Pemain Inggris Itu Seperti Junk Food-nya Sepakbola

Editorial

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Pemain Inggris Itu Seperti Junk Food-nya Sepakbola

Pernahkah Anda diajak makan bersama teman ke sebuah restoran cepat saji (junk food) dan ketika membayar, Anda kemudian berpikir, “Wah, dengan harga segini, mah, gue bisa tiga kali makan di warteg”?

Sebenarnya paragraf di atas tidak harus restoran cepat saji, tapi bisa juga restoran mahal, restoran elit, atau restoran hotel. Namun, tanpa bermaksud merendahkan fast food atau junk food, restoran cepat saji tidak memiliki “nilai tawar” setinggi restoran elit atau restoran hotel.

“Nilai tawar” di sini ada dalam berbagai rupa, antara lain pemandangan indah, koki terkenal yang memasaknya, peralatan makan yang mahal, pelayan yang sigap, dan lain sebagainya yang sebenarnya sangat jauh dari inti dari sebuah restoran, yaitu cita rasa demi memuaskan lidah dan perut kita.

Jika diandaikan kepada sepakbola, pemain-pemain Inggris bisa disebut adalah hasil pembelian dari restoran junk food: harganya mahal, rasanya sebelas-duabelas seperti warteg, tapi “nilai tawar”-nya tidak terlalu banyak.

Untuk memahami hal ini, mari kita baca baik-baik tiga paragraf berikut ini.

Ada berapa pemain Inggris di luar Inggris? Mungkin ada beberapa. Tapi ternyata pada musim 2014/15 tidak ada satu pun pemain Inggris di La Liga Spanyol, ada nol pemain Inggris di Bundesliga Jerman, tidak ada juga pemain Inggris di Ligue 1 Prancis, beruntung ada Ashley Cole (AS Roma) dan Micah Richards (dipinjamkan ke ACF Fiorentina dari Manchester City) di Serie A Italia.

Empat liga di atas adalah liga teratas di Eropa yang juga langsung merefleksikan tingkat daya saing pemain Inggris, yang sayangnya langsung merepresentasikan kualitas mereka.

Okelah, mungkin jika kita keluar dari “top five” kita akan menemukan mereka. Tapi ternyata di Eredivisie Belanda hanya ada Josh McEachran (dipinjamkan ke Vitesse dari Chelsea), tidak ada di Liga Primeira Portugal, tidak ada di Liga Primer Rusia, tidak ada di Bundesliga Austria, dan ada Chuks Aneke dan Jonathan Rowell di Liga Pro Belgia.

Dari lima (ya, hanya ada lima pemain Inggris dari 9 liga di Eropa!) pemain di atas, bisa dibilang hanya Cole dan Richards yang familiar dan memiliki kualitas permainan yang bisa kita ketahui (kami tidak bilang berkualitas tinggi maupun rendah, hanya saja “bisa diketahui”).

Jika acuan di atas juga masih menyangsikan, kita dapat melihat kembali prestasi kesebelasan negara Inggris di Piala Dunia, Piala Eropa, Piala Konfederasi, atau peringkat FIFA untuk menangkis anggapan bahwa pemain Inggris adalah “junk food sepakbola”.

Tapi ternyata kembali kita terdampar pada kenyataan bahwa pemain-pemain Inggris memang tidak seberkualitas itu di dunia sepakbola. Jadi pertanyaannya:

Apa yang membuat harga pemain Inggris menjadi sangat mahal?

Sangat mengejutkan bahwa meskipun kegagalan mereka yang konsisten, para pemain Inggris terus menjadi over-priced pada setiap bursa transfer.

Andrew Carroll (pernah) 35 juta poundsterling, Luke Shaw 30 juta, Adam Lallana 25 juta, Calum Chambers 17 juta, Danny Welbeck 17 juta, Phil Jones 16 juta, Alex Oxlade-Chamberlain 12 juta, dan lain-lain.

Bandingkan dengan pemain asal Jerman yang merupakan juara dunia berikut ini: Toni Kroos 24 juta poundsterling, Jérôme Boateng 11 juta, Per Mertesacker 10 juta, dan bahkan Sami Khedira gratis.

Secara banal, dengan harga yang sama, alih-alih mendatangkan Lallana, Liverpool bisa saja mendatangkan Kroos. Andai saja...

Cukup membingungkan melihat fakta bahwa kedua kelompok perbandingan pemain di atas memiliki celah besar dalam kisaran harga. Ini adalah pemain Inggris (yang katanya) berpengalaman di liga tertinggi di dunia, sementara kelompok satunya lagi adalah pemain Jerman (yang pastinya) sudah menjadi juara dunia.

Ini menimbulkan pertanyaan: Mengapa pemain Inggris mahal? Apakah mereka lebih berbakat? Atau itu hanya karena mereka bisa berbahasa Inggris?

Terus terang, jawaban sederhananya adalah tidak. Kami melihat pemain Jerman atau Spanyol misalnya, akan memberikan banyak pilihan dengan biaya yang cenderung lebih murah. Jika mau membandingkan lagi, kita bisa melihat hasil Euro U-21 yang sedang berlangsung sekarang.

Tapi, pertanyaan di atas masih belum terjawab. Jadi, kami mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan para pemain Inggris sampai-sampai mereka bisa menjadi junk food sepakbola.

Efek media

Alasan yang pertama dan paling jelas adalah media. Kita melihat dari waktu ke waktu media mengobral beberapa pemain muda ingusan yang digadang-gadangkan menjadi “pemain masa depan Inggris”.

