Tuduhan pada Juventus dan Seni Manipulasi Media di Italia

Editorial

by Ardy Nurhadi Shufi 195150 Pilihan

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Tuduhan pada Juventus dan Seni Manipulasi Media di Italia

Sepakbola Italia cukup panas di luar lapangan usai laga Juventus vs Inter, Minggu, 5 Februari 2017. Tudingan terhadap Juventus yang kerap dibantu oleh wasit kembali deras mengalir. Setelah pelatih Inter, Stefano Pioli, menganggap Inter seharusnya diberi dua penalti pada laga yang berakhir 1-0 untuk Juventus tersebut, kini giliran pemain AS Roma, Radja Nainggolan, mengeluarkan pernyataan pedas terhadap Juventus.

"Saya selalu membenci Juventus. Saya benci Juventus karena mereka selalu menang lewat tendangan penalti atau tendangan bebas. Saya datang ke Roma untuk mengalahkan Juventus, yang selalu mendapatkan pertolongan," kata Nainggolan pada video Corriere dello Sport seperti yang dikutip Football-Italia.

Berbicara mengenai gol tendangan bebas yang diciptakan Juventus, apa yang dikatakan Nainggolan cukup beralasan. Hingga pekan ke-23 Serie A, Juventus menempati peringkat kedua terbanyak dalam hal mencetak gol dari bola mati (termasuk sepak pojok) dengan 11 gol, sama dengan Atalanta. Jumlah gol tersebut hanya kalah dari Lazio yang mencetak 12 gol.

Namun Nainggolan juga perlu berhati-hati dengan ucapannya tersebut. Karena jika berbicara gol dari tendangan penalti, nyatanya Juventus musim ini hanya mencetak dua gol saja dari titik putih. Gol penalti terbanyak justru diraih oleh timnya sendiri, AS Roma, yang mencetak sembilan gol dari penalti, unggul jauh dari peringkat di bawahnya, Lazio, Sassuolo, dan Fiorentina, yang mencatatkan lima gol dari penalti.

Dari sembilan penalti tersebut, satu gol penalti berhasil memenangkan Roma, yakni ketika melawan Sampdoria. Kala itu Roma menang dengan skor 3-2, Francesco Totti yang menjadi algojo tendangan penalti pada menit 92 mengeksekusinya dengan baik. Selain itu Roma juga berhasil menang melawan Pescara di mana penalti Diego Perotti berhasil menjauhkan Roma untuk mengubah skor menjadi 3-1 sebelum diperkecil menjadi 3-2 empat kemudian lewat gol Gianluca Caprari.

Yang terbaru, Roma baru saja menang 2-1 atas Cesena di babak perempat final Coppa Italia. Dan kemenangan 2-1 tersebut didapat setelah eksekusi penalti Totti pada menit ke-90 membuat laga tak berlanjut ke babak tambahan. Roma berhasil melangkah ke semifinal Coppa Italia, untuk menghadapi Lazio, berkat penalti Totti.

Meskipun begitu, Juventus sendiri dalam dua penaltinya musim ini memang berhasil menorehkan kemenangan. Penalti pertama didapatkan saat eksekusi Miralem Pjanic ke gawang Atalanta mengubah skor menjadi 3-1 (skor akhir 3-2), satu gol lain ketika tendangan 12 pas Paulo Dybala ke gawang Udinese membuat Juventus membalikkan keadaan menjadi 2-1.

Polemik mengenai keberpihakan wasit pada sebuah tim seolah menjadi isu yang terus menerus dibahas di Italia setiap musimnya. Namun hal ini cukup diwajarkan karena isu ini bisa memberikan tekanan pada wasit, yang menjadi salah satu gaya dari sepakbola Italia. Mario Sconcerti, seorang redaktur senior harian Corriere dello Sport, seperti yang ditulis Franklin Foer dalam bukunya Memahami Dunia Lewat Sepak Bola, pernah berujar bahwa mengkritisi soal wasit merupakan bagian dari permainan manipulasi pers yang bisa memberikan pihak yang mengkritisi wasit tersebut mendapatkan `enam poin`.

Mendapatkan `enam poin` di sini artinya kritik wasit bisa membuat wasit yang akan memimpin laga pihak pengkritik dalam beberapa partai ke depan mendapatkan tekanan. Misalnya Perugia mengeluh soal wasit, maka wasit yang akan memimpin pertandingan Perugia beberapa pertandingan berikutnya akan mendapatkan tekanan berlebih. Dengan begitu, wasit bisa menjadi lebih lunak pada Perugia, bahkan memberikan keuntungan (baca: kemenangan) untuk beberapa pertandingan (bisa mendapatkan enam poin dalam dua pertandingan).

Begitu juga ketika Perugia menganggap, misalnya, Reggina sering diuntungkan wasit. Maka wasit-wasit yang akan memimpin laga Reggina akan mendapatkan tekanan sebelum dan sesudah laga. Tekanan-tekanan tersebut akan berpengaruh pada keputusan-keputusan yang akan diambilnya pada saat pertandingan.

Sconcerti pun mengakui bahwa ia pernah melakukan manipulasi ini. Pada tahun 2000, Sconcerti yang dikenal sebagai pemberontak dunia media Italia, mengecam sikap sepakbola Italia (lewat wasitnya) yang terlalu pilih kasih pada AC Milan dan Juventus, lewat pemberitaan-pemberitaan di Corriere, media yang dikenal keberpihakannya pada dua kesebelasan ibu kota, SS Lazio dan AS Roma [Simak pernyataan Lippi di halaman berikutnya]. Karena pemberitaan yang terus dibesar-besarkan itu, entah kebetulan atau tidak, pada 2000 dan 2001, Lazio dan AS Roma berhasil meraih scudetto.

Bersambung ke halaman berikutnya....

Komentar