Ramai-ramai Meninggalkan Inggris

Cerita

by Taufik Nur Shidiq 28112

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Ramai-ramai Meninggalkan Inggris

Di bursa transfer musim panas ini saja, empat pesepakbola mengambil keputusan yang tidak umum. Sementara banyak pemain berlomba-lomba mencari dan mengambil peluang bermain untuk klub Liga Primer Inggris, keempat pemain muda ini malah menuju Eropa daratan.

Reo Griffiths (18) menorehkan namanya dalam buku sejarah Olympique Lyonnais sebagai pemain berkebangsaan Inggris pertama yang bergabung dengan klub Perancis tersebut. Jonathan Panzo (17), yang sudah bergabung dengan Chelsea sejak usia 9 tahun, pindah ke AS Monaco pada 6 Juli lalu. Keanan Bennetts (19) bergabung dengan Borussia Monchengladbach sementara Noni Madueke (16) dengan PSV dari Tottenham Hotspur di hari pertama bursa transfer musim panas 2018.

Kepindahan keempat pemain di atas menjadi semakin menegaskan tren yang menguat musim lalu. Kepindahan pemain-pemain Inggris ke Eropa daratan tentu bukan hal baru, tapi musim lalu jumlah pemain Inggris yang bergabung dengan klub-klub Bundesliga cukup mencolok.

Jadon Sancho (18) menukar seragam biru langit Manchester City untuk Kuning-Hitam Borussia Dortmund, sementara Kaylen Hinds (20) meninggalkan Arsenal untuk VfL Wolfsburg. Ademola Lookman (20), Reece Oxford (19), dan Ryan Kent (21) menjalani masa pinjaman di RB Leipzig, Borussia Monchengladbach, dan SC Freiburg. Lookman tampil memuaskan sehingga die Roten Bullen, sebagaimana diwartakan BBC, bersedia membawa sang pemain kembali ke Leipzig dari Everton—kali ini secara permanen.

Kepindahan kelima pemain tersebut dipicu keberhasilan Tim Nasional Inggris menjuarai Piala Dunia U-17 dan Piala Dunia U-20, keduanya di tahun 2017.

“Kita akan melihat lebih banyak [kepindahan pemain muda ke Eropa daratan] karena para pemain kita sama baiknya dengan para pemain [negara] lain,” ujar Aidy Boothroyd (manajer Tim Nasional Inggris U-21) tahun lalu, dikutip dari The Guardian. “Jika para pemain mencapai batas atas perkembangan dan merasa mereka bisa mendapat lebih banyak kesempatan bermain di tempat lain, maka bagus untuk mereka dan hal ini seharusnya menjadi bagian dari perkembangan mereka.”

Bahwa Sancho diterima dan berkembang dengan baik di Dortmund sedikit banyak mendorong para pemain lain—termasuk empat pemuda yang pindah di bursa transfer kali ini—untuk berkembang di luar negeri.

Griffiths dan Panzo kemungkinan besar belum akan bisa menembus tim utama Lyon dan Monaco, sebagaimana Sancho membutuhkan setengah musim untuk dipercaya tampil di tim utama Dortmund. Keduanya juga akan memulai petualangan baru mereka di Championnat National 2 (divisi keempat liga sepakbola Perancis), tapi itu jelas lebih baik ketimbang bermain di kompetisi tim reserve (cadangan) Inggris.

Tim-tim cadangan di Perancis dan Jerman, tidak seperti di Inggris, memiliki liga sendiri. Di Jerman dan Perancis, tim cadangan berkompetisi di liga divisi rendah dan bersaing dengan klub-klub lain yang memainkan pemain senior. Secara rutin bersaing di kompetisi yang sebenarnya membuat pemain muda bisa berkembang lebih pesat. Ini yang membuat klub-klub Perancis dan Jerman cenderung memiliki kepercayaan yang lebih besar kepada pemain muda.

“Di Inggris, sistem yang berlaku membuat para pemain kesulitan masuk tim utama langsung dari tim cadangan,” ujar Badou Sambague, sosok yang memfasilitasi kepindahan Panzo. “Klub-klub [Inggris] tidak punya waktu untuk menunggu pemain berkembang, dan punya cukup uang untuk membeli pemain matang.”

Jika Sancho dan angkatan 2017 belum bisa menjadi bukti bahwa meninggalkan Inggris adalah keputusan yang baik, para pemain yang baru dan belum keluar dari Inggris bisa melihat Kevin Danso, lulusan akademi Milton Keynes Dons. Danso memang bukan pemain berkebangsaan Inggris, tapi dia menghabiskan sepuluh tahun di Milton Keynes. Pada 2014 Danso pindah ke FC Augsburg. Usianya sekarang baru 19 tahun, tapi Danso sudah enam kali bermain untuk Tim Nasional Austria di level senior.

“Di Perancis, klub-klub perlu memberi kesempatan kepada pemain muda agar mereka bisa menjualnya di masa depan dan menggunakan uangnya untuk mendanai akademi,” lanjut Sambague. “Melawan orang dewasa di divisi bawah saat masih remaja adalah cara yang baik dalam mempersiapkan diri untuk divisi yang lebih tinggi. Aku sendiri bermain melawan pemain-pemain seperti Olivier Giroud dan Laurent Koscielny, bukti bahwa ada pemain-pemain bagus di tingkatan itu.”

Komentar