Menghilangkan Stigma Juara Liga Diatur Mafia

Editorial

by Ardy Nurhadi Shufi Pilihan

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Menghilangkan Stigma Juara Liga Diatur Mafia

Tahun 2017, Bhayangkara FC juara Liga 1; yang mendapatkan hormat lebih justru sang runner-up, yakni Bali United. Tahun 2018 giliran Persija Jakarta juara Liga 1, tapi PSM Makassar yang menempati peringkat kedua bahkan menerima ucapan selamat dan salut dari berbagai kalangan. Tahun 2019 dan berikutnya, sepakbola Indonesia tentu tak bisa seperti ini terus-menerus. Juara seharusnya tetap juara, tanpa diembel-embeli kecurigaan.

Pada pekan ke-33 Liga 1 2017, Bhayangkara ke puncak klasemen lewat kontroversi bonus tiga poin dari sidang Komisi Disiplin PSSI gara-gara lawan mereka, Mitra Kukar, memainkan pemain yang seharusnya tidak boleh bermain, Mohamed Sissoko. Naiknya Persija ke posisi teratas sebelum pekan ke-34 Liga 1 2018 juga diiringi kontroversi ketika di laga mereka melawan Bali United wasit mengakhiri pertandingan lebih cepat.

Sosok Gede Widiade jadi faktor yang disorot. Tahun lalu Gede Widiade berstatus pemilik saham Bhayangkara FC. Tahun ini pria yang akrab disapa GW ini menjadi "pegawai" di Persija. Di mana GW berada, setidaknya dalam dua musim terakhir, di situ juara liga menghampiri.

Namun faktor-faktor di atas pada akhirnya baru sebatas cocoklogi. Tak jadi juara liga pun Persija tampaknya akan diolok-olok. Misal: sudah dibantu mafia tapi tetap gagal juara. Juara apalagi, seperti yang terlihat sekarang. Padahal apapun kata orang, faktanya Persija adalah jawara Liga 1 2018. Sejarah akan mencatatnya, dan bahkan sudah dicatat.

Jika sudah seperti sekarang bukan klub yang jadi korban, tapi suporter. Suporter sepakbola Indonesia pada akhirnya tanpa disadari sedang dipermainkan. Tanpa disadari juga bahwa keberhasilan Persija melupakan masalah-masalah yang ada di internal klub masing-masing. Mengaitkan Persija juara dengan mafia jadi "pelipur lara" kegagalan tim yang didukung meraih juara.

PSM, misalnya, pada laga melawan Bhayangkara FC penampilan mereka sebenarnya kurang maksimal. Pada laga pekan ke-33 itu PSM (juga Bhayangkara) harus bermain dengan 10 pemain karena emosinya Hasyim Kipuw pada Elio Martins sehingga keduanya dikartu merah. PSM juga gagal menang karena Bhayangkara FC memang tampil militan untuk meraih kemenangan, bahkan nyaris kalah andai gol Bhayangkara FC tidak dianulir. Situasi itulah yang menurut pelatih PSM, Robert Rene Alberts, membuat PSM urung meraih tiga poin.

"Para pemain sudah berusaha semaksimal mungkin. Tak hanya kami, tapi juga Bhayangkara FC yang sudah mencoba berusaha untuk memenangkan pertandingan," kata Robert Alberts usai laga.

Hasil imbang melawan Bhayangkara FC seolah menegaskan bahwa PSM memang kerap kehilangan poin di laga tandang. Dari 17 laga tandang, PSM hanya mampu meraih 19 poin (Persija 25 poin, tertinggi). PSM hanya empat kali menang saat bermain di kandang lawan. Berbeda dengan laga kandang di mana PSM jadi kesebelasan dengan poin tertinggi di kandang (42 poin). Bukankah ini artinya PSM punya permasalahan saat tidak bermain di kandang? Tentu sulit juara kalau hanya mengharapkan kemenangan-kemenangan di kandang.

Jangan sampai isu pengaturan liga yang bergaung saat ini jadi kambing hitam kesebelasan-kesebelasan yang gagal. Toh, pada faktanya memang kesebelasan-kesebelasan lain pun punya faktor penting untuk tidak jadi juara. Bhayangkara FC kehilangan Evan Dimas sehingga lini serang menumpul, Persib Bandung tidak memiliki skuat yang merata antara skuat inti dan cadangan sehingga ketika pemain andalan absen permainan mereka langsung buruk, begitu juga dengan Bali United yang tak bertaji lagi tanpa Sylvano Comvalius, atau Madura United yang inkonsisten sepanjang musim ini.

Selain faktor internal klub, ada satu hal lagi yang juga tidak boleh dilupakan suporter: manajemen PSSI. Suporter Persija patutnya tidak menutup mata juga atas saham klub yang mayoritas dimiliki atas nama Wakil Ketua Umum PSSI, Joko Driyono. Selama Joko Driyono menjadi orang penting di Persija, selama itu pula Persija rentan dicap mendapatkan bantuan dari PSSI selama menjalani liga dan tidak dianggap menjadi juara sejati. Nantinya setiap terjadi masalah pengunduran jadwal, keputusan Komdis, dan hal-hal lain yang menyangkut Persija akan dicocoklogikan dengan sosok Jokdri sebagai pemilik Persija dan aktor sepakbola yang sudah dua dekade lebih berkutat di struktur federasi maupun liga.

Masalahnya, klub-klub lain kebanyakan diam saja. Nyaris tidak ada suara keras dari klub lain terkait rangkap posisi ini. Selain beberapa klub juga dipimpin oleh orang yang duduk di federasi maupun operator liga, jangan-jangan klub-klub memang tak menganggap itu masalah. Bukankah jadi lucu ketika suporter saling serang, saling ejek, saling mengolok, saling memfitnah, sementara manajemen masing-masing klubnya sendiri merasa baik-baik saja dan tidak mempersoalkan?

Jika memang rangkap jabatan dan posisi ini adalah persoalan, desak klub masing-masing untuk menggolkan klausul dilarang rangkap jabatan dan posisi di klub dan federasi/operator liga dalam agenda kongres terdekat. Jika kebetulan memang ada pimpinan klub yang punya posisi di federasi atau operator liga, berani juga untuk mendesak mereka melepaskan salah satu jabatannya -- sebagaimana sebagian kalangan suporter Persib sudah jauh-jauh hari mendesak Glenn Sugita meninggalkan posisinya di pengelola/operator liga.

Mulailah dari diri sendiri. Jika klubnya menang karena penalti yang tidak masuk akal, bersikaplah dengan kritis. Jika klubnya diuntungkan oleh keputusan ngawur operator liga, kritiklah dengan dosis yang tepat. Saatnya menanggalkan sikap tebang pilih "diam saat menang dengan cara ajaib dan memaki-maki mafia saat kalah karena penalti siluman".

Pengaturan skor, pengaturan liga, kematian suporter, Timnas senior gagal, seruan ganti Ketua Umum PSSI, repeat. Masalah-masalah ini terjadi bahkan jauh sebelum Edy Rahmayadi menyebut Belgia dengan Belgi. Situasinya sekarang membesar karena pembahasan Mata Najwa masih berdengung di telinga.

Sebagaimana Arema yang juga pernah dilabeli "Anak Papah" (seperti juga Persib) dan kini dialami Persija, bukan tak mungkin kesebelasan lain akan mendapat cap serupa di masa mendatang jika sepakbola Indonesia masih seperti ini terus. Percayalah, suporter punya kekuatan untuk menghilangkan stigma bahwa juara liga Indonesia diatur mafia.

Komentar