Kekalahan, Empat Gol, dan Tatapan Kosong Buffon

Cerita

by Sandy Firdaus 112933

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Kekalahan, Empat Gol, dan Tatapan Kosong Buffon

"Semua menjadi buruk bagi kami," begitu ujarnya seusai pertandingan, sembari menatap kosong ke arah wartawan yang bertanya kepadanya. Sorotan mata yang begitu kosong.

Gianluigi Buffon kembali menjalani partai final Liga Champions, setelah malam yang cukup menyesakkan dada di Olympiastadion pada 6 Juni 2015. Ia begitu ingat malam itu, malam ketika menit ke-68 menjadi menit yang tidak akan terlupakan dalam hidupnya. Menit ketika apa yang sudah berjalan indah, tiba-tiba menjadi gelap begitu saja setelah Luis Suarez mencetak gol.

Trofi Liga Champions yang begitu ia dambakan lenyap begitu saja. Si Kuping Besar, yang mungkin semalam sebelumnya sudah ia impikan dalam mimpinya, mendadak berada di pangkuan Lionel Messi dan kawan-kawan dari Barcelona. Kenyataan yang sama buruknya dengan empat gol yang bersarang di gawangnya pada final Piala Eropa 2012, yang membuatnya gagal merengkuh trofi Piala Eropa 2012 dari tangan Spanyol.

Wajah-wajah menjemukan para Spaniard itu harus ia temui kembali dalam laga akbar macam final Liga Champions. Berbekal pengalaman pahit tersebut, ia pun memasuki lapangan Stadion Millennium, Cardiff, dengan sebuah kepercayaan diri.

"Semoga sekarang semua menjadi baik bagi kami," ungkapnya.

***

Kedua tim sudah berada di atas lapangan. Juventus dengan jersey hitam strip putih, melawan Real Madrid yang melawan jersey berwarna ungu. Buffon memandang jauh ke depan. Di dekatnya, ia bisa melihat Leonardo Bonucci, Andrea Barzagli, serta Giorgio Chiellini, tiga orang yang setia mengawal dirinya di mistar gawang selama beberapa musim terakhir. Di pinggir, ada Dani Alves dan Alex Sandro. Di tengah, ada Paulo Dybala, berpadu dengan rekannya sesama Argentina di lini depan, Gonzalo Higuain.

Sejenak sebelum wasit Felix Brych meniup peluit pertandingan, Buffon menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya secara perlahan. Ia mengepalkan kedua tangannya yang sudah terbalut sarung tangan kiper, sembari bergumam dalam hatinya sendiri, "Sekarang adalah saatnya bagi kami", selayalknya #ItsTime yang menjadi slogan Juventus untuk laga final Liga Champions.

Pertandingan pun berlangsung. Saling serang antara kedua tim terjadi di atas lapangan selama pertandingan terjadi. Sepanjang babak pertama, tampak Juventus dan Real Madrid adalah dua kesebelasan yang bertarung secara imbang. Juve menciptakan peluang, Madrid balas dengan peluang. Madrid menyerang, Juve balas balik menyerang.

Peran Buffon di bawah mistar pun semakin terasa seiring pertandingan yang mulai bergerak dari detik ke detik, serta dari menit ke menit. Instruksi-instruksinya kepada bek, baik ketika set-piece ataupun ketika Juve diserang, seperti sebuah teriakan seorang ayah kepada anaknya yang menyuruh sang anak untuk segera pulang. Bonucci, Barzagil, Chiellini, dan jajaran pemain bertahan Juve lain pun tampak menurut. Kharisma Buffon sebagai kiper legendaris terlalu kuat untuk mereka lawan.

Tapi, sekuat-kuatnya Buffon mengatur pertahanan, ia tetap kebobolan juga. Sang bocah dari Madeira, Cristiano Ronaldo, adalah biang keladi terbobolnya gawang Buffon malam itu. Tendangannya di antara kerumunan bek Juve masuk menembus gawang Buffon, yang terlambat bereaksi dalam menepis tendangan Cristiano tersebut. Madrid unggul terlebih dahulu. Beruntung tak lama kemudian, Juve mampu menyamakan kedudukan lewat Mario Mandzukic. Gol yang cukup indah.

Tak terasa 45 menit pertama berlalu. Kedudukan 1-1. Wajah Buffon, walau sudah kebobolan satu gol, masih terlihat tenang. Tak ada perasaan gugup ataupun tegang menyelimuti dirinya. Dengan langkah penuh percaya diri, ia memasuki ruang ganti bersama dengan pemain Juve lainnya, berjalan beriringan juga dengan para pemain Madrid. Ia siap untuk mendengarkan instruksi dari sang allenatore, Massimilliano Allegri, untuk babak kedua nanti.

"Peluang untuk menang masih ada. Semangat!" gumamnya lagi dalam hati.

***

Usai rapat strategi bersama para pemain lain di ruang ganti, Buffon kembali memasuki lapangan. Ia menggerak-gerakkan tangannya, meregangkan dan melemaskan tangannya sebelum bermain, lalu mengusap wajahnya yang sudah penuh dengan keringat. Tampak ia sesekali berbincang dengan para bek, perihal lubang-lubang di lini pertahanan yang harus diperbaiki.

