Tangkas Bagaikan Pencopet

Backpass

by M. Rifky Herlanda P.

M. Rifky Herlanda P.

Bola adalah pacar.

Tangkas Bagaikan Pencopet

Penjaga gawang memiliki ketangkasan tangan di atas rata-rata. Ketangkasan tangan itu bisa diibaratkan seperti pencopet di jalanan. Pencopet adalah orang yang mencuri dengan cepat dan tangkas. Siapa penjaga gawang yang identik dengan pencopet? Tentu saja Grégory Coupet.

Jika orang Indonesia membicarakan Coupet, yang terbersit tentunya adalah copet. Namun dalam dunia sepakbola, gambaran umum yang muncul mengenai Coupet adalah dia seorang kiper yang berhasil memenangi tujuh gelar kejuaraan berturut-turut di Perancis bersama Olimpique Lyonnais.

Coupet adalah penjaga gawang yang begitu konsisten dan dapat diandalkan. Dia adalah sosok yang tak segan untuk memarahi para pemain belakang untuk menjaga pertahanan.

Coupet lahir di salah satu daerah yang bernama Puy-en-Velay pada 31 Desember 1972. Dia adalah sosok yang sangat menyukai olahraga rugbi. Beberapa waktu kemudian, Coupet mulai tertarik kepada sepakbola karena ia memiliki bekal kemampuan menangkap yang baik ketika bermain rugbi. Coupet dengan cepat memilih dan mencintai posisi penjaga gawang.

Di usia mudanya, Coupet memulai karier amatirnya di salah kesebelasan lokal bernama Olympique Le Puy. Setelah mencapai umur 17 tahun, Coupet mulai menjajaki karier profesional ketika bergabung dengan AS Saint-Etienne, kesepakatan itu terjadi karena Saint-Etienne memiliki kerjasama dengan Olympique Le Puy dalam pengembangan pemain muda.

Perjalanan kariernya tak mudah, beberapa tahun dia harus berada di tim cadangan. Kesempatan untuk naik ke tim utama akhirnya didapat pada musim 1992/92 ketika Jacques Santini merekomendasikannya untuk masuk tim utama Saint-Etienne yang kala itu masih bermain di divisi kedua Liga Perancis.

Ketika sudah mendapat tempat utama di Saint-Etienne di beberapa musim, Coupet terpaksa harus meninggalkan kesebelasan tersebut. Faktor keuangan kesebelasan yang tidak stabil membuat dia harus pergi dan salah satu kesebelasan besar Ligue 1, Olympique Lyonnais, tertarik mendatangkannya.

"Aku tidak punya pilihan, Saint-Etienne membutuhkan uang tunai. Dua, gagasan bermain di divisi pertama memotivasiku,” kata Coupet.

Kehadirannya di Lyon memilik cerita tersendiri. Datang ke Lyon, Coupet mendapat beban yang cukup berat. Dia didatangkan untuk menggantikan seorang penjaga gawang senior dan sudah cukup memiliki nama besar, yaitu Pascal Olmeta. Hal yang paling berat adalah dia datang ke Lyon dari kesebelasan rival, Saint-Etinene. Rivalitas Lyon dan Saint-Etienne merupakan salah satu yang dikenal di dunia.

Salah satu hal menarik, Coupet tidak pernah merasakan kekalahan pada pertandingan derbi Lyon dan Saint-Etienne. Ketika ditanya siapa yang lebih dia dukung di antara Lyon dan Saint-Etienne oleh Social Gones, dia mengatakan: "Tanpa ragu: Lyon! Tapi aku dulu memenangi semua derbi, jadi aku tak keberatan mengatakan bahwa aku adalah 50% pendukung Lyon dan 50% hijau (Saint-Etienne). Kami selalu berada di sisi yang aman karena kami menang (tertawa). Aku suka mengatakan bahwa aku masih netral, tetapi aku pikir aku selalu menjadi Lyon (tertawa). Aku memenangi segalanya di Lyon, jadi jelas, ini luar biasa."

Kedatangan kiper hijau (warna kesebelasan Saint-Etienne) benar-benar tidak dihargai oleh penggemar Lyon. Namun setelah tetap bertahan dan berjuang untuk membuktikan diri, akhirnya dia mulai mendapat perhatian di Lyon tiga tahun kemudian, apalagi setelah dia berhasil membawa Olympique Lyonnais berjaya di Perancis.

Coupet berhasil meraih gelar pertamanya tahun 2001 dengan membawa Lyon menjadi juara di Coupe de la Ligue (Piala Liga). Namun gelar ini bukan prioritas kesebelasan meski menjadi titik awal kejayaan Lyon.

Selama tujuh tahun, dari 2002 hingga 2009, Lyon berhasil dibawanya meraih juara Ligue 1. Selama itu dia juga berhasil meraih penghargaan sebagai kiper terbaik selama empat musim berturut turut, yaitu musim 2002/03, 2003/04, 2004/05, dan 2005/06.

Selain cerita berhasil membawa Lyon meraih gelar juara di tujuh tahun berturut turut, Coupet juga memiliki cerita fantastis ketika menghadapi Barcelona di ajang Liga Champions UEFA.

Para penggemar sepakbola generasi awal tahun 2000-an biasanya ingat ketika Coupet melakukan penyelamatan dua kali secara beruntun pada 2001. Pada penyelamatan pertama, ia melakukannya secara akrobatik ketika menyelamatkan back-pass lob yang tidak sengaja dari beknya. Karena itu bola back-pass dengan kaki, maka kiper tak boleh mengangkapnya, maka Coupet pun melakukan penyelamatan dengan sundulan.

