Mencari Mata Uang Sepakbola

Backpass

by Dex Glenniza Pilihan

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Mencari Mata Uang Sepakbola

Sepakbola dimainkan di seluruh dunia. Banyak transaksi yang melibatkan uang di olahraga ini, terutama saat pemain berpindah dari satu kesebelasan ke kesebelasan lain, dari satu negara ke negara lain, bahkan dari satu benua ke benua lain. Semua transaksi melibatkan uang.

Meski semua diikat dengan satu motif bernama “uang”, tapi tentunya tidak semua kesebelasan, negara, dan benua memiliki mata uang yang sama.

Dengan alasan kebanyakan sepakbola berkiblat pada Eropa, maka ketika euro (€) diperkenalkan ke pasar finansial dunia sebagai mata uang pada 1 Januari 1999, sepakbola seolah memiliki mata uang mayoritas.

“Kamu berurusan dengan banyak negara, bahasa, dan zona waktu,” kata Lyle Yorks, agen yang mewakili sejumlah pesepakbola top, dikutip dari The New York Times. “Hanya mencoba menyinkronkan semua hal gila, tetapi entah bagaimana kamu harus menemukan cara untuk membuatnya (transaksi antar pihak di berbagai negara) bisa berjalan.”

Sebagai perbandingan, menurut Business Insider, euro adalah mata uang yang paling banyak diperdagangkan kedua di dunia setelah dolar Amerika Serikat. Tinjauan European Central Bank pada Agustus 2018 bahkan menunjukkan jika mata uang ini memiliki sirkulasi lebih dari 1,2 triliun euro, yang membuat peredaran euro melebihi dolar AS di dunia.

Soal pengguna, euro juga menjadi mata uang di 19 negara Uni Eropa, dengan beberapa negara memiliki liga sepakbola terbaik di dunia seperti La Liga Spanyol, Bundesliga Jerman, Serie A Italia, Ligue 1 Perancis, Eredivisie Belanda, Liga Primeira Portugal, dan Liga Pro Belgia. Belum lagi jika kita menghitung semua transaksi yang berlangsung di divisi-divisi di bawahnya. Mungkin hanya Liga Inggris (menggunakan paun) yang tak menggunakan euro, apalagi setelah peristiwa Brexit.

Melihat data-data di atas, apakah kemudian euro dinilai sangat cocok mewakili mata uang sepakbola? Kalau persepsi sepakbola terbaik ada di Eropa (termasuk Inggris), maka euro cocok menjadi mata uang sepakbola (kecuali Inggris).

Memangnya Perbedaan Mata Uang Bisa Menimbulkan Masalah?

Perbedaan mata uang bisa menimbulkan masalah pada transaksi, termasuk di sepakbola. Untuk memahaminya kita bisa mengambil contoh mata uang euro (€) dengan paun (£).

Baca juga: Kenapa Pesepakbola Membutuhkan Agen?

Nilai tukar paun ke euro mewakili persilangan antara dua ekonomi terbesar di Eropa, yaitu Inggris Raya dengan Eropa daratan (khususnya Uni Eropa). Area-area ini sangat sensitif terhadap perubahan kebijakan moneter antara Bank of England (bukan Gordon Banks) dan European Central Bank.

Jika paun lebih kuat dari euro, berarti daya tawar kesebelasan-kesebelasan Inggris pun lebih besar dalam membelanjakan uang mereka, terutama untuk membeli pemain asing dari Eropa daratan. Hal ini juga dikritisi banyak pihak, karena harga pemain Inggris rata-rata lebih mahal 20-23% menurut EPL Index, yang tentunya terjadi karena mata uang paun lebih kuat daripada euro. Pada akhir 2018 misalnya, nilai konversi £1 (paun) sama dengan €1,11 (euro).

Hal ini berdampak pada harga pemain. Misalnya (ini hanya contoh, bukan nilai sebenarnya) nilai release clause Paulo Dybala yang tertera saat ia menandatangani kontrak di Juventus pada Juni 2015 adalah €150 juta (hampir Rp2,5 triliun pada akhir 2018) —tanda tangan kontrak menggunakan euro, bukan mata uang lain.

