Siapa yang Mau Menjadi Wasit (?)

Football Culture

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Siapa yang Mau Menjadi Wasit (?)

Dalam sepakbola, barangkali pekerjaan yang paling tidak menyenangkan adalah menjadi wasit. Di saat para pesepakbola berusaha penuh untuk memenangkan pertandingan, wasit hanya ikut berlari dan mengamati. Ia harus bekerja keras untuk setepat mungkin dalam mengambil keputusan. Namun, tak ada yang peduli soal itu.

Menjadi wasit itu berat. Gajinya tidak sebesar apa yang harus ia tanggung. Di Eropa sekalipun, wasit biasanya bukan merupakan profesi utama. Saat menyaksikan pertandingan sepakbola, penulis berpikir, mengapa masih ada yang mau menjadi wasit?

Namun tidak demikian dengan di Inggris. Jurnalis The Telegraph, Lucy Kinder, dalam tulisannya menyatakan bahwa di Inggris, wasit sepakbola mendapatkan popularitas yang amat besar di anak-anak muda.

“Ini adalah pekerjaan yang secara rutin mendapatkan sumpah serapah dari penggemar dan pesepakbola. Namun, wasit sepakbola menerima popularitas yang secara mengejutkan amat besar di antara anak-anak muda,” tulis Lucy.

Lucy mendapatkan data bahwa saat ini ada 9.377 wasit dengan rentang usia 14 hingga 24 tahun di Inggris. Angka ini merupakan peningkatan sebesar 50% sejak 2008. Total, saat ini ada lebih dari 27 ribuan wasit di Inggris, naik lima ribu orang ketimbang 2008.

Mantan wasit, David Elleray, menyatakan bahwa menjadi wasit saat ini tidak lagi soal pria paruh baya yang membawa peluit, “Menjadi wasit saat ini menjadi lebih menarik untuk kaum muda.”

Sebagai seorang wasit, Lucy pun kerap mengikuti pelatihan yang diselenggarakan Football Association (FA). Ia pun melihat banyak wasit muda yang memiliki kemampuan mumpuni. “Acara itu sendiri dihadiri oleh banyak orang, dalam beberapa jam tempatnya sudah penuh,” kata Lucy mengomentari banyaknya peserta yang datang.

Sama halnya seperti pesepakbola, wasit pun hanya diberikan waktu sepersekian detik untuk memberikan keputusan. Ini adalah hal yang paling sulit bagi wasit, karena satu kesalahan bisa mengubah segalanya: hasil akhir pertandingan dan nasib tim itu sendiri.

“Proses gol atau tidak biasanya terjadi hanya dalam kedipan mata. Hal yang sama juga terjadi saat memberi penalti, atau buat asisten wasit untuk memutuskan apakah seorang pemain offside atau tidak,” tulis Lucy.

Di sisi lain, Elleray menekankan pentingnya kepastian saat memberi keputusan. Ini tergantung dari di mana posisi seorang wasit berdiri. Soal ini, Inggris sebenarnya telah menerapkan bantuan teknologi garis gawang sehingga tidak mungkin terjadi kesalahan soal keputusan gol.


Meski telah memimpin pertandingan dengan baik, jarang ada wasit yang mendapatkan empati dari penggemar, terlebih saat ia membuat keputusan kontroversial.

“Pemain membuat kesalahan, manajer membuat kesalahan, wasit pun sama. Kami sangat senang saat pemain timnas Inggris mencetak gol setiap kali ia menendang penalti, tapi kami tidak akan membunuhnya ketika ia gagal,” ucap Elleray beranalogi, “Namun, kita selalu mengharapkan Howard Webb selalu benar saat ia membunyikan peluitnya. Kami membutuhkan toleransi yang lebih besar atau pemahaman bahwa kesalahan yang ada pada wasit adalah hal yang tak terelakan dari pertandingan.”

Tentu wasit pun tak ingin melakukan kesalahan. Sudah ada sejumlah wasit yang memutuskan untuk berhenti karena tak bisa berhenti memikirkan kesalahan yang telah ia buat; ada yang mengundurkan diri, ada pula yang bunuh diri.

Salah satu kasusnya adalah Howard Webb yang memutuskan untuk pensiun pada 2014 silam. “Aku membuat banyak kesalahan. Aku tidak bunuh diri, tapi kesalahan-kesalahan itu bisa menghancurkan hari-harimu,” kata Webb, “Anda pulang ke rumah dengan perasaan yang buruk jika Anda tahu Anda telah melakukan kesalahan karena hal itu terus berputar di kepala.”

Ini pula yang pada akhirnya membuat Webb harus menggunakan topi saat ia keluar dari rumah menuju keramaian. Hal ini dilakukan sebagai penyamaran dari adanya potensi penyerangan dari orang yang tak menyukainya. Selain itu, ia pun memutuskan untuk tidak beraktivitas di media sosial.

“Di Internet, semua orang bisa tak memiliki wajah. Mereka tidak harus menatapku. Ini memberi mereka sebuah forum dan ada banyak hal negatif di sana, jadi aku memastikan anak-anakku tidak mencariku di sana. Aku tak senang dibenci. Aku lebih senang dihargai dan jika orang-orang menyukaimu, rasanya amat hebat,” kata Webb.

Berdasarkan data Lucy, musim 2012/2013 terdapat 491 kasus penyerangan kepada wasit dan serangan secara verbal bukan lagi hal yang aneh. Padahal, untuk mencapai tingkat teratas dengan memimpin partai di Premier League, diperlukan usaha yang amat ekstra. Pasalnya, wasit pemula memulai latihan mereka di tingkat kesembilan. Mereka harus mencapai tingkat pertama untuk bisa memimpin partai di Football league.

Lucy pun menceritakan rekan wasitnya yang lain, Mary Harmer, yang juga sama-sama perempuan. Menurutnya, Mary amat menyenangi profesi sebagai wasit meski hal itu hanya dilakukan pada saat senggang.

“Teman-temanku tak paham mengapa aku melakukannya tapi aku senang menjadi bagian dalam pertandingan. Memimpin para pemain adalah perasaan yang hebat dan Anda akan dilecehkan kalau tak cakap,” tutur Mary kepada Lucy.

Lucy pun menceritakan bagaimana pengalamannya memimpin pertandingan. Ia mengaku berhasil membuat keputusan yang benar saat memutuskan memberi penalti untuk lawan. Namun, ia pun mengingatkan kalau apa yang ia lakukan itu adalah sesuatu hal yang terjadi bukan atas spontanitas melainkan dari latihan yang berulang-ulang.

Hal ini pun mungkin terjadi pada setiap wasit di belahan dunia manapun. Mereka bukanlah produk instan yang daftar begitu saja sebagai sukarelawan. Mereka datang dari sebuah proses. Karena mereka yang sering kita hina-hina di televisi itu adalah mereka yang terbaik di antara wasit-wasit lainnya.

Dalam beberapa hal, kehadiran wasit memang memberikan “ruang kreativitas” buat para pemain. Saat ini ada pemain yang jago diving. Tujuannya? Tentu untuk mengelabui wasit. Saat gol terjadi, bek dan kiper mengangkat tangan untuk memengaruhi wasit kalau gol itu harus dianulir karena offside.

Mari menghargai wasit, karena wasit adalah representasi hakim dewan dalam sebuah pertandingan.

foto: thefa.com

Komentar