Namun sundulannya malah mendarat di kepala Rivaldo. Pemain Brasil itu membalas dengan sundulan juga, tapi mampu diantisipasi dengan baik lewat penyelamatan kedua Coupet. Double saves!

Kecepatan eksekusi, refleks, keberanian, semuanya ada di sana, para penggemar Blaugrana yang bersiap untuk merayakan gol, seketika harus merelakan itu tak terjadi.

Coupet telah menunjukkan selama bertahun-tahun bahwa dia adalah salah satu legenda Lyon. Karisma dan pengorbanan dirinya membuatnya menjadi salah satu kiper terbaik Perancis pada tahun 2000-an.

Gemilang di Klub, Tak Mendapat Kepercayaan di Timnas Perancis

Semua pemain yang gemilang di level klub tentu berhak untuk bermain di tim nasional. Begitu juga Coupet yang layak untuk mendapat satu tempat di Timnas Perancis berkat prestasinya yang membawa Lyon meraih gelar tujuh musim berturut-turut.

Coupet memiliki 34 caps bersama Prancis. Dia melakukan debut internasional melawan Australia selama di Piala Konfederasi FIFA 2001. Selanjutnya dia dipanggil untuk Piala Dunia 2002 sebagai pelapis Fabien Barthez, tetapi tak sekali pun bermain. Coupet selalu menjadi pilihan kedua oleh pelatih Perancis kala itu, Raymond Domenech, meski secara prestasi, Coupet lebih baik dari Barthez.

Pada Februari 2006, majalah France Football mengadakan jajak pendapat di antara para pembacanya tentang siapa yang harus menjadi penjaga gawang pilihan pertama Perancis untuk Piala Dunia 2006. Coupet menerima 69 persen suara (Barthez menerima 28 persen).

Meski Coupet sempat menjadi pilihan utama di enam dari sepuluh pertandingan di babak kualifikasi Piala Dunia 2006, Domenech secara mengejutkan lebih memilih Barthez sebagai nomor satu (meski Barthez lebih sering memakai nomor punggung 16, bukan 1, di Perancis).

Tak terima dengan keputusan Domenech, Coupet sempat meninggalkan kamp latihan. Gerrard Houiller dan ibunya sampai harus membujuk Coupet untuk mau kembali ke kamp karena memang dia adalah kiper terbaik yang dimiliki Perancis kala itu.

Akhirnya dia kembali dan berbicara dengan Domenech, yang akhirnya mengakui bahwa Coupet lebih baik daripada Barthez, tetapi juga sambil berkata jika Coupet akan tetap menjadi pelapis Barthez selama kompetisi karena kelakuan negatifnya tersebut dengan kabur dari kamp.

Coupet sendiri sempat menjadi kiper nomor satu Perancis setelah Barthez mengundurkan diri dari timnas pada Agustus 2006. Tugas pertamanya adalah kualifikasi Piala Eropa 2008. Namun sayangnya Coupet tidak tampil sesuai yang diharapkan. Dia gagal membawa Perancis meraih kemenangan atas Skotlandia dan harus mengalami cedera.

Setelah sembuh, Coupet tetap menjadi kiper pertama untuk Euro 2008, tapi lagi-lagi penampilan dia tak sesuai harapan dengan kebobolan enam gol dalam tiga pertandingan; membuat Perancis tersingkir di babak penyisihan grup.

Setelah itu Domenech lebih memilih Hugo Lloris dan Steve Mandanda untuk menjadi kiper pertama dan kedua Perancis. Coupet pun tidak dibawa Domenech masuk skuat Perancis untuk Piala Dunia 2010. Pada 1 Juli 2010, Coupet mengumumkan pengunduran dirinya dari sepakbola internasional.

"Aku akan berusia 39 tahun ketika Euro 2012 dimulai, dan aku tidak bisa melihat diriku dimasukkan dalam skuat [turnamen] lain untuk Perancis, dengan Hugo Lloris dan Steve Mandanda lebih disukai daripadaku."

"Itu terjadi ketika dengan Fabien Barthez. Dia terlalu jago dibandingkan aku. Ketika dia pensiun, aku pikir aku akan memiliki 4-6 tahun sebagai nomor 1 Perancis, tapi tentu saja tidak seperti yang terlihat. Karena itu aku menyatakan pengunduran diriku dari sepakbola internasional. Aku tidak akan mempertimbangkan kembali pensiunku, karena aku telah mengambil keputusan."

***

Coupet tak hanya bermain untuk Lyon. Dia sempat bermain di Atletico Madrid pada 2008/09 dan Paris Saint-Germain pada 2009/10 hingga kembali ke kesebelasan asalnya, Saint-Etienne, hingga dia pensiun pada 29 Mei 2011.

Petualangan Coupet sebagai pemain telah selesai. Coupet melanjutkan kariernya dengan bergabung di salah satu media.

Setelah empat tahun di media, Coupet mencoba peruntungan untuk menjadi seorang pelatih. Dia menghabiskan masa magangnya di Olympique Lyonnais dan menjadi pelatih kiper dengan bimbingan Joël Bats, mantan kiper Timnas Perancis yang juga menjadi mentornya saat masih menjadi pemain.

Meski gagal bersinar dengan tim nasional, Coupet tetap menjadi salah satu kiper terbaik di Perancis, bahkan di dunia. Pada 2005, Coupet terpilih untuk pertama kalinya di usia 33 tahun, masuk dalam 10 besar untuk Penghargaan Kiper Terbaik Dunia IFFHS. Coupet berada di peringkat keempat di belakang Petr Cech, Dida, dan Gianluigi Buffon. Dia juga dua kali dinobatkan sebagai Ligue 1 Keeper of the Year, pada 2004 dan 2005.

Komentar