Christian Pulisic dan Legasi Eden Hazard

Cerita

by Ikhsan Abdul Hakim Pilihan

Ikhsan Abdul Hakim

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Christian Pulisic dan Legasi Eden Hazard

Christian Pulisic tiba di Stamford Bridge tepat ketika Eden Hazard pindah ke Real Madrid. Kedatangannya diniatkan Chelsea untuk mengisi pos yang ditinggalkan pemain terbaik mereka. Pulisic bermain di posisi yang sama dengan Hazard. Dari sini, komparasi antara keduanya tak terelakkan.

Tentu, perbandingan dengan ikon The Blues sekelas Hazard memberi tekanan besar ke pemain semuda Pulisic. Selama tujuh tahun membela Chelsea, penyerang Belgia tersebut telah memberikan segalanya. Ia berperan penting dalam keberhasilan klub meraih dua Premier League, satu Piala FA, dan dua Europa League pada 2013 dan 2019. Ia memainkan 352 pertandingan dengan mencetak 110 gol dan 92 asis.

Kontribusi Hazard semakin vital jelang akhir kariernya di Stamford Bridge. Di Premier League 2018/19, The Blues bahkan seakan terlalu bergantung kepadanya. Ia mencetak 16 gol dan 15 asis, berkontribusi langsung dalam 49,2% gol Chelsea di Premier League.

Sementara itu, Pulisic baru berusia 20 tahun ketika pindah ke London. Sebelumnya, ia baru berkiprah tiga musim di tim senior Dortmund. Pulisic berbakat, jelas. Namun, pindah ke liga baru dengan ekspektasi tinggi tentu bukan tantangan sepele.

Situasi pun semakin sulit bagi Pulisic karena kondisi klub berbeda jauh dibanding ketika ia menyepakati kontrak. Pemain kelahiran Pennsylvania ini digaet pada Januari 2019, tetapi dipinjamkan kembali ke Dortmund untuk menyelesaikan musim 2018/19. Waktu itu, pelatih Chelsea masih Maurizio Sarri.

Eks pelatih Napoli itu adalah sosok yang menghendaki transfer Pulisic. Sang pemain dipandang cocok melengkapi skema 4-3-3 Sarri seperti yang diterapkannya di Napoli dulu.

Pada awal 2019/20, Sarri digantikan Frank Lampard dan Pulisic pun mesti menyesuaikan diri dengan pelatih baru. Ia tahu, tak akan mengambil peran sebagaimana yang diproyeksikan bersama pelatih asal Italia tersebut.

Pulisic pun sempat kesulitan pada masa awalnya di Chelsea. Sejumlah performa impresif memang mewarnai musim debutnya di bawah Lampard; di antaranya adalah hat-trick ke gawang Burnley dan penampilan brilian kala timnya membungkam Manchester City.

Akan tetapi, Pulisic sulit tampil konsisten pada era Lampard. Cedera abduktor yang diderita pada Januari 2020 pun semakin menghambat adaptasinya.

Di lain sisi, terdapat kekhawatiran mengenai mentalitas Pulisic. Pemuda Amerika Serikat ini pendiam dan cenderung pemalu. Apakah kepribadian sang pemain menghambat adaptasinya di klub baru?

Manajer Timnas Amerika Serikat, Gregg Berhalter menegaskan bahwa karakter pendiam Pulisic tak mencerminkan mentalitas kompetitifnya. Pelatih berusia 47 tahun itu menyebut sang pemain memiliki mentalitas yang sesuai untuk bersaing di level tertinggi.

“Beberapa orang salah mengiranya karena pemalu dan pendiam. Dia punya intensitas. Itu seperti fokus akut yang, ketika dia ada di lapangan, terdapat ketajaman yang dapat Anda lihat,” kata Berhalter kepada The Guardian.

Musim debut Pulisic memang dihambat cedera dan inkonsistensi. Namun, jika ditinjau hasil akhirnya, eks Dortmund itu menorehkan debut yang cukup baik. Ia menorehkan sembilan gol dan enam asis dari 25 laga Premier League 2019/20. Catatan golnya hanya diungguli oleh Tammy Abraham. Sedangkan statistik asisnya hanya kalah dari Willian.

Kiprah Pulisic kembali disorot ketika Thomas Tuchel menggantikan Lampard pada akhir Januari silam. Tuchel adalah pelatih yang memberinya debut di tim senior Dortmund.

Akan tetapi, Tuchel rupanya pilih bersabar dalam menangani Pulisic. Eks pelatih Mainz 05 tersebut lebih sering menurunkannya dari bangku cadangan. Di Premier League, ia baru mendapat menit bermain penuh ketika Chelsea menghadapi Crystal Palace, 10 April 2021.

Keputusan Tuchel menepikan Pulisic sempat dipertanyakan. Namun, sang pelatih bersikeras bahwa Pulisic masih punya tempat di rencananya.

“Dia pemain penting. Dia memiliki potensi untuk menjadi penentu dari bangku cadangan dan juga sebagai seorang pemula. Apakah perlu untuk membuktikannya lebih dulu? Ya. Pekerjaan saya dan pekerjaannya menuntut kesiapan. Inilah yang akan Anda hadapi ketika bekerja di Chelsea,” kata Tuchel.

Sejak laga kontra Crystal Palace, Pulisic selalu bermain sejak awal laga kecuali dalam satu pertandingan. Pekan lalu, ia termasuk pemain yang diistirahatkan ketika The Blues membungkam Fulham 2-0.

Sang pemain pun tampil meyakinkan. Di leg pertama semifinal Liga Champions, Pulisic berhasil mencetak gol yang membawa Chelsea menahan imbang Real Madrid. Golnya ke gawang Thibaut Courtouis menunjukkan ketenangan dan kualitas teknis mumpuni. Menerima bola di sisi kiri kotak penalti, Pulisic tak terburu-buru melepaskan tembakan. Ia justru berupaya mendribel bola melewati kiper dan mencetak gol.

Hasil 1-1 di leg pertama menjadi modal berharga Chelsea jelang menjamu Los Blancos di Stamford Bridge. Anak asuh Tuchel berpeluang lolos ke final untuk pertama kalinya sejak 2012.

Pulisic, meski secara individual masih jauh dari Hazard, berpotensi melampaui kiprah seniornya itu di Liga Champions. Di musim keduanya, ia berpeluang lolos ke final Liga Champions dan menjadi juara, sesuatu yang bahkan tidak mampu dilakukan Hazard.

Selama ini, perbandingan antara keduanya — meski tak terelakkan — tidak adil bagi Pulisic. Secara individual, ia masih jauh dari status kebintangan yang menyemati Eden Hazard. Namun, ia justru berpeluang menorehkan sejarah pada usia yang masih muda, dan di tengah kiprah yang terganggu oleh cedera.

Komentar