduga dengan bahasa ini. Sulit bagiku, aku akui. Bagaimanapun, saya berjanji komitmen maksimal, dijamin.” ucap peraih Golden Boy itu kepada media Italia Tuttosport.

Kendala bahasa rupanya menjadi satu hal yang mengecewakannya, karena sejauh ini ia mengalami kesulitan untuk berbahasa Spanyol. Hal ini cukup dimengerti lantaran di Madrid, penggemar dan media punya standar yang lebih tinggi termasuk dalam hal berbahasa Spanyol. Gareth Bale, salah satu legenda Madrid yang berasal dari tanah Britania Raya juga berusaha memberikannya nasihat.

"Saran terpenting jika di Real Madrid, adalah harus bermain. Kalau tidak bermain, ya lakukan apa yang media mau. Bicara pada mereka, intinya jadilah boneka. Jika tidak Anda akan di-bully habis-habisan," kata Bale via Marca.

Bale tentu sudah mengenal baik buruknya sepak bola Spanyol. Ia pernah dipuji berkali-kali, namun juga dijatuhkan berkali-kali. Dengan segala pengalamannya itulah ia mencoba membantu Bellingham agar bisa menjadi Galacticos yang tak hanya disukai klub dan penggemar, namun juga bisa menangani media.

Komentar