Ini lebih parah sebenarnya daripada “The Next Maradona” atau “The Next Pele”, karena mereka kadang muncul dan tenggelam secara cepat.

Seberapa sering kita melihat ini terjadi dalam beberapa tahun terakhir? Ada juga tekanan besar pada pemain... akibat dari media, yang dapat mempengaruhi performa pemain tersebut.

Andrew Carroll tenggelam dengan label harganya yang mahal, begitupun dengan Francis Jeffers, David Bentley, Jermaine Jenas, Wilfried Zaha (di Manchester United), Anton Ferdinand, Richard Wright, dan sederet pemain lainnya.

Pemain Inggris lebih memilih untuk bermain di Inggris

Ada banyak opini tentang pengaruh pemain asing di sepakbola Inggris. Ini adalah opini yang benar. Sergio Aguero adalah top skor, begitupun Diego Costa, Francesc Fabregas, David De Gea, Thiabaut Courtois, dan lain-lain.

Tapi apa yang kebanyakan orang tidak menyadari adalah bahwa, selama lebih dari satu dekade sangara Inggris telah terdiri dari terutama pemain yang bermain di Liga Primer. Satu pengecualian adalah Owen Hargreaves, yang sempat bercokol di Bundesliga Jerman sebelum bergabung dengan Manchester United.

Bahkan saat ini, seluruh pemain di sangara Inggris terdiri dari pemain di Liga Primer. Hal ini kontras dengan pemain dari negara lain, bahkan Italia yang sudah mulai memanggil beberapa pemain dari luar Serie A Italia.

Di Liga Inggris, kita melihat pengaruh yang semakin meningkat dari Spanyol, Jerman, Perancis, dan sekarang Belgia. Mereka datang dan “menjajah” Liga Inggris untuk menyingkirkan para pemain Inggris. Hal ini telah terjadi selama bertahun-tahun.

Hal-hal di atas membuat pemain Inggris menjadi sangat mahal, karena salah satunya kesebelasan tidak mau menjual pemain Inggris mereka untuk tim saingan mereka dengan harga murah.

Bahkan untuk kesebelasan Championship, League One, maupun League Two sekalipun. Sehingga harga pemain Inggris pun semakin naik.

Kesebelasan Inggris lebih kaya

Menurut laporan terbaru Deloitte, kesebelasan Inggris rata-rata lebih kaya daripada kesebelasan di liga lainnya. Karena popularitas yang luas, peringkat hak siar televisi, dan biaya pemasukan, hal ini yang membuat kondisi finansial kesebelasan Inggris lebih kuat.

Semakin kuat kondisi finansial sebuah kesebelasan, akan membuat mereka tak segan mengeluarkan lebih banyak uang.

Misalnya saja, ketika kesebelasan seperti Chelsea atau Manchester City datang menanyakan harga pemain, hanya orang bodoh yang akan meminta sedikit uang. Reputasi terus naik, dan uang adalah segalanya.

Aturan homegrown

Dengan aturan homegrown yang berlaku, permintaan untuk pemain Inggris telah meningkat jauh. Dengan maksimal 25 pemain yang memenuhi syarat dalam skuat dan 8 dari mereka harus homegrown, permintaan untuk pemain tersebut telah meningkat.

Homegrown di sini adalah  pemain harus 3 musim berturut-turut bermain di Inggris atau Wales sebelum mereka berusia 21 tahun. Selengkapnya mengenai aturan homegrown dapat Anda baca pada ulasan kami berikut ini.

Sebagai lawan belanja besar untuk mendatangkan bintang top dari luar negeri, kesebelasan sekarang harus mencari bakat Inggris untuk mengisi daftar pemain mereka, meskipun tak harus bermain di susunan sebelas pemain utama.

Apapun alasannya, faktanya adalah bahwa pemain Inggris memang lebih mahal daripada pemain-pemain asing. Kemudian dengan aturan homegrown, maka tren ini akan terus berlanjut.

Dampak terbaru untuk Manchester City

Banyak yang sudah kita pelajari dari kapitalisme Liga Primer Inggris di dunia. Liga bertabur bintang dan uang ini sudah menjadi duri di dalam daging bagi sepakbola Inggris sendiri. Beberapa kebijakan baru memang semakin dikembangkan, misalnya saja akibat dari performa memukau permata baru Inggris, Harry Kane.

Pada jendela transfer nanti, kita jangan heran jika beberapa pemain Inggris masih memiliki harga yang tinggi. Kita juga jangan kesal jika ketika kita bermain permainan video Football Manager, EA Sports FIFA, atau Pro Evolution Soccer, kita kesulitan finansial untuk membeli pemain-pemain Inggris.

Contoh dari dampak terbaru ada pada Manchester City yang kehilangan James Milner, Micah Richards, Frank Lampard, dan (bisa jadi) Scott Sinclair, sehingga sekarang mereka kelabakan untuk mencari pemain asal Inggris yang bisa diandalkan.

Percaya maupun tidak percaya kepada gosip transfer, itu lah kenapa mereka jor-joran ingin membeli Raheem Sterling, Jack Wilshere, Ross Barkley, John Stones, atau Patrick Roberts dengan harga yang tinggi.

Tulisan ini mungkin menjadi santapan sahur atau berbuka yang sempurna bagi kita semua yang menantikan jendela transfer musim panas sambil berpuasa Ramadhan. Tapi satu hal yang patut diingat, jangan kebanyakan makan junk food. Selain tidak baik untuk kesehatan, junk food yang berlebihan juga tidak baik bagi dompet kita.

Sumber: Deloitte, Daily Mail, The Telegraph, Soccer News, Sports Keeda, Soccer Issue, Transfermarkt

Komentar