Kejuaraan Nordik yang Tinggal Kenangan

Backpass

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Kontributor

Kejuaraan Nordik yang Tinggal Kenangan

Di akhir abad ke-19 hingga 20, Nordic Football Championship (Kejuaraan Sepakbola Nordik) memegang peranan penting dan prestisius dalam perkembangan sepakbola di kawasan Eropa Utara. Gagasan terselenggaranya Kejuaraan Nordik diinisiasi Denmark setelah berakhirnya perang Dunia I pada 1919. Pasca-perang, hampir seluruh wilayah Eropa porak poranda. Berbagai fasilitas umum mengalami kerusakan parah. Hal tersebut mengakibatkan kontrak pertandingan tahunan yang melibatkan Denmark, Swedia, dan Norwegia pun terhenti.

Untuk menghidupkan kembali geliat sepakbola di kawasan Nordik, Federasi Sepakbola Denmark (DBU) melobi Federasi Sepakbola Swedia (SFF) dan Norwegia (NFF) untuk menyelenggarakan turnamen antarnegara di wilayah Eropa Utara. Tapi gagasan tersebut urung terlaksana lantaran konsep turnamen yang mentah.

Cerita kemudian berubah. Dalam momentum perayaan hari jadi DBU ke-35, Kejuaraan Nordik digelar untuk kali pertama pada 15 Juni 1924 di Kopenhagen. Denmark keluar sebagai juara setelah menyelesaikan 10 laga dengan raihan tujuh kemenangan, dua kalah, dan satu imbang. Hasil tersebut membuat mereka memuncaki klasemen akhir dengan 16 poin, unggul tiga angka dari Swedia di posisi kedua.

Konsep turnamen terbilang unik karena berlangsung dalam durasi yang cukup panjang. Kejuaraan Nordik edisi pertama digelar dalam durasi lima tahun, dengan setiap peserta memainkan 10 pertandingan. Sementara penentuan juara dihitung melalui jumlah poin terbanyak dari setiap kontestan.

Edisi kedua Kejuaraan Nordik kemudian digelar pada November 1929, dalam momentum hari jadi SFF ke-25. Di penyelenggaraan kedua, jumlah peserta bertambah setelah bergabungnya Finlandia. Selain itu, durasi turnamen pun berubah dari lima menjadi empat tahun. Menambah kesan prestisius, jawara Kejuaraan Nordik edisi kedua pun akan mendapat piala berbalut emas. Saat itu Norwegia keluar sebagai kampiun.

Setelah itu Kejuaraan Nordik rutin diselenggarakan. Pada setiap edisi, Kejuaraan Nordik digelar dalam durasi berbeda, dengan periode terpanjang mencapai 11 tahun, terjadi pada 1937. Meletusnya Perang Dunia II menjadi faktor dominan yang membuat Kejuaraan Nordik di rentang tahun tersebut berlangsung dalam durasi yang sangat panjang.

Memasuki medio 1950-an, Kejuaraan Nordik mencapai puncak popularitasnya lantaran turnamen tersebut dipandang sebagai ajang untuk mengukur kesiapan tim Eropa Utara menghadapi kualifikasi Piala Dunia dan Eropa. Selain itu, turnamen juga mulai memunculkan rivalitas sengit.

Namun popularitas Kejuaraan Nordik mulai pudar di awal tahun 1970. Meredupnya pamor Kejuaraan Nordik disebabkan performa stabil Swedia di ajang internasional lainnya. Selain itu, sejak tahun 1933 hingga 1977 Swedia pun menjadi raja di turnamen tersebut dengan sembilan gear juara secara beruntun. Swedia pun tak lagi menganggap Kejuaraan Nordik sebagai fokus utama. Mereka bahkan hampir saja mengundurkan diri sebagai kontestan tetap di turnamen tersebut.

Puncak penurunan pamor Kejuaraan Nordik terjadi pada 1980-an. Selain karena tingkat persaingan yang tak lagi merata, kondisi para kontestan saat itu pun disibukkan dengan padatnya jadwal pertandingan kualifikasi Piala Dunia dan Eropa. Banyaknya pemain Eropa Utara yang bermain di klub papan atas Eropa kian menyulitkan penyelenggara menyusun jadwal pertandingan.

Bahkan sampai tahun 1985, setiap kontestan hanya memainkan enam pertandingan. Dari dua penyelenggaraan tersebut, Denmark mengambil alih pendistribusian gelar juara. Setelah tahun 1985, Kejuaraan Nordik mengalami hiatus yang cukup panjang.

Di tahun 2000. Durasi turnamen pun digagas menjadi hanya satu tahun. Selain itu, jumlah peserta bertambah dengan bergabungnya Islandia (setelah merdeka dari Swedia) dan Kepulauan Faroe. Tapi konsep baru itu tak mampu menyelamatkan pamor Kejuaraan Nordik yang kadung menukik. Setelah memastikan Finlandia sebagai jawara di edisi tersebut, Kejuaraan Nordik tak lagi diselenggarakan hingga saat ini.

Komentar