Ganjar Mukti, dari Pantai Pangandaran ke Pantai Pulau Dewata

Cerita

by Aun Rahman

Aun Rahman

Penulis & Penyunting. Pecinta sepakbola lokal dan Asia. Bermimpi Indonesia Raya berkumandang di Piala Dunia. Kontak : rahman.aun@gmail.com

Ganjar Mukti, dari Pantai Pangandaran ke Pantai Pulau Dewata

Meskipun sebenarnya sudah bermain di level kompetisi sepakbola Indonesia sejak dua tahun lalu, nama Ganjar Mukti baru melejit di kompetisi Bali Island Cup 2016. Menggeser dua nama pemain muda lain yaitu Syaeful Anwar dan Hansamu Yama, Ganjar Mukti kemudian terus menemani Bobby Satria di jantung pertahanan Bali United.

Namanya semakin menggema setelah bermain luar biasa saat timnya berhadapan dengan Persib Bandung. Dalam pertandingan tersebut, selain berhasil mengawal pergerakan para pemain Persib, ada dua kejadian yang akan selalu diingat, yaitu ketika Ganjar melakukan sapuan terhadap peluang dari David Laly, dan tentunya tekel terhadap Yandi Sofyan yang membuat adik kandung Zaenal Arief tersebut sampai harus ditandu keluar lapangan.

Terkait insiden tersebut, dalam wawancaranya kepada penulis, Ganjar sudah meminta maaf dan menjenguk Yandi. Ganjar pun mengaku penyerang Persib tersebut sudah memaafkan dirinya dan memaklumi kejadian tersebut yang dianggap wajar terjadi dalam sebuah pertandingan.

Tekel Ganjar terhadap Yandi Sofyan Tekel Ganjar terhadap Yandi Sofyan


"Sudah minta maaf ke Yandi, Yandi juga bilang (tekel) itu hal biasa dalam sebuah pertandingan," ujar Ganjar. "Yang pasti saya tidak ada niat buat bikin cedera, saya sebagai pemain belakang bertugas untuk menghentikan lawan. Saat itu Yandi sudah sendirian, jadi yang ada dalam pikiran saya waktu itu gimana caranya bola berhasil disapu, jadi tekel itu murni tindakan profesional."

Meski namanya mencuat bersama Bali United, bukan berarti ia merupakan seorang pemain kelahiran Bali. Tapi sebenarnya, ia adalah putra daerah Sunda, yang berasal dari Pangandaran, Ciamis, Jawa Barat.

"Sekarang sih ikut keluarga tinggal di Tangerang, soalnya Ayah saya kan PNS di sana, tapi saya sebenernya mah getih (darah-red) Sunda," terang Ganjar. "ibu saya asalnya dari Pangandaran, keluarga saya juga banyak di sana dan juga di Bandung, saya waktu kecil sering banget main di pantai Pangandaran. Di rumah juga saya bahasa sehari-harinya bahasa Sunda."

Tidak juga banyak yang tahu kalau darah sepakbola memang mengalir di nadi pemuda kelahiran 12 Juni 1994 ini. Ganjar adalah putra dari mantan pemain Persita Tangerang era 80 hingga 90-an, Sony Karsan. Ganjar pun tidak menampik kalau jalan hidup yang kini dipilihnya banyak terpengaruh oleh sang Ayah.

"Sejak umur tiga tahun sudah dibawa Ayah ke stadion untuk liat dia main. Ayah juga bilang kalau saya ada bakatnya sebagai pemain bola. Ya nggak nyangka juga sih bisa jadi pemain bola kayak ayah. Pengaruh dari kakek yang sering bawa saya ke Stadion Siliwangi waktu saya kecil juga bikin saya makin pengen jadi pemain bola, kakek saya bobotoh pisan," tambahnya.

Ganjar kemudian menceritakan kisah bagaimana akhirnya ia berlabuh di Bali United.

