Mengenal Kompetisi Berformat Apertura dan Clausura

Cerita

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Mengenal Kompetisi Berformat Apertura dan Clausura

Hampir setiap hari, seluruh pecinta sepakbola di dunia mengikuti perkembangan sepakbola di Eropa. Dimulai dari kegiatan transfer pemain, hingga kesebelasan mana yang menjadi juara liga.

Namun tak demikian dialami oleh sepakbola Amerika Latin. Tak banyak dari kita yang mengikuti benar sepakbola apa yang terjadi di sana. Bahkan tak sedikit dari kita yang mengetahui sistem liga di Amerika Latin yang dalam semusim dibagi menjadi dua.

Sistem ini dikenal dengan Apertura dan Clausura, yang namanya diambil dari bahasa Spanyol yang memiliki arti pembukaan dan penutupan. Dalam sistem ini, satu musim liga dibagi menjadi musim pembukaan dan musim penutupan.

river boca

Untuk mengenal lebih jauh mengenai sistem ini, kita harus menilik lebih jauh tentang sistem liga Argentina. Karena, Argentina-lah yang pertama kali memperkenalkan sistem ini, yang kemudian digunakan oleh hampir seluruh kompetisi di Amerika Selatan.

Perjalanan Argentina �Menemukan� Apertura & Clausura

Argentina adalah negara di luar tanah Britania pertama yang menggunakan sistem liga untuk menjalankan kompetisi sepakbolanya. Pada awal terbentuknya, sejak masih berstatus amatir, format liga yang digunakan sama seperti yang digunakan di negara-negara Inggris Raya yaitu dengan format round-robin atau sistem bertemu.

Setiap kesebelasan yang berkompetisi, saling bertemu sebanyak dua kali, kandang-tandang, dalam satu musim kompetisi. Tim juara ditentukan dengan jumlah poin terbanyak yang dikumpulkan, sistem yang hingga saat ini kita kenal digunakan di Britania dan juga Eropa.

Namun sistem ini membuat sejumlah kesebelasan kesulitan bersaing dengan tim papan atas seperti River Plate, Boca Juniors, Indepediente, Racing Club, dan San Lorenzo. Dalam 36 tahun kompetisi, pemenang liga merupakan di antara kelima tim tersebut. Hal ini menghilangkan gairah kompetisi di Argentina.

Oleh karena itu, Asosiasi Sepakbola Argentina (AFA) mencari sistem baru. Dan pada 1967, dengan memunculkan sistem Metropolitano dan Nacional. Metropolitano diselenggarakan pada Maret hingga Agustus, sementara Nacional pada September hingga Desember.

Metropolitano dan Nacional menghasilkan juara masing-masing. Berbagai metode pun digunakan pada masing-masing kompetisi. Dimulai dari dibagi ke dalam dua grup, sistem round robin penuh, dan juga atau round robin tunggal.

Sistem ini terbukti berhasil memunculkan juara-juara baru. Kesebelasan-kesebelasan seperti Estudiantes, Velez Sarsfield, dan Chacharita Juniors mulai bersaing di papan atas bahkan menjadi juara.

Namun pada 1984, pelatih timnas Argentina saat itu, Carlos Salvador Bilardo, mengusulkan kompetisi di Argentina mengikuti sistem yang digunakan di Eropa. Saat itu Eropa tengah menggunakan sistem round-robin ditambah sistem promosi-degradasi.

Namun sistem yang digunakan di Eropa itu tak semata-mata ditiru oleh Argentina. Mereka memodifikasi kembali sistem liga , khususnya untuk menentukan kesebelasan yang terdegradasi. Maka ditemukanlah formula rata-rata poin dalam tiga musim terakhir terendah untuk degradasi, bukan poin terendah dalam musim tersebut.

Formula rata-rata poin dalam tiga musim terakhir terendah ini diciptakan untuk melindungi kesebelasan-kesebelasan besar (dan juga kaya) agar tetap berada di kompetisi teratas liga Argentina. Pada 1981, San Lorenzo yang sebelumnya langganan bersaing di papan atas terdegradasi, di mana pada musim berikutnya kompetisi teratas Argentina menjadi kurang meriah.

Ide itu pun muncul saat kesebelasan besar lainnya, Rver Plate, tengah berjuang di papan tengah. Bahkan pada 1983, River Plate berada di peringkat 18 dari 19 peserta liga. Beruntung pada Nacional 1984, River Plate menjadi juara grup D di Nacional yang membuat mereka kembali berkompetisi di Metropolitano 1984.

Sistem degradasi dengan rata-rata poin tiga musim terakhir pun mulai digunakan pada 1984. Pada musim tersebut, River Plate berhasil finish di urutan ke-4. Dan poin yang diraih pada musim tersebut sudah cukup menyelamatkan River dari jurang degradasi.

Kembali pada format kompetisi, lima tahun setelah meniru sistem kompetisi di Eropa, format kompetisi kembali berubah. Bagaimanapun, sistem ini kurang lebih sama seperti format liga Argentina pada awal-awal kompetisi di Argentina bergulir. Banyak kesebelasan yang sulit bersaing di papan atas.

Pada 1990, barulah diperkenalkan sistem Apertura dan Clausura. Satu kemenangan bernilai dua poin, jika imbang pertandingan dilanjutkan dengan adu penalti. Satu musim kompetisi dibagi menjadi dua kejuaraan: paruh pertama dan paruh terakhir. Untuk menentukan juara, juara masing-masing kejuaraan akan dipertemukan pada akhir kompetisi.

