Rasisme Harus Dihentikan Tanpa Tapi

Cerita

by Ikhsan Abdul Hakim

Ikhsan Abdul Hakim

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Rasisme Harus Dihentikan Tanpa Tapi

Sudah 2021, tapi dunia masih diselimuti dengan persoalan rasisme. Senin (22/3/2021) lalu, pelecehan rasial ditujukan untuk striker PSM Makassar, Patrich Wanggai. Setelah pertandingan lawan Persija Jakarta, akun media sosial striker kelahiran Nabire itu diserbu komentar rasis.

Tindakan barbar tersebut menyulut amarah dan kekecewaan. PSM segera menyurati PSSI tentang pelecehan rasial yang diarahkan ke pemainnya. Klub lain seperti Bali United, Persib, dan Persija pun merespons kasus ini dengan seruan anti-rasisme.

Rasisme adalah masalah besar yang mengakar di sepakbola Indonesia, juga dunia. Sepakbola, olahraga yang sedianya mempromosikan nilai-nilai sportivitas dan kemanusiaan, justru kerap digunakan sebagai arena mengekspresikan rasisme.

Sepakbola internasional pun dihantam rasisme yang menderas setahun belakangan. Kick It Out, organisasi yang fokus pada kampanye menghapus rasisme, menyebut bahwa pelecehan rasial meningkat 53% pada 2019/20. Meskipun pandemi korona memaksa sepakbola tanpa hadirnya suporter di stadion, tetapi tindakan rasis justru meningkat.

Beberapa hari lalu, gelandang Dortmund, Jude Bellingham disasar hinaan rasis melalui Instagram. Pemain top Eropa lain seperti Romelu Lukaku, Glen Kamara, Marcus Rashford, serta Raheem Sterling memiliki pengalaman serupa.

Striker Crystal Palace, Wilfried Zaha pun muak dengan gestur berlutut sebelum sepak mula. Ia menolak melakukan gestur tersebut karena pelecehan rasial terus berlangsung, terutama di media sosial, ketika badan-badan sepakbola sedang gencar mengampanyekan Black Lives Matter.

Pandemi membatasi aktivitas fisik dan suporter belum bisa menghadiri pertandingan. Media sosial pun menjadi medium komunikasi yang diakses dan disukai penggemar sepakbola. Namun sayangnya, media sosial juga menjadi sarana mengungkapkan sikap rasis.

Tak Berdaya Menghadapi Rasisme

Ketika Project Restart Premier League bergulir, Professional Footballers`Association (PFA) Charity melakukan studi tentang tindakan rasis di Twitter. Studi itu memuat kesimpulan yang mengkhawatirkan: Sebanyak 43% dari 30 pemain yang diteliti menjadi korban tindakan rasis.

Di Indonesia, sejauh ini belum ada studi serupa. Belum ada data yang menunjukkan seberapa parah frekuensi tindakan rasis yang menyasar pemain kompetisi domestik di media sosial. Percakapan mengenai sepakbola nasional sendiri tentunya naik setelah bergulirnya Piala Menpora.

Kasus Patrich Wanggai bukanlah yang pertama di Indonesia. Tahun 2019 lalu, pertandingan Liga 1 Putri antara Persib vs Persija diwarnai pelecehan rasial yang membuat wasit menghentikan pertandingan. Eks pemain Maung Bandung, Mbida Messi juga pernah mengalami kejadian serupa.

Teror rasisme kerap menyasar pemain kulit hitam dan klub asal Papua. Sebut saja, Persipura yang pernah mendapat perlakuan rasis saat melakoni partai tandang ke markas Sriwijaya FC pada pertandingan Liga Super Indonesia 2013.

Itu baru kasus-kasus yang terarsip dan dilaporkan. Bagaimana dengan rasisme sehari-hari yang tak terekam? Kasus rasisme yang tersorot seperti puncak gunung es. Darinya, kita bisa mengira seberapa besar dan seberapa meluas sikap rasis yang ada.

