Serba-Serbi Cerita Karier Sepakbola Aples Tecuari

Cerita

by Abrar Firdiansyah 64372 Pilihan

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Serba-Serbi Cerita Karier Sepakbola Aples Tecuari

Lanjutan dari halaman sebelumnya

Rasanya Dilatih Seorang Ivan Venkov Kolev

Piala Tiger 2002 disebut Aples sebagai masa terbaiknya bersama tim nasional Indonesia. Tampil dengan skuat yang cukup komplit, Aples merasa tim saat itu adalah tim terbaik terakhir yang dimiliki Indonesia. Namun sayang pencapaian mereka gagal di final setelah kalah adu penalti melawan Thailand.

Kesuksesan tim nasional Indonesia diakui oleh Aples adalah buah dari tangan dingin Ivan Venkov Kolev. Aples pun menceritakan kunci keberhasilan Kolev saat itu sehingga bisa memotivasi Aples dan rekan setimnya yang lain.

“Tim kami saat itu begitu kuat. Namun sayang kami kalah di final melawan Thailand,” ucap Aples. “Ya, Kolev adalah sosok penting di balik keberhasilan kami masuk ke final. Saya merasa kami hanya tidak beruntung kalah dari Thailand di pertandingan tersebut.”

“Dia selalu memberikan kami semangat. Dia mencontohkan pemain Bulgaria. Dia berkata, ‘Kalian itu orang-orang terpilih. Kalian dipilih dari 200 juta orang. Percuma jika kalian sudah dipilih dan tampil seadanya di sini. Kalian harus dapat membuktikan bahwa kalian memiliki kualitas yang lebih baik ketimbang orang-orang lain,” ucap Aples menirukan Kolev.

“Dia mampu menumbuhkan nasionalisme setiap pemain yang masuk tim nasional. Dia mampu membuat hati setiap pemain menyatu.”

Soal Penyerang yang Paling Ditakuti

“Kurus (Kurniawan Dwi Yulianto)!” ucap Aples bahkan ketika disuruh memilah di antara Bambang Pamungkas dan Kurniawan. “Kurus, lah. Kalau saya lihat, di Asia ia termasuk pemain yang paling pintar."

“Lebih capek menjaga Kurus. Kita harus ekstra konsentrasi. Kalau kita tidak konsentrasi, kita akan langsung ketinggalan. Saya pun punya pikiran ketika melawan Kurus saat itu, kalau tidak dapat bola-nya saya harus ambil orangnya.”

Ia pun membandingkan Kurniawan dengan Kiatisuk Senamuang, mantan pemain tim nasional Thailand. “Soal kualitas Kurniawan lebih bagus dibandingkan Kiatisuk. Kiatisuk itu tipikal pemain yang cepat. Dia juga licik dan pintar. Jangan sampai pandangan kita lepas dari dia. Lepas sekali, dia udah ada di tempat lain.”

Kejenuhannya Terhadap Sepakbola

Karier sepakbola di usia yang begitu dini membuat Aples sempat mengalami kejenuhan. Ia mengakui bahwa kejenuhan membuat kariernya sempat mandek di Pelita di musim 1999.

“Ya, saat itu saya jenuh betul. Saat latihan saya sering hilang konsentrasi, di lapangan saya sering kehilangan bola. Kesalahan bahkan cukup sering lakukan,” ujar Aples.

“Kejenuhan ini karena saya benar-benar tampil tanpa istirahat sejak musim 1994. Di sela-sela istirahat kompetisi, saya bermain di timnas. Di jeda putaran pertama dan kedua, saya sibuk latihan.”

“Banyaknya kesalahan yang saya lakukan membuat orang tahu kalau saya sedang banyak pikiran. Saat itu yang paling tahu adalah Maboang Kessack (pemain asing Pelita). Dia menyuruh saya untuk ambil liburan dulu. Untungnya, pelatih Pelita saat itu, Henk Wullems, setuju dengan keputusan yang saya ambil.”

Rumor mengenai Penyakit Rabun Ayam

Banyak hal-hal di luar lapangan yang dikaitkan dengan Aples. Salah satunya adalah penyakit rabun ayam. Kami pun mengonfirmasi mengenai hal ini, dan Aples tak sungkan membeberkannya.

"Ya, benar saya terkena penyakit itu," ucap Aples. "Penyakit ini muncul karena saya sering mengisi teka-teki silang saat membela Indonesia di Piala Tiger 1996 Singapura. Nah, kesalahan saya, saya mengisi teka-teki silang malam hari hanya dengan menggunakan lampu tidur."

Meskipun begitu, penyakit ini tak mengganggu penampilan Aples di lapangan. Selain itu, penyakit ini tak berlangsung lama karena usai kompetisi tersebut, penyakit rabun ayam yang dialami oleh Aples sembuh.

Best Eleven versi Aples Tecuari

Saat ditanya susunan pemain terbaik versi dirinya. Aples pun menuliskan beberapa nama yang sempat bermain bersama di tim nasional.

“Untuk penjaga gawang saya memilih Kurnia Sandi,” ucap Aples. “Untuk tiga pemain belakang, saya memilih satu libero dan dua stopper. Libero-nya Sugiantoro, sementara dua stopper-nya, saya dan Nur Alim.”

Di lini tengah, Aples agak kesulitan menentukan nama-namanya. Namun perlahan ia mulai menuliskan beberapa nama, diurut dari kiri ke kanan. Aji Santoso, Fachri Husaini, Bima Sakti, Ansyari Lubis. “Terakhir adalah Anang Ma’ruf.”

Untuk penyerang, Aples tampak tak kesulitan. Ia langsung menuliskan dua nama penyerang yang pernah bermain bersamanya di tim nasional; Kurniawan Dwi Yulianto dan Bambang Pamungkas.

“Pelatihnya, jelas, ya,“ ucap Aples sambil menuliskan nama Benny Dollo sebagai juru taktik tim impian ini.

Komentar