Menjadi Besar Bersama Negara Terkecil

Cerita

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Menjadi Besar Bersama Negara Terkecil

Di sepakbola modern, penciptaan sejarah seperti bisa diumbar. Namun lolosnya Islandia ke Piala Dunia 2018 dianggap banyak orang sejarah yang akan sulit sekali diulang. Dengan populasi 335 ribu penduduk, Islandia menjadi negara dengan populasi terkecil yang bisa lolos ke Piala Dunia.

Memangnya tak ada negara dengan populasi lebih kecil dari Islandia? Menurut World Population Clock dan proyeksi PBB, sebenarnya ada 26 negara, tapi yang tim nasional sepakbolanya jago hanya Curacao (160 ribu penduduk, posisi 71 FIFA) dari CONCACAF.

Namun cerita besar Islandia di sepakbola bukan hanya dari jumlah penduduknya yang kecil, karena tak ada hubungan antara jumlah penduduk sebuah negara dengan prestasi sepakbola mereka.

Sebenarnya Islandia hampir lolos ke Piala Dunia 2014. Saat itu peringkat mereka setara San Marino dan Andorra. Begitu kerdil. Tak banyak yang kaget ketika Islandia disingkirkan Kroasia di play-off.

Kepala pelatih mereka saat itu, Lars Lagerback, sampai berkata: "Pencapaian ini (hampir lolos ke Piala Dunia) tak akan pernah bisa diulang. Lagerback salah besar.

Islandia kemudian menggebrak karena berhasil lolos ke Piala Eropa 2016. Itu menjadi pembuktian, padahal fase kualifikasi mereka tergolong berat karena satu grup dengan Belanda, Republik Ceko, dan Turki. Islandia bahkan bisa lolos sampai perempat final, mengalahkan Inggris pula di perdelapan final.

Atas kesuksesan empat tahun ini, Islandia memang banyak berutang pada bekas kepala pelatih mereka, Lars Lagerback, dan bekas asisten pelatih mereka (yang juga dokter gigi), Heimir Hallgrimsson, yang sekarang menggantikan posisi Lagerback. Menurut Lagerback, sukses Islandia di Piala Eropa sangat mencerminkan karakter masyarakat mereka.

Sepakbola Berkembang karena Pengaruh (Liga) Inggris

Islandia menempati peringkat kesembilan dari rilis Human Development Index tahun 2016. Artinya negara ini memiliki perkembangan SDM yang baik. Padahal Islandia tadinya hanya terkenal karena ikan, gunung berapi, dan musim dinginnya.

Negara di Samudera Atlantik Utara ini adalah negara demokrasi sosial yang pemerintahnya mendukung semua warga untuk berolahraga. Masalahnya Islandia adalah negara dengan musim dingin panjang yang membuat warganya senang menghabiskan waktu di dalam ruangan, entah bermain atau minum-minum, untuk menunggu musim panas tiba.

Sepakbola baru masuk Islandia pada 1895. Saat itu sepakbola yang dikenal dengan knattspyrna (secara harafiah berarti “tendang bola”) dibawa oleh orang-orang Inggris. Dari situ pengaruh Inggris terasa begitu kental di Islandia.

Baca selengkapnya: Para Pelopor Penendang Bola Islandia

Vidar Halldorsson, seorang sosiolog olahraga Islandia, berkata jika warga Islandia tumbuh dengan menonton sepakbola Inggris di televisi sejak 1970-an. Pada masa itu satu-satunya televisi di Islandia menyiarkan pertandingan Liga Inggris setiap Sabtu. Lucunya pertandingan itu bukan pertandingan siaran langsung, melainkan siaran tunda dari pertandingan satu pekan sebelumnya. “Mereka (para pemain Liga Inggris) adalah satu-satunya atlet profesional yang kami tonton [ketika kecil],” kata Vidar.

Pada sebuah survei Halldorsson di 2003, sebanyak 88% warga Islandia bisa menyebut satu kesebelasan Inggris favorit mereka. Bukan hanya itu, gairah mereka terhadap sepakbola juga bisa mereka tunjukkan sampai ke jalanan. Anak-anak bisa berkelahi karena hasil pertandingan Liga Inggris.

Bahkan seorang miliuner asal Islandia, Bjorgolfur Gudmundsson (orang terkaya kedua di Islandia setelah putranya, Bjorgolfur Thor Bjorgolfsson) sempat membeli West Ham United pada 2006.

Islandia sempat mengalami krisis pada 2008. Saat itu, Forbes memperkirakan kekayaan Gudmundsson jatuh dari 1,1 miliar dolar AS ke angka nol. Pada 2009 ia dinyatakan bangkrut. Dari situ, kita bisa melihat passion orang Islandia terhadap sepakbola Inggris.

Sepakbola Sendiri Terkendala Musim Dingin

Masalahnya pada zaman dulu, orang-orang Islandia yang menonton Liga Inggris tak punya kesempatan untuk menonton (dan bermain) Liga Islandia. Karena musim dingin berkepanjangan, liga mereka hanya dimainkan dari Mei sampai September. Federasi sepakbola mereka menyebut satu musim kompetisi di Islandia adalah “yang terpendek di dunia.”