Menendang Rasisme Keluar dan Melarangnya Masuk ke Sepakbola

Logika Sesat Rasisme

Rasisme awet salah satunya karena pembiaran terhadap pelaku dan gejala yang ada. Sikap permisif membuat rasisme menjamur seperti kanker stadium awal yang tidak diobati. Tindakan semacam ini seakan menyepelekan dampak buruk dari rasisme.

Belakangan, logika sesat beredar tentang kasus Patrich Wanggai. Tak sedikit orang yang menyalahkan selebrasi striker PSM itu. Padahal, argumen itu gagal dalam mencerna esensi dari bahaya rasisme.

Menyalahkan Wanggai atas tindakan rasis tidak bisa diterima. Ini seperti anggapan keliru tentang penyintas kekerasan seksual. Dalam kasus kekerasan seksual, korban sering disalahkan karena pakaian yang terlalu terbuka atau pulang kelewat malam. Padahal, kejadian itu bisa terjadi kepada siapa saja dan dalam kondisi apa saja.

Faktor “pakaian” atau “pulang malam” tidak relevan dan tak bisa jadi alasan mewajarkan tindakan tersebut. Kesalahannya mutlak pada pelaku dan seksisme yang mengakar. Bagi siapa pun, predator seksual itu mengerikan. Tidak pernah menjadi korban bukanlah alasan untuk menihilkan empati.

Sementara pada kasus Wanggai, selebrasinya tidak pantas dibalas tindakan rasis. Selebrasi provokatif atau tindakan tak sportif lain adalah wewenang pengadil lapangan serta Komdis. Sedangkan rasisme adalah kejahatan dengan level yang sangat berbeda. Dua hal tersebut tak bisa diperbandingkan.

Meskipun tindakannya dinilai “provokatif”, Wanggai tak pantas dibalas dengan tindakan rasisme. Tidak ada yang pantas menerima tindakan sejahat ini.

Masalah rasisme bukanlah perkara balas-membalas, tetapi pikiran rasis dan seberapa serius daya rusaknya. Antropolog Ruth Benedict, dalam buku lawasnya berjudul Race and Racism (1943) mendefinisikan rasisme sebagai pikiran bahwa kelompok etnis tertentu secara lahiriah lebih inferior dibanding kelompok lain. Mengacu definisi tersebut, pelaku rasis enteng melontarkan hinaan karena merasa superior atas Wanggai, atas kelompok etnisnya, Papua.

Sikap seperti itu amat merusak bagi kehidupan bermasyarakat. Warga Papua sendiri rentan menjadi sasaran rasisme di Indonesia. Pada 2019 lalu, aksi rasis di Surabaya memantik gelombang protes dan terang menunjukkan betapa mengakarnya rasisme terhadap warga Papua.

Wanggai, ketika protes itu terjadi, menegaskan pentingnya rasa saling menghargai. “Jangan ada hal-hal itu [rasis] biar tidak memecah belah kita. Kita sama-sama warga negara Indonesia. Saya rasa harus saling menghargai, karena kami orang Papua sangat menghargai,” katanya kepada detik, Agustus 2019 silam.

Ironisnya, Wanggai kini menjadi korban rasisme.

Sepakbola vs Rasialisme Era Digital

Sederet Hukuman, Sedikit Efek Jera

Salah satu pelaku rasis terhadap Patrich Wanggai telah “tertangkap”. Eks pemain Pelita Bandung Raya, Syamsir Alam membagikan video permintaan maaf dari pelaku rasis tersebut di media sosial. Ini menjadi sanksi sosial atas tindakan si pelaku.

Otoritas sepakbola, mulai FIFA hingga PSSI, pun memiliki peraturan untuk menghukum pelaku rasisme. Hukuman yang paling umum adalah denda. Menurut FIFA Disciplinary Code 2019, tindakan rasis suporter akan membuat klub atau asosiasi terkait dihukum denda minimal 20.000 franc Swiss (sekitar 300 juta rupiah). Klub pun bisa memberi hukuman berupa larangan masuk stadion selama beberapa tahun atau bahkan seumur hidup.

