Ricardo Gareca di Antara Peru dan Argentina

Cerita

by Ikhsan Abdul Hakim

Ikhsan Abdul Hakim

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Ricardo Gareca di Antara Peru dan Argentina

Sebelum 2017, Ricardo Gareca dipandang sebagai antagonis persepakbolaan Peru. Golnya di fase kualifikasi Meksiko 1986 memastikan eliminasi Peru sekaligus mengawali kutukan 36 tahun tak ikut Piala Dunia. Kegagalan tersebut juga menandai berakhirnya era keemasan La Blanquirroja yang dicapai berkat generasi Teofilo Cubillas.

Peru, yang mutlak butuh kemenangan, ditahan imbang 2-2 oleh Argentina dalam laga pemungkas kualifikasi tersebut. Sempat unggul 2-1, harapan Peru sirna kala Gareca menyambar bola liar di muka gawang. Hasil imbang membuat Peru harus menjalani play-off untuk kemudian disingkirkan Chile.

29 tahun kemudian, El Tigre si antagonis ditunjuk menukangi La Blanquirroja. Portfolio Gareca sebenarnya tak meyakinkan untuk menukangi Peru. Sebelumnya, ia gagal kala menangani raksasa Brasil, Palmeiras, kalah delapan kali dari 13 pertandingan yang dilakoni.

Gareca pun menghadapi tugas berat di Peru. El Tigre harus membenahi skuad yang bertahun-tahun menjadi pesakitan Amerika Latin dan mengidap problem indisipliner. Ujian pertama Gareca adalah Copa America 2015. Dalam turnamen di Chile tersebut, Gareca berhasil membuktikan kualitas manajerialnya.

La Blanquirroja lolos dari fase grup. Mereka kemudian mengeliminasi Bolivia di babak perempat final. Perjalanan Peru baru terhenti pada semifinal, kalah dari Chile yang kemudian menjadi juara.

Turnamen ini pun menjadi bukti nyata reformasi yang diusung Gareca. Pada akhir turnamen, Peru mendapat penghargaan fair play. El Tigre berhasil membuat skuad Peru yang indisipliner menjelma tim paling bersih di Copa America.

Link streaming pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2022: Peru vs Argentina

Di Copa America Centenario 2016, Peru kembali tampil mengejutkan. Mereka mengalahkan sekaligus mengeliminasi Brasil dari fase grup. Namun sayangnya, mereka harus terhenti di perempat final usai kalah adu penalti dari Kolombia.

Situasi berbeda terjadi di kualifikasi Piala Dunia 2018. Hingga pekan keenam, Peru hanya meraih empat poin dan berkutat di peringkat delapan. Namun, kemenangan walk out atas Bolivia menjadi titik balik La Blanquirroja. Edison Flores dan kawan-kawan meraih sejumlah kemenangan meyakinkan dan finis di peringkat lima, batas play-off kualifikasi.

Peru harus menghadapi jawara Oseania, Selandia Baru, di babak play-off. Peru memenangi babak ini dengan agregat 2-0 dan memastikan partisipasi mereka di Piala Dunia, untuk pertama kalinya sejak 1982. Dari antagonis, kini Gareca disambut sebagai pahlawan usai mengakhiri kutukan 36 tahun Peru.

“Saya sering diingatkan tentang gol itu [gol yang mengeliminasi Peru] sejak saya tiba di Peru, tetapi saya tidak memandangnya sebagai sesuatu yang harus saya tebus. Saya hanya melakukan apa yang harus dilakukan sebagai pemain Argentina; hal ini sama sekali tidak personal,” kata El Tigre usai mengantar timnya ke Rusia 2018.

“Tetapi, bagaimanapun, kami melaju ke Piala Dunia sekarang, jadi tidak akan lagi ada orang yang mengatakan saya berutang sesuatu kepada mereka! Saya mendapat dukungan penuh dan cinta di sini,” lanjutnya.

Di lain sisi, Rusia 2018 adalah partisipasi pertama Gareca di Piala Dunia. Ia memang menjadi pahlawan Argentina waktu kualifikasi Meksiko 1986. Namun, saat putaran final, Gareca dicoret dari daftar skuad yang dibawa Carlos Bilardo.

“Ketika babak kualifikasi ’86 berakhir, faktanya adalah saya tidak berada dalam level yang cukup bagus. Saya kehilangan tempat di tim Bilardo,” kenang eks penyerang Albiceleste itu.

Peru memang gagal lolos dari fase grup Piala Dunia 2018. Mereka kalah saing dari Denmark serta Prancis, yang pada akhirnya menjadi juara. Namun, setidaknya, mereka menutup turnamen dengan manis, mengalahkan Australia 2-0 sekaligus menghindarkan diri dari posisi juru kunci.

Pada 2019, Peru asuhan Gareca kembali menunjukkan konsistensi sebagai kuda hitam Amerika Latin. La Blanquirroja berhasil melaju ke final Copa America, hampir meraih trofi pertama timnas sejak 1975. Di final, Peru harus mengakui keunggulan Brasil dengan skor 3-1.

Kunci sukses Gareca bersama Peru adalah pembinaan mentalitas skuad serta keberhasilan regenerasi. Pada awal masa kepelatihannya, El Tigre tak ragu mengandalkan generasi baru macam Christian Cueva, Edison Flores, dan Renato Tapia. Wajah-wajah lama seperti Jefferson Farfan dan Andre Carrilo masih dipertahankan, tetapi tak menimbulkan ketergantungan.

Pedro Canelo, jurnalis olahraga Peru, menyoroti keberhasilan Gareca mengubah karakter tim sebagai faktor kunci perkembangan La Blanquirroja. “Apa yang berubah adalah karakter tim, motivasi para pemain, komitmen, dan fokus. Ini tim yang muda. Rerata usia mereka adalah 24 tahun [pada 2017],” ucap Canelo.

Hal senada ditegaskan Christian Cueva. Gelandang andalan Peru itu menyatakan bahwa Gareca amat sabar dalam membina mentalitas anak asuhnya.

“Dia mengubah mentalitas kami. Kami mulai percaya. Bahkan di momen-momen terburuk, dia selalu mempercayai kami dan kami mempercayai mereka,” kata Cueva.

Kini, La Blanquirroja mengincar partisipasi kedua secara beruntun di Piala Dunia. Di kualifikasi zona CONMEBOL, Peru akan menghadapi negara asal Gareca, Argentina di partai keempat. Sepanjang kariernya, Gareca selalu meraih hasil imbang dalam dua pertemuan lawan negara asalnya.

Di masa jeda internasional, Anda tidak akan kekurangan tontonan. Mola TV menayangkan pertandingan persahabatan, UEFA Nations League, dan Kualifikasi Piala Dunia 2022. Pertandingan Peru vs Argentina pada Rabu (18/11) pukul 07:30 WIB dapat Anda saksikan dengan mengeklik tautan ini.

Komentar