Kesempatan Modric untuk Dicintai Kroasia Kembali

Cerita

by Rio Pangestu

Rio Pangestu

Pembaca yang menulis.

Kesempatan Modric untuk Dicintai Kroasia Kembali

“Lalu waktu bukanlah giliranku,” tulis penyair Amir Hamzah dalam salah satu baris sajaknya yang berjudul Padamu Jua.

Waktu meniscayakan seseorang mendapatkan gilirannya masing-masing. Semisal giliran untuk merasakan kebahagiaan yang paling memabukkan, hingga giliran untuk menderita kepahitan yang paling menggidikkan.

Semua perasaan itu akan datang silih berganti, susul-menyusul, tiba di waktunya masing-masing. Tak ada yang tetap di hadapan waktu. Perubahan adalah hal yang niscaya.

Luka Modric adalah salah satu orang yang merasakan betul bagaimana waktu bisa mengubah segalanya. Modric awalnya merupakan sosok yang banyak dicintai di Kroasia, hingga waktu mengubahnya menjadi sosok yang dibenci oleh banyak orang di Kroasia.

***

Kepiawaian Modric mengolah si kulit bundar sudah tampak saat dirinya masih remaja. Bakatnya itu kemudian ditemukan oleh Zdarvko Mamic, yang saat itu menjabat sebagai direktur klub Dinamo Zagreb.

Saat usianya menginjak 14 tahun, Modric diajak Mamic untuk bergabung bersama tim muda Dinamo Zagreb. Modric pun seketika menjadi anak kesayangan Mamic di tim tersebut.

Menurut laporan media asal Kroasia, Jutarnji List, Mamic membelikan Modric sepatu dan peralatan lain yang ia perlukan untuk bermain sepakbola. Tidak hanya itu, biaya apartemen Modric selama tinggal di Zagreb juga ditanggung Mamic. Ketika Modric menginjak usia 18, ia bahkan dibelikan satu unit mobil oleh Mamic.

Sayangnya Modric tidak menyadari bahwa segala yang ia terima dari Mamic, tidak gratis. Sadar bahwa Modric merupakan pemain potensial yang akan bersinar di masa depan, Mamic diam-diam mengatur sebuah siasat yang akan memungkinkan dirinya bisa mengambil keuntungan dari kesuksesan Modric di masa depan.

Siasat itu kemudian tertuang dalam sebuah klausul kontrak yang Modric tanda tangani saat memulai karier profesionalnya bersama Dinamo Zagreb pada 2004. Di dalam klausul itu, terdapat aturan bahwa Modric harus menandatangani sebuah lampiran yang berisi ketentuan pembagian keuntungan nilai transfer, jika ada sebuah klub yang merekrutnya suatu hari nanti.

Modric dijanjikan akan mendapat 50 persen dari nilai transfernya. Namun itu belum selesai. Modric diwajibkan untuk memberikan sebagian besar dari 50 persen yang didapatnya itu kepada keluarga Mamic.

Saat itu, Modric yang masih berusia 19 tahun belum menyadari akan hal ini. Ia terlanjur percaya kepada Mamic karena pelbagai kebaikkan yang telah diberikan Mamic kepada dirinya selama ini.

“Aku tanda tangani apa saja yang ia (Mamic) suruh tanda tangani,” ujar Modric dikutip dari Bleacher Report.

Empat tahun kemudian, tepatnya pada 2008, Modric menerima tawaran dari Tottenham Hotspur. Sesuai klausul dalam kontraknya di Dinamo Zagreb, Modric akan mendapat setengah dari biaya transfernya yang, menurut laporan Bleacher Report, berjumlah sebesar 10,5 juta euro. Namun Modric hanya mengantongi uang sebesar 1,95 juta euro pada akhirnya. Sementara sisanya diserahkan kepada keluarga Mamic.

Siasat penggelapan uang dari Mamic ini baru tersingkap oleh Kejaksaan Negeri pada 2015. Modric sempat dipanggil sebagai saksi untuk kasus ini.

Dalam kesaksiannya, awalnya Modric mengaku kepada penyidik bahwa ia baru menandatangani lampiran itu saat sudah bergabung bersama Tottenham pada 2008. Akan tetapi dua tahun kemudian, tepatnya pada Juni 2017, Modric memberikan kesaksian yang berbeda dari sebelumnya.