Sementara bagi pihak klub, hukuman bisa berupa pertandingan tanpa penonton atau pengurangan poin. Jika pelaku adalah pemain, sanksi yang diberikan biasanya larangan bermain beserta denda.

PSSI sendiri telah menetapkan sanksi bagi tindakan diskriminatif atau rasis. Pada 2019 lalu, badan sepakbola Indonesia ini menegaskan bahwa pertandingan Liga 1 bisa dihentikan wasit jika terdapat tindakan rasis.

Dalam Kode Disiplin PSSI 2018, disebutkan bahwa klub yang gagal mengantisipasi tindakan rasis oleh suporternya akan dihukum denda minimal 450 juta rupiah. Selain denda, klub juga terancam sanksi penutupan sebagian atau seluruh stadion, pengurangan poin, hingga diskualifikasi.

Akan tetapi, hukuman itu hanya bisa diaplikasikan jika tindakan diskriminatif terjadi selama pertandingan berlangsung di stadion. PSSI tidak memasukkan pelecehan rasial di luar stadion ke peraturan yang spesifik. Dalam kasus Patrich Wanggai, PSSI, hingga artikel ini rilis pun belum memberi tanggapan resmi setelah PSM melayangkan surat ke mereka.

Sanksi yang cenderung menyasar pada klub dan asosiasi di atas rupanya memberikan efek jera yang minim. FIFA dan UEFA telah berulangkali menetapkan sanksi. Tetapi, nyatanya, rasisme masih terang di sepakbola. Ungkapan-ungkapan jahat masih diekspresikan oleh para suporter.

Hukuman yang lebih memberikan efek jera justru ada di tangan klub dan kepolisian setempat. Larangan memasuki stadion berpeluang membuat suporter rasis gentar. Campur tangan kepolisian pun demikian; seperti ditunjukkan ketika kepolisian Manchester menangani kasus rasis yang terjadi di pertandingan Man City, Desember 2019 silam.

Chelsea Akan Kirim Suporter Rasis ke Auschwitz

Akhiri Rasisme, Sekarang Juga

PSSI mestinya merespons kasus yang menimpa Wanggai dengan serius. Rasisme tidak boleh dibiarkan. Sudah waktunya otoritas tertinggi sepakbola Indonesia bertindak.

Di lain sisi, PSSI semata tak akan bisa menghapus rasisme dari arena sepakbola. Eks ketua Kick It Out, Herman Ouseley, menegaskan bahwa “realitas rasisme di olahraga adalah realitas rasisme di masyarakat”. Rasisme tidak hadir di sepakbola secara eksklusif dan perlu upaya banyak pihak untuk menghapuskannya.

Memerangi rasisme di sepakbola berarti menentang rasisme institusional yang ada di negara. Pendidikan dan kampanye yang konsisten juga diperlukan untuk mengikis sikap dan bias rasial di masyarakat. Dukungan dari klub, institusi negara, media, serta lembaga masyarakat diperlukan untuk mengenyahkan rasisme dari sepakbola.

Di tataran individu, bahaya rasisme perlu ditanamkan. Orang rentan gagal memahami rasisme karena belum pernah berada di posisi korban. Untuk memahaminya, minimal adalah berempati, membayangkan diri sebagai kelompok rentan yang didiskriminasi.

Ras sama sekali tidak memengaruhi tingkat kecerdasan atau kebudayaan. Ia hanyalah konsep untuk membedakan manusia berdasarkan ciri lahiriah. Setiap manusia, apa pun warna kulit dan ciri fisiknya, memiliki kemiripan DNA hingga 99,9%. Jika manusia itu sama dan setara, mengapa masih rasis?

Jadi, rasisme harus dihentikan tanpa tapi!

Komentar