Para Pemain Keturunan Tionghoa di Sepakbola Indonesia

PanditSharing

by Pandit Sharing

Pandit Sharing

Ingin menulis di PanditFootball.com? Kirimkan ke sharingpandit@gmail.com

1. Lengkapi dengan biodata singkat dan akun Twitter di bawah tulisan
2. Minimal 900 kata, ditulis pada file Ms. Word
3. Tulisan belum pernah dipublikasikan di media apapun (blog, website, forum, dll)
4. Tambahkan alamat lengkap dan nomor HP (tidak dipublikasikan)

Para Pemain Keturunan Tionghoa di Sepakbola Indonesia

Oleh: Rizki Maulana

Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan dari Indonesia. Frasa yang berasal dari bahasa Jawa Kuno ini kerap diterjemahkan dengan kalimat “Berbeda-beda tetapi tetap satu”. Secara kata per kata, Bhinneka Tunggal Ika diterjemahkan “Beraneka Satu Itu”, yang jika diresapi maknanya artinya adalah walau kita berbeda-beda tetapi pada hakikatnya Indonesia tetap satu kesatuan. Indonesia terdiri dari beraneka ragam agama, ras, budaya, adat istiadat, dan kepercayaan.

Kalimat ini merupakan kutipan dari sebuah kitab Jawa Kuno, yaitu kitab Sutasoma yang dikarang oleh Mpu Tatular pada abad ke-14 ketika zaman kerajaan Majapahit. Mpu Tantular menulisnya untuk mengajarkan sikap yang toleran antara umat Hindu Siwa dan umat Buddha.

Kalimat ini berasal dari sebuah kutipan pupuh 139 bait 5 yang berbunyi Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa yang memiliki arti “terpecah belahlah itu, tetapi satu jugalah itu”. Tidak ada kerancuan dalam kebeneran. Terjemahan dari kalimat ini diadobsi kecil pada teks kritis oleh Dr. Soewito Santoso.

Jika diresapi, makna dari kata ini dapat juga berlaku untuk dunia sepakbola, terutama pada zaman dahulu ketika etnis Tionghoa masih aktif menjadi bagian dari timnas Indonesia.

Sejarah Singkat Etnis Tionghoa dalam Sepakbola Indonesia

Etnis dari keturunan Tionghoa mempunyai sejarah yang sangat panjang di Indonesia, khususnya dalam bidang sepakbola. Etnis Tionghoa mulai bermunculan dan terlibat dalam sepakbola Indonesia seiring lahirnya klub sepakbola yang bernama Union Makes Strength (UMS) pada tanggal 19 Desember 1905.

Memang sejatinya sepakbola bukan hanya urusan menendang bola atau mengangkat trofi saja. Sepakbola dapat dijadikan alat pemersatu bangsa dan menunjukan identitas suatu bangsa. Pada 1938 ketika Indonesia menggunakan nama Hindia Belanda dan berhasil “mentas” pada ajang Piala Dunia yang digelar di Prancis, banyak nama-nama etnis Tionghoa yang bermunculan seperti Tan Mo Heng, Tan See Handi, dan Tan Hong Djien. Dalam ajang itu, Hindia Belanda (Indonesia) belum bisa berbicara banyak setelah dikalahkan Hungaria empat gol tanpa balas.

Legenda sepakbola Indonesia keturunan Tionghoa, Tan Liong Houw pernah melontarkan kalimat seperti ini “Jangan tanyakan masalah nasionalisme orang-orang Tionghoa. Kami siap mati di lapangan demi membela Indonesia melalui sepakbola,”. Kalimat penuh semangat tersebut ternyata bukan hanya sekedar omong kosong belaka.

Selesai pertandingan melawan Uni Soviet yang saat itu merupakan salah satu tim terkuat di dunia, kaos kakinya robek-robek demi menghalau gempuran para pemain Uni Soviet. Kala itu Indonesia bermain sama kuat 0-0 walaupun akhirnya pada pertemuan kedua tetap kalah 4-0.

Kisah tragis timnas di Asian Games 1962 memaksa Tan Liong Houw dan kawan-kawan mundur dari timnas Indonesia. Dalam laga menghadapi Yugoslavia, Malmo, Thailand, dan Vietnam Selatan timnas bermain buruk. Hal itu terjadi karena kasus suap yang menerpa 18 pemain timnas termasuk para pemain keturunan etnis Tionghoa, Pada 1970 sampai 1990 memang ada pemain keturunan Tionghoa yang tetap berkarier di dunia sepakbola. Namun, mereka tak sefenomenal pendahulunya dan kerap dijadikan pemain kelas dua.

Ketika Soekarno turun para pemain keturunan merasa terpojok. Situasi politik pada 1965 sudah tidak akrab bagi mereka dan memaksa mereka tidak mejadikan sepakbola sebagai pilihan

Menurut pernyataan Tan Liaw Houw yang dikutip dari Bayu Aji mereka banyak dikritik dan mengalami diskriminasi ketika bermain kurang baik. Diteriaki “Cina, Cina, Cina” begitu menyakitkan bagi pemain yang berperan penting untuk Indonesia di Olimpiade Melbourne 1956 tersebut.

