Arsenal 7-0 Everton: Pertunjukkan Profesionalitas Bergkamp

Klasik

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Arsenal 7-0 Everton: Pertunjukkan Profesionalitas Bergkamp

Memasuki tiga pertandingan terakhir Arsenal pada musim 2004/2005, Dennis Bergkamp belum juga mendapatkan perpanjangan kontrak yang ia harapkan. Padahal tambahan satu tahun pun akan ia terima.

Di tengah ketidakjelasan masa depannya, dalam pertandingan terakhir Arsenal di Highbury dengan seragam merah-putih, Bergkamp--saat itu baru satu hari lewat dari ulang tahunnya yang ke-36--bermain luar biasa. Begitu luar biasanya Bergkamp hingga Arsenal dibawanya menang besar tujuh gol tanpa balas.

Penampilan yang membuat Jon Brodkin, dalam kalimat terakhir di paragraf pembuka laporan pertandingannya untuk The Guardian, menulis: “Everton--ingat kesebelasan terbaik keempat di negara ini--beruntung hanya kalah tujuh gol.”

Kemenangan terbesar Arsenal di era Arsène Wenger itu adalah kekalahan terbesar Everton sejak 1949. Juga puncak dari 12 pertandingan tak terkalahkan Arsenal di Premier League; sebuah rangkaian respon positif terhadap kekalahan kandang 2-4 dari Manchester United pada hari pertama Februari 2005.

Arsenal dan Everton sebenarnya sudah sama-sama dipastikan tidak akan naik atau turun peringkat apa pun hasil pertandingannya. Runner-up dan peringkat keempat pun, karenanya, sama-sama bermain tanpa beban.

Namun kalah tujuh gol tanpa balas jelas keterlaluan. Sangat keterlaluan hingga David Moyes, Manajer Everton, memberi satu perintah kepada para pemainnya setelah pertandingan berakhir: meminta maaf kepada para pendukung yang datang langsung ke Highbury.

“Saya malu atas penampilan tim,” ujar Moyes selepas pertandingan. “Ini pekan yang baik bagi Everton dan saya tidak merasa harus melayangkan kritik kepada para pemain namun malam ini, sebagai manajer, saya malu.”

Arsenal bermain dalam formasi 4-4-2. Tidak ada tempat untuk Manuel Almunia walau sudah tidak ada yang dipertaruhkan dalam pertandingan ini kecuali kebugaran para pemain yang akan menjalani final Piala FA melawan Manchester United sepuluh hari setelahnya. Jens Lehmann tetap bermain sebagai penjaga gawang utama.

Kolo Touré diminta duduk di bangku cadangan untuk memberi kesempatan bermain kepada Sol Campbell, yang sejak kalah dari Manchester United kehilangan tempat. Bermain bersama Campbell di jantung pertahanan Arsenal adalah Philippe Senderos, yang saat itu masih menarik banyak perhatian dan belum menjadi Senderos yang kita kenal sekarang. Bisan Lauren dan Ashley Cole bermain di kedua sisi pertahanan Arsenal.

Cedera yang memaksa Gilberto Silva absen memberi kesempatan kepada Edu untuk berduet dengan Patrick Vieira di pertandingan terakhirnya di Highbury. Robert Pirès, sang prototipe inverted winger, bermain di sayap kanan sementara posisi di mana biasanya Pires bermain, diisi Jose Antonio Reyes. Duet penyerang Belanda, Dennis Bergkamp dan Robin van Persie, lebih dipercaya sebagai starter ketimbang Thierry Henry yang baru sembuh dari cedera.

Peluang pertama menjadi milik Everton. Di menit ketiga Mikel Arteta, yang kini bermain dan menjadi kapten di Arsenal, sudah mendapati dirinya menerima bola di dalam kotak penalti Arsenal. Tendangannya mengarah tepat ke pelukan Jens Lehmann. Benar-benar tepat ke pelukan. Andai Arteta berhasil memanfaatkan peluang ini menjadi gol, mungkin jalannya pertandingan akan berbeda. Namun ia gagal dan lima menit kemudian terciptalah gol pertama Arsenal.

Keberhasilan Edu mencuri bola di lini tengah mengantar bola ke dalam penguasaan Dennis Bergkamp dan membebaskan Robin van Persie mencari ruang. Perbedaan kualitas dan pengalaman bermain tampak nyata di sini. Van Persie langsung meminta bola begitu Bergkamp menerimanya dari Edu, padahal memasuki area sepertiga akhir saja ia belum. Bergkamp tidak buru-buru. Ia menyentuh bola lima kali dalam serangkaian dribble jarak pendek sebelum melepas umpan datar di antara Joseph Yobo dan David Weir kepada Van Persie yang berlari masuk ke dalam kotak penalti Everton. Kualitas umpan Bergkamp membuat Van Persie hanya membutuhkan satu sentuhan untuk mencetak gol. Empat menit setelahnya, kualitas umpan Begrkamp kembali memainkan peran penting dalam terciptanya gol Arsenal.

Dari lingkaran tengah yang berada di sisi lapangan Arsenal, Bergkamp melepas sebuah umpan terobosan yang diterima Reyes sedikit di luar garis batas sebelah kanan kotak penalti Everton. Umpannya meleset dari Van Persie namun disambut oleh Pirès, juga sedikit di luar kotak penalti Everton. Tanpa mengontrol bola, Pirès menendang. Wright berhasil membendung tembakan tersebut namun Pirès menyambar bola liar dengan sundulan yang tidak mampu dijangkau Wright.

“Sentuhan, pergerakan, kecepatan dan umpan dalam permainan Arsenal begitu gemilang, menghancurkan Everton dalam kemenangan terbesar di Premiership musim ini,” tulis Brodkin.

Sepanjang pertandingan Arsenal bermain gemilang, namun sangat mungkin Brodkin menulisnya karena satu momen dan sangat mungkin momen yang dimaksud adalah proses terciptanya gol ketiga Arsenal, di menit ke-37. Bergkamp lagi-lagi ambil bagian penting dalam proses ini.

Lauren mengambil lemparan kedalam dan Bergkamp memantulkannya kepada Edu dengan dada. Edu bergerak mencari jalan umpan sambil menggiring bola, dan melepasnya ketika ia mendapati Van Persie di depan kotak penalti Everton. Dengan satu sentuhan, Van Persie memantulkan bola kepada Bergkamp, dan Bergkamp mendorongnya melewati para pemain belakang Everton. Seperti Van Persie, Vieira hanya membutuhkan satu sentuhan untuk mencetak gol. Kapten Arsenal tersebut mencungkil bola melewati Wright yang tak mampu berbuat apa-apa.

Tiga sentuhan (sejak Edu melepas umpan) dan tiga pemain terlibat dalam terciptanya gol ketiga Arsenal.

bersambung ke halaman berikutnya.

Komentar