Sepakbola yang Akan Mempersatukan, atau Malah Memisahkan?

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Sepakbola yang Akan Mempersatukan, atau Malah Memisahkan?

Sepakbola bagaikan dua sisi mata uang. Di satu sisi, ia bisa menyatukan berbagai orang yang berasal dari berbagai suku dan bangsa. Namun, di sisi lain, ia juga bisa menjadi sekat yang begitu kentara. Rivalitas dan tensi tinggi dalam sebuah pertandingan sepakbola dapat membuat orang-orang, bahkan yang satu keluarga pun, terpisah karena perbedaan pendapat ataupun pandangan yang mereka miliki.

Dalam suatu waktu, sepakbola dapat menjadi gelora semangat perlawanan yang dilandasi oleh persatuan, seperti yang kita lihat ketika Inggris melakukan aksi solidaritas terhadap Prancis yang negaranya mendapatkan serangan teroris pada 13 November 2015. Aksi tersebut seolah menekankan bahwa sepakbola adalah alat pemersatu yang ampuh.

Namun, dalam waktu yang lain, anda akan melihat Buenos Aires terbelah menjadi dua saat pertandingan Superclassico yang mempertemukan antara Boca Juniors melawan River Plate dilaksanakan. Hal itu mencerminkan bahwa sepakbola juga mampu menjadi sekat pemisah yang dalam, yang mengatasnamakan diri sebagai rivalitas.

Bukan tidak mungkin, sepakbola sebagai dua sisi mata uang yang berbeda akan terjadi dalam ajang Piala Eropa 2016 di Prancis dan juga ajang Copa America Centenario 2016 di Amerika Serikat. Ajang yang akan sama-sama digelar pada Juni 2016 ini dapat menjadi cermin, apakah sepakbola itu akan mempersatukan, atau malah memisahkan orang-orang.

Thierry Henry, pemain asal Prancis yang juga bagian dari generasi tim nasional Prancis yang menjuarai Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000 mengutarakan bahwa saat penyelenggaraan Piala Eropa 2016 adalah saatnya bagi rakyat Eropa untuk bersatu dalam satu nafas, yaitu sepakbola. Eropa yang akhir-akhir ini kerap menjadi sasaran serangan terorisme, utamanya yang terjadi di Paris dan Brussels, harus saling bergenggaman tangan untuk melawan aksi terorisme tersebut.

"Saya yakin, orang-orang akan datang ke stadion dan tidak merasa takut untuk menonton. Saya dan mereka, akan tetap datang ke stadion untuk menonton Piala Eropa," ujar Henry seperti dilansir Daily Mail.

"Pilihannya adalah menjadi takut atau tidak takut. Tak dapat dielakkan bahwa serangan yang terjadi di Prancis (Paris) dan Belgia (Brussels) adalah serangan terorisme. Namun, tak perlu takut akan hal itu. Saya yakin dalam ajang ini semua akan bersatu karena turnamen ini dibentuk untuk mempersatukan Eropa," tambahnya.

Namun, bukan tidak mungkin bahwa ajang Piala Eropa akan menciptakan rivalitas-rivalitas terselubung. Tak ada yang tak mungkin. Rivalitas ini kelak malah akan menimbulkan permusuhan antar negara. Apalagi ada beberapa suporter sebuah negara yang memang suka mengobarkan semangat rivalitas, seperti Inggris ataupun tim-tim dari wilayah Balkan contohnya.

Beruntung saja Belanda tidak lolos ke putaran final Piala Eropa 2016. Seperti yang kita tahu, Belanda memiliki sejarah rivalitas yang cukup kental dengan Jerman. Rivalitas inilah yang biasanya menjadi bumbu perpecahan, yang ujung-ujungnya memisahkan negara-negara yang ada tersebut.

Hal yang sama pun dapat juga terjadi dalam ajang Copa America Centenario 2016, ajang yang diselenggarakan untuk merayakan 100 tahun pelaksanaan Copa America. Dalam ajang ini, peserta tidak hanya terdiri dari negara-negara asal zona Conmebol saja. Negara dari zona CONCACAF juga disertakan dan penyelenggaraannya pun bukan di daerah Amerika Selatan. Ajang ini sendiri akan digelar di Amerika Serikat.

Seperti halnya Piala Eropa 2016, ajang ini pun digadang-gadang sebagai pemersatu sekaligus pesta sepakbola bagi masyarakat Amerika Latin dan Amerika Utara. Apalagi ini adalah pertama kalinya negara-negara dari CONCACAF dan Conmebol mengadakan sebuah turnamen secara bersama-sama, setelah Copa America hanya milik CONMEBOL, dan CONCACAF memiliki Piala Emas.

Sama halnya dengan Piala Eropa 2016 di Prancis, pertanyaan pun muncul. Apakah ajang ini tidak rentan akan rivalitas? Negara seperti Brasil dan Argentina, lalu ditambah dengan Uruguay dan Chile, seperti halnya negara-negara di Eropa, ajang ini pun akan disertai dengan para suporter yang tak segan untuk mengibarkan rivalitas, utamanya adalah Argentina dan Brasil. Dari rivalitas inilah, biasanya akan timbul perpecahan yang berujung pada permusuhan.

Memang benar, ajang seperti ini dapat digunakan sebagai sarana pemersatu bangsa-bangsa melalui sepakbola. Itu tidaklah salah, dan hal itu memang bisa dilakukan. Tapi ingatlah, dalam sepakbola juga ada sebuah rivalitas. Rivalitas ini tidak akan lepas karena itu adalah bagian dari sepakbola itu sendiri. Tak ada rival, maka tak ada lawan. Tak ada lawan, maka tak ada pertandingan yang dilaksanakan.

Jadi, sepakbola itu pemersatu atau malah jadi pemisah? Semua bergantung kepada anda bagaimana menyikapi hal tersebut.

foto: dekhnews.com, concacaf.com

ed: fva

Komentar