Kepada Pengdilan Negeri yang kali ini memeriksanya, Modric mengaku bahwa ia sudah menandatangani lampiran itu di dalam kontraknya sejak awal bergabung dengan Dinamo Zagreb pada 2004. Kesaksian Modric yang baru ini, secara tidak langsung akan membebaskan Mamic dari dakwaan mengambil keuntungan pribadi ketika Modric direkrut Tottenham. Padahal Mamic adalah orang yang terlibat langsung dalam proses kepidahan Modric dari Dinamo Zagreb ke Tottenham kala itu.

Jaksa kemudian mendebat Modric bahwa ia telah menyatakan kesaksian palsu demi membebaskan Mamic. Modric pun akhirnya didakwa telah memberikan pernyataan palsu di pengadilan, dan mendapat ancaman hukuman 5 tahun penjara.

Imbas tambahan dari semua itu, Modric mulai mendapat cercaan dari banyak orang di Kroasia. Ia dianggap telah membantu seorang penjahat untuk bebas dari hukuman.

Di kawasan Zadar, kampung halaman Modric, terbentang spanduk bertuliskan, “Luka, kau akan mengingat kesalahanmu ini suatu hari nanti!”. Padahal di tempat inilah Modric menjalani masa kecilnya dengan penuh cinta dari orang-orang di sekitarnya.

“Situasinya sangat sulit bagi Modric saat ini,” ujar salah seorang penduduk bernama Holiga. “Banyak tulisan tembok yang menghinanya di mana-mana.”

“Orang-orang mengharapkan Modric menjadi saksi kunci yang akan menempatkan Mamic di balik jeruji besi, karena itulah yang awalnya Modric katakan. Berubahnya sikap yang akhirnya menimbulkan tuduhan sumpah palsu kepadanya, adalah kekecewaan besar [bagi banyak orang]. Andai saja ia (Modric) hanya mengulangi apa yang ia katakan sebelumnya, ia mungkin akan menjadi pahlawan. "

Modric kini menajalani gilirannya sebagai seorang yang banyak dibenci. Ini tentunya akan berat bagi Modric. Terlebih kasus ini dihadapinya jelang mewakili Kroasia di Piala Dunia 2018, yang mana ia menjabat sebagai kapten tim.

Gemilang di Piala Dunia

Tidak seperti yang diperkirakan sebelumnya, Modric ternyata mampu tampil gemilang bersama Kroasia di Piala Dunia. Tergabung bersama Argentina, Nigeria, dan Islandia di Grup D, Modric sukses memimpin rekan-rekannya menyapu bersih seluruh laga di fase grup dengan kemenangan.

Hadangan Denmark di babak 16 besar bisa dilewatinya setelah memenangi laga lewat adu penalti. Tuan rumah Rusia pun berhasil dikalahkan di perempat final. Yang terakhir, Kroasia mampu mengalahkan tim kuat, Inggris, di babak semifinal. Modric berhasil membawa Kroasia melenggang ke final untuk kali pertama sepanjang sejarah keikutsertaan mereka di Piala Dunia.

Peran Modric sangat besar di balik pencapaian bersejarah Kroasia ini. Modric merupakan satu-satunya pemain dengan menit bermain paling banyak dibandingkan rekan-rekan satu timnya yang lain (604 menit). Rekan satu timnya pun belum ada yang mampu melebihi perolehan gol Modric di Piala Dunia tahun ini.

Peran Modric bukan hanya terasa di dalam lapangan. Di luar lapangan pun sama besarnya.

Ketika Kroasia akan menghadapi Inggris di semifinal kemarin misalnya, sebelum pertandingan Modric sukses mengangkat mental kawan-kawannya agar tak ciut menghadapi Inggris yang banyak diunggulkan. Ia juga mendorong teman-temannya untuk membuktikan kepada mereka yang sebelumnya banyak meremehkan Kroasia.

Di final nanti, Kroasia akan menghadapi Perancis. Bukan lawan yang mudah, namun dengan kekuatan yang selama ini telah ditunjukkan Kroasia, sangat mungkin Kroasia mampu mengalahkan anak asuh Didier Deschamps dan meraih trofi Piala Dunia untuk kali pertama.

Apabila itu terjadi, kemungkinan besar Modric akan mendapatkan kembali gilirannya untuk menjadi sosok yang dicintai oleh publik Kroasia. Setelah di hari-hari yang lalu, ia menjadi sosok yang banyak dibenci.

“Menang atau kalah, akan ada `gempa bumi` di Kroasia. Empat juta orang akan berpesta di jalanan,” kata Modric.

Komentar