Ketika Jam Hamburg Berhenti Berdetak

Cerita

by Rio Pangestu

Rio Pangestu

Pembaca yang menulis.

Ketika Jam Hamburg Berhenti Berdetak

Sambil menyesap bir, Toben Baumgarten mengingat-ingat masa kanak-kanaknya. Dia berkisah tentang sebuah kunjungan ke Volksparkstadion. Baumgarten kecil diajak ayahnya menyaksikan Hamburger SV berlaga.

Ketika sudah di tribun, mata Baumgarten menangkap sebuah layar memanjang di salah satu sudut stadion. Layar itu berisi deretan angka yang menyala. Baumgarten kecil terkesan. Dia lantas bertanya kepada sang ayah ihwal benda yang mencuri perhatiannya.

Setelah ayahnya memberi jawaban, impresi Baumgarten kepada benda itu bertambah. Kesan yang kuat menyelinap ke relung hatinya.

Dari sana cinta Baumgarten untuk HSV tumbuh. Sampai sekarang ia masih dengan setia mendukung die Rothosen.

***

Benda yang membuat Baumgarten terkesan adalah sebuah jam digital yang terpasang di sisi barat laut kandang HSV.

Jam digital di Volksparkstadion (sekarang bernama Imtech Arena) istimewa. Fungsinya berbeda dengan jam digital di kebanyakan stadion. Alih-alih menjadi penunjuk waktu pertandingan, jam Volksparkstadion menunjukkan durasi keikutsertaan HSV di divisi tertinggi Bundesliga.

Jam tersebut sudah terpasang sejak awal keikutsertaan HSV di Bundesliga, 24 Agustus 1963. Sejak saat itu jam Volksparkstadion terus berjalan, dan baru akan berhenti ketika HSV terdegradasi.

Boleh dibilang, pemasangan jam tersebut mencerminkan rasa percaya diri HSV. Rasa percaya bahwa mereka bisa bertahan di divisi tertinggi selama mungkin. Sebelum ambil bagian di Bundesliga, HSV adalah klub yang begitu superior di Oberliga Nord. Sepanjang 16 tahun penyelenggaraan Oberliga Nord, HSV hanya satu kali tidak juara.

***

Detik demi detik keikutsertaan HSV terekam dalam jam Volksparkstadion. Hentakannya seakan semakin tegas ketika HSV menjuarai Bundesliga (musim 1978/79, 1981/82, dan 1982/83). Musim 1982/83 barangkali menjadi yang paling tegas, karena HSV mengawinkan gelar juara Bundesliga dengan Liga Champions.

Hentakan detik di jam tersebut juga pernah seakan melemah. Musim 2011/12, misalnya, saat HSV mengakhiri musim di peringkat ke-15. Karena peringkat ke-15 tak berarti degradasi, jam Volksparkstadion berdetak terus.

Situasi serupa terulang di musim 2013/14. HSV mengakhiri musim di peringkat ke-16, ambang batas degradasi. Itu berarti pertandingan play-off melawan peringkat ketiga Bundesliga 2, Greuter Fuerth. Versi kecil jam Volksparkstadion dipasang di jendela bus tim untuk memotivasi para pemain.

Upaya itu tidak sia-sia. Dua leg pertandingan berkahir dengan agregat 1-1. HSV bertahan berkat keunggulan gol tandang. Jam Volksparkstadion berdetak terus.

Di musim berikutnya HSV kembali terseok-seok di Bundesliga. HSV hanya meraih 9 kemenangan sepanjang musim. Di akhir musim mereka kembali menempati peringkat ke-16. Kali ini, lawan mereka Karlsruher SC. HSV lagi-lagi selamat dari degradasi, berkat keunggulan agregat 3-2. Jam Volksparkstadion terus berdetak.

***

HSV kembali tampil buruk di Bundesliga musim 2017/18. Hingga pekan ke-33 mereka masih terdampar di peringkat ke-17. Koleksi poinnya hanya 28. Selisihnya dari VfL Wolfsburg di peringkat ke-16 hanya 2 angka.

Pertandingan melawan Borussia Moenchengladbach (Sabtu, 12/5) di pekan terakhir menjadi laga penentuan. Suporter HSV antusias menunggu laga penentuan tersebut. Mereka menyesaki latihan terakhir sebelum melawan Gladbach, memberi dukungan kepada para pemain.

Dukungan di latihan tersebut tampak ampuh. HSV memenangi laga kontra Gladbach dengan skor 2-1. Namun turun divisi tak terhindari karena VfL Wolfsburg menang 4-1 atas FC Koeln. HSV tertahan di posisi semula, dan karenanya terdegradasi ke Bundesliga 2 untuk kali pertama. Bersama dengan itu, berhenti pula jam Volksparkstadion.

Detik-detik terakhir jam tersebut diiringi amarah, rasa kesal, dan kekecewaan pendukung HSV. Suar dan kembang api dilemparkan ke lapangan. Asap hitam mengepul.

“Aku tak tahu... sekarang jam tersebut merupakan sebuah berkah atau malah kutukan,” ujar Baumgarten.

Komentar