Mengulang Brasil di Rusia

Cerita

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Kontributor

Mengulang Brasil di Rusia

Terseok-seok langkah Kolombia menuju putaran final Piala Dunia 2018. Performa Kolombia di babak kualifikasi tidak terlalu mengesankan. Mereka selalu kepayahan saat berhadapan dengan tim kuat. Dua kali melawan Argentina, Kolombia kalah dua kali. Jumpa Brasil, Uruguay, dan Chile, Kolombia tak meraih satu kemenangan pun.

Kepastian lolos ke putaran final Piala Dunia 2018 baru didapat setelah Kolombia menahan imbang Peru (1-1) di laga pamungkas Kualifikasi Zona CONMEBOL. Hasil tersebut mengokohkan posisi Los Cafeteros di peringkat keempat klasemen akhir dengan 27 poin. Kolombia unggul satu angka atas Peru di posisi lima.

Walau susah payah mencapai Rusia, bukan berarti Kolombia bisa dipandang sebelah mata. Biar bagaimana, di Piala Dunia 2018 Los Cafeteros dihuni banyak pemain berkualitas macam James Rodriguez, Juan Cuadrado, Jackson Martinez, Carlos Bacca, hingga Luis Muriel.

Nama-nama di atas punya kontribusi besar membawa Kolombia menembus perempat final Piala Dunia 2014. Itu prestasi terbaik Kolombia sepanjang sejarah keikutsertaan mereka di turnamen sepakbola empat tahunan itu.

Banyak pengamat berpandangan Kolombia bisa bersaing dengan tim-tim seperti Jerman, Belgia, Inggris, Brasil, hingga Argentina. Maklum, selain tidak melakukan perombakan skuat besar-besaran, beberapa debutan Piala Dunia seperti Davinson Sanchez, Radamel Falcao, hingga Yerry Mina pun dipercaya akan meningkatkan kekuatan Kolombia.

Bersama Santiago Arias dan Frank Fabra, Sanchez dan Mina akan membuat lini pertahanan Kolombia solid. Kehadiran Radamel Falcao bisa memperkuat daya gedor dan agresivitas serangan Kolombia.

Kemungkinan besar Jose Pekerman akan menduetkan Falcao dengan Bacca di lini depan. Duet penyerang tersebut nantinya akan disokong pergerakan dan suplai bola dari James Rodriguez, Abel Aguilar, Carlos Sanchez, dan Juan Cuadrado yang akan mengisi sektor tengah dalam formasi dasar 4-4-2.

“Karena tingkat permainan yang ditunjukkan para pesepakbola mereka di Eropa, Kolombia harus punya tujuan untuk menjalani lima pertandingan di Rusia 2018 seperti yang mereka lakukan di Brasil 2014. James Rodriguez, Radamel Falcao, Juan Guillermo Cuadrado, dan Davinson Sanchez sedang dalam performa terbaik dan memungkinkan Kolombia untuk memimpikan penampilan bersejarah lainnya,” kata Tito Puccetti, pandit ESPN.

Debut Falcao

Satu hal lain, lolosnya Kolombia ke Piala Dunia 2018 menjadi momentum paling menggembirakan bagi Falcao. Pasalnya, penantian panjangnya untuk tampil di Piala Dunia akhirnya berakhir.

Karier Falcao di tim nasional sejatinya sudah dimulai sejak 2007. Sejak usia 20, Falcao sudah rutin membela tim nasional senior Kolombia. Penyerang berjuluk El Tigre itu berkesempatan melakoni debut Piala Dunia pada edisi Afrika Selatan 2010, tetapi harapan tersebut sirna lantaran Kolombia tidak terbang ke Afrika Selatan karena gagal menembus posisi lima besar di klasemen akhir kualifikasi Piala Dunia 2014 Zona CONMEBOL.

Empat tahun kemudian Kolombia memastikan diri lolos ke putaran final Piala Dunia 2014. Kesempatan terbuka bagi Falcao. Bahkan El Tigre digadang-gadang akan menjadi pemain kunci Kolombia di Brasil. Maklum, performa sang pemain di level kesebelasan saat itu sedang bagus-bagusnya.

