Elang Super Terbang Tinggi di Atlanta

Backpass

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Kontributor

Elang Super Terbang Tinggi di Atlanta

Salah satu momentum emas sepakbola Afrika terjadi di medio awal 1990-an. Saat itu, Benua Hitam tidak hanya dikenal sebagai produsen pesepakbola terbaik dunia. Kiprah tim Afrika di berbagai ajang Internasional pun mampu menyita perhatian publik.

Di Piala Dunia 1990 Italia, Kamerun mencatatkan sejarah sebagai tim Afrika pertama yang berhasil melaju hingga babak perempatfinal. Dua tahun berselang, di Olimpiade Barcelona 1992, Ghana sukses menapak semifinal, sebelum akhirnya meraih medali perunggu setelah mengalahkan Australia 1-0 di laga perebutan tempat ketiga dan empat.

Sukses Kamerun dan Ghana bisa dibilang sebagai awal dari berkembangnya prestasi tim Afrika di ajang Internasional. Empat tahun setelah sukses Ghana meraih medali perunggu Olimpiade, Nigeria pun tiba sebagai penegas kejayaan sepakbola Afrika di Olimpiade Atlanta 1996.

Kala itu, Nigeria secara mengejutkan berhasil mengukir sejarah dengan meraih medali emas. Sebuah pencapaian mengagumkan, khususnya bagi masyarakat Nigeria yang kala itu tengah dirundung masalah Hak Asasi Manusia (HAM).

Nigeria kala itu dipimpin oleh seorang diktator militer bernama Sani Abacha. Sederhananya, masyarakat Nigeria kala itu hidup dalam belenggu kekangan junta militer yang anti-kritik. Hak berpendapat diambil, salah ucap sedikit nyawa bisa melayang di tiang gantung.

Seorang aktivis HAM bernama Ken Saro-Wiwa dihukum gantung di Delta Niger karena upayanya dalam membela hak orang-orang Ogini pada 1995. Kematian Saro-Siwa memancing aksi protes dari beberapa negara di Afrika, salah satunya Afrika Selatan yang paling keras mengkritik arogansi Pemerintahan Militer Nigeria kala itu. Tak suka dengan kritik Afrika Selatan, Nigeria pun memboikot gelaran Piala Afrika 1996 yang diadakan di Afrika Selatan.

***

Perjalanan Nigeria untuk bisa mencapai tangga juara di Olimpiade 1996 tidak bisa dikatakan mudah. Bergabung di Grup D, Jay Jay Okocha dkk sudah harus bersaing dengan Brasil, Jepang, dan Hungaria untuk mendapatkan tiket lolos ke babak perempatfinal.

Langkah Nigeria untuk mencapai fase gugur pun dimulai dengan melewati hadangan Hungaria dan Jepang dengan kemenangan. Koleksi enam poin dari dua kemenangan, Super Eagles sudah dipastikan lolos ke perempatfinal. Di pertandingan terakhir fase grup menghadapi Brasil, Nigeria hanya akan memainkan pertandingan perebutan status juara dan dan runner-up Grup D.

Nigeria gagal lolos sebagai jawara Grup D setelah dikalahkan Brasil 0-1. Nigeria otomatis lolos ke perempatfinal sebagai runner-up grup, sementara Brasil melenggang sebagai jawara grup.

Di fase gugur, Nigeria kian menunjukkan performa impresif. Setelah mengalahkan Meksiko 2-0, Super Eagles mampu mengalahkan Brasil 4-3. Tidak ada yang menyangka sebelumnya bila Nigeria bisa mengalahkan Brasil yang kala itu diperkuat pemain seperti Ronaldo, Roberto Carlos, hingga Bebeto.

Dalam laga tersebut, Brasil sudah unggul 3-1 di babak pertama. Namun cerita berubah di paruh kedua. Nigeria bangkit dan mampu membalikkan keadaan setelah gol tambahan dari Viktor Ikpeba di menit ke-78 dan dua gol dari Nwankwo Kanu (90’, 94’) membawa Nigeria menang 4-3.

Kemenangan dramatis atas Brasil mengubah status Nigeria dari tim kuda hitam menjadi favorit juara. Tapi perjuangan belum berakhir, di final tantangan datang dari Argentina yang kala itu diperkuat nama-nama tenar seperti Javier Zanetti, Roberto Ayala, Ariel Ortega, hingga Hernan Crespo.

Pertandingan yang berlangsung di Stanford Stadium pada 3 Agustus 1996 itu berjalan menarik. Argentina berhasil memecah kebuntuan lebih dulu melalui Claudio Lopez di menit ke-3. Nigeria baru bisa membalas di menit ke-28 melalui Celestine Babayaro.

Skor imbang 1-1 membuat laga semakin sengit. Argentina berhasil unggul di menit ke-50 melalui eksekusi Hernan Crespo, tapi bisa dibalas Daniel Amokachi di menit ke-74. Nigeria akhirnya berhasil memastikan kemenangan 3-2 melalui Emmanuel Amunike di menit ke-90.

Setelah meraih medali emas di Olimpiade 1996, para pemain Nigeria pun pulang dengan sambutan luar biasa. Apresiasi pun diberikan Pemerintah dengan memberi semua pemain gelar kehormatan ‘Ordo Nigeria’. Selain itu, setiap pemain pun dihadiahi satu unit apartemen mewah, sebidang tanah di kawasan Lagos, dan uang sebesar 1 miliar naira. Kesuksesan seperti ini tidak terjadi lagi di kemudian hari, sampai sekarang.

Komentar