Pada Juni 2015, nilai konversi £1 sama dengan €1,36. Jika Dybala ditebus saat itu juga, maka harganya adalah sekitar £110 juta. Namun jika Dybala ditebus pada musim dingin 2019, maka harganya adalah sekitar £135 juta.

Contoh di atas menggambarkan jika dengan harga klausul pelepasan yang sama, kesebelasan-kesebelasan Inggris secara umum akan membeli Dybala lebih murah pada musim panas 2016 dibandingkan pada musim dingin 2019.

Pada kenyataannya, perbandingan antar mata uang sempat menjadi perdebatan ketika Ederson Moraes pindah dari Benfica ke Manchester City pada Juni 2017.

Saat itu Ederson ditebus dengan harga £35 juta (€40 juta). Kalau menggunakan mata uang paun, Ederson adalah penjaga gawang termahal dunia pada saat itu, mengalahkan Gianluigi Buffon (£33 juta) pada 2001. Namun jika menggunakan mata uang euro, Buffon masih lah penjaga gawang termahal saat itu karena harga kepindahan Buffon pada 2001 adalah €51,646 juta.

Fakta bahwa Liga Primer adalah turnamen yang paling berpengaruh dan yang paling menarik dalam hal uang (tetapi tidak untuk talenta pesepakbolanya), maka itu akan semakin membuat harga pemain dari Liga Primer —terutama yang berkebangsaan Inggris— terus melonjak.

Baca juga: Transfermarkt dan Cepatnya Berita Bohong Tersebar

Jika itu terus terjadi dan selama paun lebih kuat dari euro, maka Liga Primer akan lebih banyak kedatangan pesepakbola bintang daripada kehilangan pesepakbola bintang, yang secara positif membuat Liga Primer semakin glamor, tapi di sisi lain juga membuat talenta-talenta Inggris terus tersia-siakan, kecuali talenta-talenta tersebut pindah prematur ke Eropa daratan.

Andaikan tidak ada Brexit...

Apakah Ada Alat Tukar Lain Selain Uang?

Jadi perbedaan mata uang ternyata menimbulkan banyak masalah. Namun sebaliknya, menyamakan seluruh dunia memakai mata uang yang sama juga tidak semudah itu; padahal apapun simbolnya, namanya tetap saja “uang”.

Lalu, apakah ada alat tukar lain yang lebih baik daripada uang di sepakbola? Barter misalnya? Atau ditukar dengan makanan?

Pertukaran dengan tidak menggunakan uang bukan hal aneh. Itu pernah terjadi kepada Ian Wright yang pindah dari Greenwich Borough ke Crystal Palace pada tahun 1985 dengan ditukar satu set alat-alat fitness. Zat Knight, seorang pemain bertahan, juga pindah dari Rushall Olympic ke Fulham pada 1999 dengan ditukar 30 setelan pemanasan.

Namun transaksi barter terbaik (sekaligus teraneh) terjadi pada kepindahan Marius Cioara dari Arad —kesebelasan divisi kedua Rumania— ke Regal Horia —dua divisi lebih rendah— pada 2006. Harga yang disepakati adalah 15 kilogram sosis dan daging, tapi Cioara malah memutuskan pensiun sehari setelah transfer diproses.

Keputusan Cioara itu menbuat Regal Horia memaksa Arad mengganti kerugian mereka, khususnya soal daging. Permintaan mereka ditolak.

“Kami marah karena kami kalah dua kali,” kata seorang ofisial Regal Horia, dikutip dari kantor berita Rumania. “Pertama, karena kami kehilangan pemain bagus, dan kedua, karena kami kehilangan makanan kesebelasan kami selama sepekan penuh.”

Ternyata tidak ada transaksi yang sederhana meski melibatkan alat tukar tradisional seperti barter. Namun setidaknya dengan diperkenalkannya euro sebagai mata uang Uni Eropa pada 1 Januari 1999, euro menjadi mata uang yang paling umum di dunia sepakbola yang kebanyakan berkiblat ke Eropa daratan (bukan Inggris).

Kemudian karena ini sudah 1 Januari, maka selamat Tahun Baru dan selamat berbelanja (di jendela transfer)!

Komentar