Kontribusi Douglas Costa Saat Jungkalkan Leverkusen

Taktik

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Kontribusi Douglas Costa Saat Jungkalkan Leverkusen

Bayern München bisa dibilang cukup beruntung saat menjalani pekan ke-3 Bundesliga. Lawannya, Bayer Leverkusen, bertandang ke kandang mereka dengan sisa-sisa tenaga. Setelah kalah dari SS Lazio di pertandingan leg pertama play-off Champions League 2015/16, Leverkusen tidak memiliki pilihan selain tampil mati-matian di leg kedua.

Leverkusen berada dalam situasi sulit. Di satu sisi, mereka harus mengerahkan seluruh kemampuan untuk mengalahkan Lazio dan lolos ke fase grup Champions League. Di sisi lain, jika mereka menghabiskan tenaganya pada pertandingan tersebut, besar kemungkinan Leverkusen akan kewalahan ketika melawan Bayern tiga hari setelahnya.

Leverkusen memilih untuk mati-matian pada pertandingan melawan Lazio dan menggunakan tenaga-tenaga tersisa di Allianz Arena. Skala prioritas Leverkusen dapat dimengerti; satu tempat di Champions League jauh lebih berharga ketimbang tiga angka Bundesliga. Dan hasilnya, Leverkusen yang mencukur habis Lazio tiga gol tanpa balas itu kalah telak dengan skor yang sama saat berhadapan dengan pasukan Pep Guardiola.

Terlepas dari faktor kebugaran lawan, Bayern München menang telak karena mereka menang segalanya. Mereka memiliki pelatih kepala yang lebih kaya taktik. Mereka memiliki pemain-pemain yang lebih baik. Dan yang terpenting, mereka memiliki Douglas Costa yang pada laga ini menebar ancaman dari sisi kiri serangan Bayern ketika Bayern menguasai bola. Tanpa bola, Douglas Costa membuat Stefan Kießling tak berdaya.

Dengan Stefan Kießling sebagai penyerang, Leverkusen memiliki peluang besar mencetak gol lewat sundulan. Ketiga pemain belakang Bayern – Philipp Lahm, David Alaba, dan Juan Bernat – bukan tandingan Kießling dalam umpan silang. Sayang, sepanjang pertandingan, Leverkusen hanya melepas dua umpan silang dari permainan terbuka. Sedikit banyak hal ini dipengaruhi oleh keberadaan Douglas Costa di sisi kiri serangan Bayern dan Arjen Robben di sebelah kanan.

Keberadaan Robben dan (terutama) Douglas Costa membuat kedua bek sayap Leverkusen, Roberto Hilbert dan Wendell Nascimento Borges, tak bisa begitu saja melakukan overlap dan mengirim umpan silang ke kotak penalti Bayern. Jika Hilbert dan Wendell tidak terlambat melakukan transisi dari menyerang ke bertahan setelah melakukan overlap, Costa dan Robben akan dengan leluasa merepotkan Jonathan Tah dan Kyriakos Papadopoulos serta mengancam gawang kawalan Bernd Leno.

Bayern München mencuri gol pertama dalam pertandingan yang sangat terbuka ini. Menerima umpan panjang dari Xabi Alonso (yang dalam pertandingan ini memainkan peran setengah bek setengah gelandang dan menjadi penghubung antara lini belakang dan lini tengah), Douglas Costa menggunakan sentuhan pertamanya untuk mendorong bola dan mengelabui Hilbert. Dengan sentuhan keduanya ia melepas sebuah umpan silang. Thomas Müller, si penerima umpan, hanya membutuhkan satu sentuhan untuk mencetak gol.

Ada perdebatan mengenai penampilan Douglas Costa di pertandingan ini: apakah ia benar-benar gemilang, atau apakah ia mendapat bantuan dari Hilbert yang tampil sangat buruk di pertandingan ini? Selain kalah dari Douglas Costa pada adu cepat dalam proses terciptanya gol pertama, Hilbert juga membuat Bayern mendapat dua penalti karena mendorong Arturo Vidal dan menyentuh bola dengan tangan.

Dengan penampilan Hilbert yang seburuk itu, sah-sah saja jika Douglas Costa disebut menikmati kemudahan. Di sisi yang berseberangan dengannya, Arjen Robben mendapat lawan tangguh bernama Wendell. Sepanjang pertandingan, Wendell melakukan 11 intersep. Menurut catatan Whoscored, sejak awal musim lalu (ya, sejak awal musim lalu) tidak ada pemain yang menorehkan catatan interception lebih banyak dari Wendell dalam satu pertandingan. Melawan Bayern, ia sebelas kali memotong umpan yang diarahkan ke wilayah yang menjadi tanggung jawabnya.

Walau demikian, tidak sepenuhnya benar jika alasan di balik kegemilangan Douglas Costa hanya buruknya permainan Hilbert. Gaya bermain Douglas Costa yang cepat dan direct membuatnya menjadi senjata mematikan melawan Leverkusen. Berbeda dengan Robben yang gemar meliuk-liuk dan berlama-lama menggiring bola.

Gaya main Robben membuat para pemain Leverkusen memiliki waktu untuk kembali bersiap dalam mode bertahan, memilih lawan mereka masing-masing untuk menetralisir ancaman Bayern dengan meminimalisir opsi umpan. Douglas Costa tidak demikian. Ia langsung menuju jantung pertahanan Leverkusen. Ia tidak memberi para pemain Leverkusen kesempatan untuk mengorganisir diri. Kemenangan atas Leverkusen ini pun tak lepas dari kontribusi pemain asal Brasil tersebut.

Komentar