Saat masih menjadi pemain FC Porto (2009—2011), Falcao tampil cemerlang dengan lesakan 72 gol dalam 87 pertandingan di semua ajang. Ketajamannya itu berlanjut saat hijrah ke Atletico Madrid pada musim 2011/12. Selama dua musim membela Los Rojiblancos, 70 gol dia cetak dalam 97 pertandingan yang dimainkan di semua ajang.

Di jendela transfer musim panas 2013, Falcao pun merapat ke AS Monaco. Pindah ke Perancis ternyata menjadi awal petaka karier Falcao. Saat tampil di ajang Coupe de France melawan Monts d’Or Azergues Foot pada Januari 2014, Falcao mendapat terjangan keras dari pemain lawan. Lututnya cedera parah.

Falcao pun menjalani operasi. Proses penyembuhannya terbilang cepat lantaran sebelum Piala Dunia 2014 berlangsung, kondisinya sudah berangsur membaik. Namun Pekerman tidak mau ambil risiko. Meski cedera Falcao sudah pulih, Pekerman menganggap kondisi fisik sang pemain tak ideal untuk bertarung di ajang sekelas Piala Dunia.

Gagal tampil di Piala Dunia 2014 membuat Falcao patah hati. Setidaknya ia masih punya kesempatan tampil di Piala Dunia berikutnya, tapi dengan catatan ia mampu menjaga mutu permainannya sebagai penyerang haus gol dalam empat tahun sebelum bergulirnya Piala Dunia 2018.

Pada September 2014, Monaco meminjamkan Falcao ke Manchester United. Tujuannya agar Falcao bisa kembali menemukan bentuk permainan terbaiknya setelah cedera panjang. Namun di Old Trafford sinar Falcao meredup. Performanya jauh dari harapan. Pergerakannya menjadi lamban. Naluri mencetak golnya pun seakan hilang. Di United, Falcao hanya tampil dalam 33 pertandingan di semua ajang. Ia hanya mencetak 6 gol dan 3 asis.

Semusim kemudian giliran Chelsea yang meminjam Falcao dari Monaco. Alih-alih membaik, Falcao justru semakin meredup di Stamford Bridge. Ia jarang ditampilkan karena cedera pangkal paha yang dialaminya. Selama satu musim masa pinjamannya di Chelsea, Falcao hanya tampil dalam 12 pertandingan—dengan torehan satu gol.

Menukiknya performa Falcao dalam dua musim terakhir membuat banyak pihak beranggapan karier El Tigre sudah habis. Tampil di Piala Dunia 2018 tampaknya hanya akan menjadi angan belaka.

Namun apa yang terjadi kemudian jauh di luar perkiraan. Setelah gagal di Inggris, Falcao kembali memperkuat Monaco. Di Monaco, Falcao kembali menemukan permainan terbaiknya. Di musim pertamanya kembali ke Monaco, Falcao dipercaya tampil dalam 43 pertandingan di semua ajang. Ia mencetak 30 gol dan 6 asis.

Di musim 2016/17, Falcao bukan hanya mampu membawa Monaco meraih gelar juara Ligue 1, tapi juga berhasil menjadi pencetak gol terbanyak dengan 21 gol di kompetisi domestik. Di musim 2017/18, 35 penampilan dibukukan Falcao dengan torehan 24 gol di semua ajang.

Kembalinya Falcao ke bentuk permainan terbaik tak lepas dari kepercayaan besar yang diberipam Monaco kepadanya. Falcao tidak hanya diberi kepercayaan tampil secara reguler. Lebih dari itu, ia juga dipercaya menjadi kapten kesebelasan oleh kepala pelatih Leonardo Jardim.

“Saya sudah melalui masa sulit, tapi dalam masa-masa sulit tersebut saya berusaha, dan tidak banyak orang mengetahuinya. Saya percaya bahwa proses tidak akan mengkhianati hasil, dan masa-masa sulit itu membuat saya menjadi pribadi yang lebih kuat,” ujar Falcao.

Polandia, Senegal, dan Jepang, berhati-hatilah.

Komentar