Format ini tak menggunakan sistem kandang-tandang dalam satu Apertura atau Clausura. Pertemuan pertama akan terjadi di Apertura, dan pertemuan kedua terjadi di Clausura. Misalnya jika kesebelasan A menjadi tuan rumah saat menghadapi kesebelasan B pada Apertura, pada Clausura giliran kesebelasan B yang menjadi tuan rumah.

festejos por pellegrini y el monumento de hinchas de nob. LA CAPITAL/Marcelo Rubén Bustamante (Rosario - Argentina - Tags: Deportes)

Namun pada tahun pertama digulirkannya sistem ini, terjadi sebuah kontroversi. Babak final yang mempertemukan Newell`s Old Boys sebagai juara Apertura, dengan Boca Juniors sebagai juara Clausura, dimenangkan Newell`s lewat adu penalti. Hal ini dianggap tidak adil bagi Boca Juniors karena pada Clausura, Boca tak sekalipun kalah.

Maka pada 1991, AFA memutuskan bahwa kesebelasan peringkat teratas pada Apertura dan Clausura dihitung sebagai juara, tak kembali dipertemukan pada akhir musim. River Plate menjadi juara pertama pada Apertura, sementara juara pertama Clausura diraih Newell`s Old Boys.

Menjadi Ciri Khas Format Kompetisi Sepakbola Amerika Latin

Format Apertura dan Clausura ini dianggap menjadi format ideal bagi liga Argentina. Modifikasi pun hanya terjadi pada 1995 ketika nilai satu kemenangan menjadi tiga poin, bukan lagi dua seperti pada periode 1991 hingga 1994.

Dengan format seperti ini setiap kesebelasan dianggap lebih berpeluang menjadi juara. Kompetisi Apertura dan Clausura yang setiap timnya hanya berlaga 19 kali di masing-masing kompetisi, membuat persaingan akan menjadi lebih ketat. Juara-juara baru pun bermunculan.

Karenanya, format ini pun mulai diadopsi oleh negara-negara lain di Amerika Selatan. Tujuannya tak jauh berbeda, yaitu agar kompetisi lebih kompetitif, yang ditandai dengan lahirnya juara-juara baru, alias yang tidak itu-itu saja.

Uruguay menjadi negara Amerika Selatan pertama yang mengadopsi sistem Apertura dan Clausura ini. Liga Primer Uruguay mulai memberlakukan format ini pada 1994, tiga tahun setelah Argentina memperkenalkan format Apertura dan Clausura. Bedanya, Liga Uruguay hanya menghasilkan satu juara, karena di akhir musim masing-masing juara Apertura dan Clausura akan dipertemukan.

Hampir seluruh liga di Amerika Selatan saat ini menggunakan sistem ini. Cile, El Savador, Honduras, Meksiko, Venezuela, dan Peru memulainya sebelum tahun 2000-an. Sementara Bolivia, Kolombia, Kosta Rika, Paraguay, Panama dan Nicaragua menggunakan format ini pada awal 2000-an.

Namun tak semua negara Amerika Latin menggunakan sistem ini. Brasil adalah satu-satunya negara Amerika Selatan yang konsisten menggunakan format kompetisi round-robin, satu musim penuh dengan kandang-tandang tanpa dibagi ke dalam dua waktu sama seperti di Eropa.

Hanya saja kompetisi di Brasil dimulai pada Mei dan berakhir pada Desember. Hal ini dikarenakan Brasil memiliki turnamen antarwilayah bagian pada periode Januari hingga April.

Sebenarnya, sebelum negara-negara Amerika latin ini menggunakan sistem seperti Apertura dan Clausura, terdapat dua negara Asia yang mempraktekkan format serupa. Keduanya adalah Jepang dan Korea Selatan.

Jepang menggunakan format Babak 1 dan babak 2 sejak 1993. J-League yang kala itu mulai terbentuk memang tengah mencari-cari format kompetisi yang ideal. Pada 1996, 2002, dan 2003, sempat dicoba satu musim kompetisi penuh layaknya di Eropa. Pada 2005 hinga 2014, kompetisi ditetapkan menggunakan round robin seperti di Eropa. Namun untuk musim 2015, format kembali berubah menjadi dua babak seperti awal berdirinya J-League hanya saja tetap menghasilkan satu juara.

Sementara itu, Korea Selatan beberapa kali menggunakan format seperti ini sebelum tahun 90-an, tepatnya pada 1984. Namun sistem ini hanya berjalan sebanyak enam kali, pada 1986, 1995, 2004, 2005, dan 2006, karena dianggap memusingkan oleh publik Korea Selatan.

***

Saat ini, ketika negara-negara di Amerika Selatan meniru apa yang dilakukan oleh Argentina terkait format kompetisi, Argentina tengah mencoba format yang baru. Kompetisi Apertura dan Clausura yang sempat berubah menjadi Torneo Inicial dan Final, kembali menggunakan satu kompetisi penuh round-robin. Tentunya dengan modifikasi.

Untuk musim 2015, 30 tim akan bertanding satu sama lain sebanyak satu kali. Meskipun begitu, kesebelasan yang memiliki rivalitas dengan kesebelasan lain akan memainkan dua pertandingan kandang tandang.

Meskipun begitu, format ini akan kembali berubah pada 2016. Format pada 2015 ini merupakan format untuk menyaring 22 kesebelasan terbaik di Argentina yang akan berkompetisi pada musim berikutnya.

Komentar