Buffon kembali menghuni gawang. Pandangan ia arahkan kembali ke depan. Kali ini ia bisa merasakan atmosfer di lapangan dan melihat lapangan secara keseluruhan. Di belakangnya, pendukung-pendukung Madrid tampak membentangkan spanduk dukungan dan mengibar-ngibarkan bendera yang sudah mereka bawa dari Spanyol. Ia membayangkan seberapa jauh jarak yang harus ditempuh mereka semua untuk menyeberang ke Wales, menyaksikan partai final Liga Champions.

Sementara itu di ujung sana, pemandangan serupa kembali ia lihat, namun kali ini dengan warna dan suasana yang berbeda. Terlihat spanduk-spanduk dukungan untuk Juve, beserta dengan bendera-bendera yang dibentangkan pada pendukung yang sudah dibawa jauh-jauh dari Italia. Walau sayup-sayup, teriakan dukungan untuk Juve terdengar, dan lagi, Buffon pun tahu bahasa mereka karena sama-sama berasal dari Italia.

"Dukungan mereka tidak boleh kami kecewakan," tuturnya dalam hati.

Pertandingan kembali berjalan. Namun, jalannya pertandingan pada babak kedua ini tidak sesuai dengan harapan Buffon. Si Zebra tampil kacau. Organisasi pertahanan mereka tidak rapi dan mereka kerap ditembus dengan mudah oleh para pemain lini serang Madrid. Di sisi lain, Juve pun seolah sulit untuk menyerang. Sergio Ramos dengan andal mengatur lini pertahanan Madrid, membuatnya menjadi kokoh sekokoh benteng-benteng Andalusia.

Akhirnya menjadi nyatalah mimpi buruk itu. Gol demi gol bersarang ke gawang Buffon. Diawali dengan gol dari Casemiro, berlanjut dengan gol Cristiano serta Marco Asensio yang dengan mudahnya tertorehkan di gawangnya yang begitu suci pada babak pertama. Sang portiere tak bisa melakukan apa-apa, selain memungut bola dari gawangnya dan memasang wajah mengkerut tanda kekecewaannya atas lini pertahanan, serta permainan yang buruk dari rekan-rekannya.

Terus diberondong serangan Madrid, Juve pun dipaksa mengakui keunggulan Madrid dengan skor 4-1. Selesai sudah perjuangan para Bianconeri di atas lapangan. Apa yang mereka tampilkan sampai babak final ini, seolah tidak berbekas kala menghadapi Madrid yang diasuh oleh pemain yang besar di lapangan rumput Delle Alpi. Pemain Madrid berjingkrak, pemain Juve tertunduk. Buffon? Ia hanya memandang kosong ke arah lapangan, seolah tak percaya semua ini baru terjadi.

Bersamaan dengan itu, kilatan-kilatan ingatan masa lampau kembali muncul. Ingatan ketika Lionel Messi mengangkat trofi Si Kuping Besar, ingatan ketika Neymar berlarian di atas lapangan sambil bergembira, datang tak tertahan di dalam pikirannya. Yang lebih aneh lagi, ingatan tentang kebobolan empat gol ketika melawan Spanyol, muncul juga di pikirannya. Ah, ia baru ingat. Dalam pertandingan ini ia kebobolan empat gol, setelah dari fase grup sampai babak final, gawangnya hanya kemasukan tiga gol.

Ia menatap nanar ke depan. Jauh sekali tatapan Buffon, jauh menembus dinding tebal Stadion Millennium yang ramai oleh pesta para pendukung Madrid. Seorang wartawan menghampirinya, dan mewawancarai dirinya. Ia pun tak banyak berujar, hanya berucap seperti ini.

""Semua menjadi buruk bagi kami. Entah kenapa kami bermain seperti itu di babak kedua tadi," tatapnya kosong kepada si wartawan.

Si Kuping Besar kembali gagal diangkat oleh Buffon, dan sialnya, sudah dua kali ia mengalami hal yang sama. Memori Berlin 2015, yang tak akan pernah ia lupakan, menjadi nyata.

***

Pertanyaan tentang Buffon menjadi legenda bermunculan seusai pertandingan ini. Ada yang mengungkapkan bahwa tanpa trofi Liga Champions, ia tetaplah legenda, tapi ada juga yang menyebut bahwa trofi Liga Champions ini akan menjadi salah satu penyesalan Buffon di kemudian hari, karena ia kerap gagal mendapatkannya. Mirip-mirip kisah romantisme gelap Steven Gerrard dengan trofi Liga Primer.

Hanya beberapa hal yang ia ingat dalam pertandingan tersebut, yaitu kekalahan, empat gol, dan tatapan kosong yang ia lancarkan kepada wartawan dan dinding-dinding dingin Stadion Millennium, Cardiff. Ia berjalan gontai ke luar lapangan, dengan medali runner-up di dadanya tergantung, seolah mencibir kepada dirinya yang seolah merasa betah terus mengenakan medali runner-up Liga Champions.

"Sial, akhirnya aku mampir lagi di dada si orang Tuscany ini."

foto: @BBCSport

Komentar