Kata Siapa Serie-A Italia Sudah Tidak Menarik?

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Kata Siapa Serie-A Italia Sudah Tidak Menarik?

Mengenang Serie-A Italia, pastilah kita akan kembali teringat pada masa-masa Anda kecil dahulu (bagi Anda yang kelahiran 90an) atau mengingat masa-masa ketika anda masih muda dan segar (bagi anda yang kelahiran 70 atau 80an). Saat itulah sepakbola Italia begitu jaya, dan masa ketika sepakbola Italia menjadi kiblat bagi para pesepakbola dunia.

Ketika itu, pemain-pemain besar dunia macam Zinedine Zidane, Edgar Davids, Gabriel Batistuta, Juan Sebastian Veron, Marcelo Salas, Rui Costa, Alvaro Recoba, Javier Zanetti, dan Pavel Nedved membela klub-klub besar Italia macam AS Roma, Inter Milan, AC Milan, Juventus, Lazio, dan Fiorentina. Kehadiran pemain tersebut membuat Serie-A makin semarak.

Belum lagi ketika dipadukan dengan bakat-bakat Italia yang saat itu juga bermain dengan gemilang seperti Alessandro Del Piero, Fransesco Totti, Fabio Cannavaro, Roberto Baggio, dan juga Paolo Maldini membuat Serie-A menjadi liga top dunia mengungguli ketenaran dari Liga Primer Inggris, La Liga, dan juga Bundesliga.

Namun, seiring dengan perkembangan zaman, Serie A dari tahun ke tahun kehilangan pamornya. Serie A mulai tergusur oleh liga-liga lain yang mulai berbenah dalam hal pengemasan sekaligus promosi kepada para penontonnya di seluruh dunia. Serie A pun kalah bersaing dengan Liga Primer Inggris, Bundesliga, bahkan La Liga sekalipun dalam hal menjual liga mereka sendiri.

Ditambah dengan prestasi tim-tim Serie-A yang semakin menurun dalam ajang Liga Champions Eropa (prestasi mencolok terakhir adalah Inter Milan yang meraih treble winner musim 2009/2010 dan Juventus yang menjadi runner-up musim 2014/2015). Sehingga penurunan dan kenaikan yang berjalan lambat, membuat Serie-A makin jarang orang yang ingin ataupun bahkan hanya sekadar mengikuti Serie-A Italia.

Tapi, bukan berarti pamor Serie-A benar-benar redup di mata dunia, khususnya di Indonesia. Hal ini masih dapat terlihat dari antusiasme masyarakat yang cukup besar untuk datang dan melihat Calcio Legend XI berlatih di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada Jumat (20/5) sore.

Skuat Calcio Legend XI ini sendiri akan menghadapi tim Primavera Baretti dalam laga yang diselenggarakan oleh Grande Evento. Pertandingan ini akan digelar pada Sabtu (21/5) malam yang mempertemukan antara legenda-legenda Serie-A melawan para pemain yang pernah menjadi bagian dari skuad Indonesia dari Primavera Baretti.

Salah satu suporter asal Jakarta yang hadir ke SUGBK Jumat (20/5) sore, Ibrahim, mengakui bahwa ia datang ke GBK karena memang ia mengidolakan salah satu klub Serie A, AC Milan. Selain itu, ia juga datang karena memang ingin melihat para legenda Serie A yang akan bertanding esok harinya.

"Saya udah jadi pendukung AC Milan dari sejak 2003, bang. Kalau tidak salah dari zaman mereka juara Liga Champions Eropa itu," ujarnya.

Pemuda yang juga tinggal di Palmerah ini mengakui bahwa ia menyukai AC Milan dan juga Serie A karena terkesan dengan kentalnya aspek taktikal dalam setiap laga Serie A. Ibrahim pun mengakui bahwa hal inilah yang membuat Serie A tetap menarik bagi dirinya di tengah semakin maraknya suporter-suporter klub Inggris di Indonesia.

"Saya suka Serie A karena liga ini penuh sama taktik, bang. Emang sih lebih lamban dari Liga (Primer) Inggris, tapi justru itu yang bikin asyik karena para pemain itu gak asal lari dan gerak aja dalam sebuah pertandingan," tambahnya.

Bukan hanya Ibrahim saja yang masih mau menikmati Serie A, masih banyak juga suporter-suporter lain yang menganggap Serie A itu asyik dengan datang ke latihan Calcio Legend tadi sore. Salah satunya adalah para Juventini asal Jakarta yang sengaja datang ke SUGBK untuk menyaksikan pemain-pemain yang pernah menjadi idola kota Turin seperti David Trezeguet, Ciro Ferrara, atau sang seniman lapangan dari Italia, Alessandro Del Piero.

Para suporter Juve yang meminta tanda tangan. (foto: Randy Aprialdi S)

Teriakan-teriakan dan sekaligus chant-chant yang memuja Juve mereka gemakan di stadion. Mereka mengelu-elukan nama para idola yang pernah berkarir di Serie-A dan mencapai berbagai prestasi itu. Bahkan, sampai ketika bus yang mengangkut Calcio Legend meninggalkan SUGBK, mereka masih meneriakkan nama-nama pemain kebanggaannya.

"Oh, Trezeguet, Trezeguet!" teriak mereka sembari mengangkat tangan mereka tinggi-tinggi ke langit.

Namun, bukan berarti tidak ada kegetiran di situ. Ibrahim, si Milanisti dari Palmerah ini, berujar bahwa ia menyayangkan berkurangnya animo Serie A Italia dari musim ke musim, yang salah satu faktornya, menurutnya, adalah karena tidak ada televisi lokal yang menayangkan siaran Serie A secara langsung.

"Terakhir itu TVRI ya, bang, yang nayangin Serie A secara langsung. Udah itu ga ada lagi. Saya aja sampai harus beli tv kabel bang biar bisa tetep lihat AC Milan. Kalau kata saya sih, itu bang yang bikin Serie A jadi ga terkenal lagi kaya dulu," ungkapnya.

Memang tidak bisa dipmungkiri bahwa Serie A mengalami penurunan massa, tidak seperti ketika masa jayanya pada era 90an lalu. Tapi, dengan masih adanya para suporter yang menghadiri SUGBK untuk melihat sesi latihan Calcio Legend, setidaknya, masih bisa dilihat kalau Serie A belum kehilangan pamornya, utamanya bagi para pecinta aspek taktikal dalam sepakbola.

Ed: RAS

Komentar