Perbedaan Nasib Irvin Museng dan Sutanto Tan

Mari kita mundur 18 tahun ke belakang. Pada saat itu Prancis berhasil mengalahkan Brasil dengan skor 3-0 berbekal skuat multi rasnya. Sudah seharusnya Indonesia dapat berkaca pada Prancis yang kala itu diisi pemain seperti Zinedine Zidane, Lillian Thuram, dan David Trezeguet yang berbeda-beda rasnya.

Beberapa tahun ini nama-nama pemain keturunan etnis Tionghoa kembali berkiprah di persepakbolaan nasional seperti Irvin Museng dan Sutanto Tan. Mereka cukup mendapat perhatian dari para pecinta sepakbola Indonesia.

Nama Irvin Museng mencuat setelah dirinya muncul sebagai pencetak goal terbanyak Piala Dannone 2004 di Lyon, Prancis. Dirinya mencetak 10 gol dan berhasil mengantarkan Indonesia menduduki peringkat 11 dari 32 negara yang berpartisipasi. Efek dari prestasinya tersebut Irvin Museng berhasil menarik hati Ajax Amsterdam. Dia berhasil magang di Ajax Junior selama 9 bulan.

Irvin Museng pulang ke Indonesia dan memulai karier sepakbola profesionalnya di Pro Duta FC yang ketika itu berlaga di IPL. Selama tiga tahun di Pro Duta dirinya lebih akrab dengan cedera. Akhirnya pada 2013 silam ia mencoba peruntungan dengan mengikuti seleksi di Persiba Balikpapan dan dinyatakan lolos seleksi.

Tapi kurangnya keberutungan memang terlalu akrab dengan dirinya. Selama satu putaran berkostum Beruang Madu dirinya dipecat karena dinyatakan tidak banyak berkontribusi bagi tim. Hanya lima penampilan yang ia catatkan saat berseragam Persiba Balikpapan.

Ketika 2014 dirinya mengejutkan jagat sepakbola Indonesia. Pada tahun tersebut dirinya menyatakan pensiun dari dunia sepakbola Indonesia pada usia 21 tahun dan menjadi pengusaha di kampung halamannya Makassar.

Berbeda dengan seniornya, nasib Sutanto Tan bisa dikatakan lebih beruntung. Pria kelahiran 1994 ini memulai karier juniornya di klub Singapura Geylang United FC pada 2011. Dirinya berhasil mencatatkan sembilan gol dari 14 penampilan di S-League bersama Hougang United. Hal itulah yang menarik perhatian pelatih Indonesia U-23 Aji Santoso untuk memasukannya ke dalam skuatnya utuk persiapan kualifikasi Piala Asia U-23 di Jakarta.

Namaya sempat juga menarik perhatian pelatih U-19 saat itu Indra Sjafri, namun Along, sapaan akrab Sutanto Tan, dianggap gagal bersaing. Walaupun sempat gagal menjadi anak asuh Indra Sjafri di U-19, mereka sempat bekerja sama di Bali United Pusam.

Kini Sutanto Tan membela Persija Jakarta sama dengan Legenda Persija yang juga berasal dari Etnis Tionghoa Tan Liong Houw. Di usianya yang masih muda mungkin saja dirinya akan mampu mengulang kejayaan pesepakbola keturunan Tionghoa pada era 50 sampai 70an menjadi tulang punggung timnas Indonesia.

Tapi ketatnya persaingan di skuat Persija Jakarta yang banyak diisi skuat muda membuat nasib Along di Persija patut untuk dipertanyakan. Apakah ia akan sama seperti Irvin Museng yang layu sebelum waktunya atau dia berhasil mendapatkan gelar legenda di timnya sekarang seperti pendahulu-pendahulunya?

Apapun jawabannya kelak, setidaknya tampilnya Sutanto Tan memperlihatkan bahwa pemain keturunan etnis Tionghoa masih mampu berbicara di kancah sepakbola Indonesia, dan tidak mendapatkan perlakuan rasis seperti halnya para pendahulu mereka. Semoga ini tetap bisa berlanjut sampai nanti.

foto: rebutbola.com

Penulis adalah Mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpad yang tidak pernah berjalan sendirian seperti slogan Liverpool. Biasa berkicau dalam akun @rizmauu. Tulisan ini merupakan bagian dari #AyoIndonesia, mendukung timnas lewat karya tulis. Isi tulisan merupakan tanggung jawab penulis. Selengkapnya baca di sini: Ayo Mendukung Timnas Lewat Karya Tulis.

Baca Juga:
Sepenggal Cerita Tionghoa di Lapangan Sepakbola Indonesia
(Buku) Mengenang Tionghoa dalam Sepakbola Indonesia

Komentar