Di saat liga berjalan, status Liga Islandia juga semi-pro. Sampai sekarang pemain bagus harus pindah di usia muda karena liga mereka tergolong cupu. Namun pemain muda mereka memang bisa berbicara banyak di liga-liga lain di Eropa, terutama Inggris, Belanda, dan negara-negara Skandinavia.

Penanda kemajuan signifikan sepakbola Islandia terjadi sekitar tahun 2000, saat Islandia mulai membangun infrastruktur sepakbola untuk segala cuaca. Sekitar 110 sekolah Islandia mendapatkan fasilitas lapangan kecil artifisial. Kemudian ada tujuh indoor hall berukuran lapangan besar dengan pemanas ruangan.

Saat ini warga Islandia bisa bermain bola kapan saja, sepanjang tahun, di musim apa pun—tak peduli apakah mereka tergabung di klub atau tidak. Jumlah indoor football hall saat ini (2018) bahkan sudah lebih dari 200. Mereka melakukan investasi besar-besaran pada infrastruktur.

Jika dahulu menonton, sekarang bermain sepakbola adalah bagian dari hidup warga Islandia, terutama di pedesaan. Laki-laki maupun perempuan sama-sama bermain, terutama perempuan: seperempat pemain sepakbola yang terdaftar di Islandia adalah pemain perempuan.

Sepakbola dimainkan secara baik dan benar dari usia sangat muda. Anak-anak usia enam tahun bahkan dilatih oleh pelatih berlisensi. Tak heran, pelatih sepakbola bukan lagi menjadi ajang volunteer di Islandia. Pelatih sudah menjadi profesi di mana sekarang mereka punya 500-an pelatih berlisensi UEFA B.

Baca selengkapnya: Perencanaan, Faktor Utama Kesuksesan Islandia

Dari hal-hal tersebut kita bisa melihat olahraga untuk hiburan sangat diseriusi di Islandia. Meski senang-senang, tapi tetap serius.

Bukan Lagi Kuda Hitam

Di Piala Dunia 2018 ini, Islandia adalah negara pertama yang merilis skuat 23 pemain mereka, lengkap dengan nomor punggungnya. Hallgrimsson merilis skuatnya pada 11 Mei 2018.

Hal ini menunjukkan dua hal, tergantung bagaimana kita memandang mereka: (1) Islandia sudah sangat yakin dengan kualitas ke-23 pemain mereka, atau (2) Islandia memang hanya punya 23 pemain yang bagusnya pas-pasan sehingga tak perlu dipilih-pilih lagi.

Dari 23 pemain yang dibawa Islandia, 22 pemain di antaranya memiliki nama akhir –son; begitu cara Islandia menjaga budaya mereka. Ada satu nama yang tak berakhiran –son, bukan Eidur Gudjohnsen yang sudah pensiun, melainkan penjaga gawang pelapis mereka: Frederik Schram.

Jika harus menyebut satu pemain kunci, tentu nama tersebut adalah Gylfi Sigurdsson yang handal dalam meluncurkan bola-bola mati. Pemain Everton berusia 28 tahun ini sudah mencetak 19 gol. Ia menjadi pemain dengan jumlah gol terbanyak ketiga sepanjang sejarah Islandia, di bawah Gudjohnsen (26 gol) dan Kolbeinn Sigthorsson (22 gol) yang tidak dibawa ke Piala Dunia 2018.

Namun ada satu pemain yang cukup unik. Penjaga gawang utama mereka, Hannes Thor Halldorsson, adalah seorang pembuat film profesional. Ia sendiri yang melakukan syuting iklan Icelandair yang hadir sebagai sponsor timnas mereka.

“Aneh sekali. Aku juga harus acting di iklan itu, jadi aku menyutradarai iklan itu memakai seragam timnas dan sepatu bola,” akunya kepada Sports Illustrated.

Selain itu, Islandia juga terkenal dengan ‘thunderclap’ atau ‘Viking clap’ meski budaya itu sebenarnya dicontek dari kebiasaan fans Motherwell, salah satu kesebelasan Skotlandia.

Pada Piala Dunia ini, kita pastinya akan melihat salah satu ciri khas Islandia tersebut, diawali dari pertandingan melawan Lionel Messi dan Timnas Argentina-nya yang menjadi lawan pertama Islandia sepanjang sejarah mereka di babak final Piala Dunia.

Islandia (peringkat FIFA 22 per Mei 2018) sudah melalui jalan panjang hingga bisa sukses seperti sekarang. Mereka awalnya adalah kuda hitam. Sebenarnya sekarang juga masih, sih, apalagi di Grup D mereka tergabung bersama Argentina (peringkat FIFA 5), Kroasia (18), dan Nigeria (47). Namun mereka mengingatkan kita jika kuda hitam bisa berubah, asal arahan dan investasinya benar—serta tidak instan.

Komentar