"Semua dimulai ketika saya baru lulus Diklat Ragunan tahun 2012," kenang Ganjar.�"Klub pertama saya itu PS Bengkulu, kemudian hijrah ke Sriwijaya U-21 karena diajak sama coach Subangkit. Setelah juara ISL U-21 tahun 2013, saya termasuk pemain yang bakal dikasih kontrak panjang dan bakal segera dipromosikan ke tim senior. Tapi akhirnya saya tolak, karena saya masih ingin cari pengalaman di tempat lain."

"Waktu pulang ke Tangerang, kemudian ditawarin main di Persita. Dan Persita adalah tim pertama saya di level Liga Super. Karena Persita degradasi (Di ISL 2014) saya akhirnya cari klub baru. Terus dengar Bali United mengadakan seleksi, akhirnya saya datang ke Bali.� Dan lolos, mungkin karena memang pelatihnya (Indra Sjafrie) suka pemain muda."
Ganjar bersalaman dengan Indra Sjafrie usai menandatangani kontrak dengan Bali United Ganjar bersalaman dengan Indra Sjafrie usai menandatangani kontrak dengan Bali United


"Awalnya tinggal di Bali agak sulit, terutama masalah makanan. Tapi karena pernah merantau ke Sumatra, jadi sudah cukup biasa main di daerah yang berbeda. Sekarang saya juga sudah adaptasi dan akan terus berjuang dan memperbaiki diri buat tempat saya di tim," ujar pemuda yang mengidolakan Giman Nurjaman dan Fabiano Beltrame ini.

"Adu sprint dengan Boas" adalah jawaban Ganjar ketika penulis mana yang ia pilih di antara duel udara dengan Bambang Pamungkas atau adu kecepatan dengan Boas Solossa dalam situasi serangan balik.

"Saya merasa keunggulan saya adalah di bola bawah, lebih mudah dibaca dibandingkan bola atas, soalnya bolanya keliatan he he. Kalo bola atas, apalagi lawanya Bambang, saya sudah pasti kesulitan. Tetapi kalo ditanya penyerang yang paling sulit yang pernah dihadapi, ya (Christian) Gonzales, usianya sudah mendekati akhir-akhir tapi masih berbahaya dan pergerakannya juga bagus," jelasnya.

Sebagai putra daerah Jawa Barat, Ganjar juga menyimpan keinginan bahwa suatu hari nanti ia ingin sekali memperkuat Persib Bandung. Ia berujar bahwa seluruh pemain asal Jawa Barat pasti ingin sekali untuk mengenakan warna jersey kebesaran berwarna biru khas Persib Bandung.
Posting instagram Ganjar Mukti terkait darah Sunda dan legenda Persib Bandung, Ajat Sudrajat. Posting instagram Ganjar Mukti terkait darah Sunda dan legenda Persib Bandung, Ajat Sudrajat.


"Ya, posting Instagram itu memang setelah main lawan Persib, semua pemain asal Sunda dan Jawa Barat, keinginan terbesarnya adalah main buat Persib. Saya pengen banget suatu hari nanti bisa membela Persib."

"Waktu kemaren (13 Febuari), main di Siliwangi rasanya juga luar biasa. Dulu waktu kecil diajak kakek buat nonton dari tribun, nonton Zaenal Arief, nonton Yaris Riyadi dari pinggir lapangan. Nggak nyangka aja kemaren biasanya di tempat penonton sekarang justru main di lapangan. Dan yah, bobotoh selalu luar biasa," tutupnya.

***

Kemunculan pemain seperti Ganjar seakan menambah daftar para pemain muda yang bersinar di era bekunya kompetisi reguler dan diselenggarakanya banyak turnamen pengganti. Ganjar menjadi yang kesekian muncul ke permukaan setelah nama-nama sepert Yanto Basna, Yogi Rahadian, Ahmad Hisyam Tolle, dan Gian Zola menjadi perbincangan publik karena kemampuan yang mereka miliki.

Foto : instagram.com/ganjarmukti, netmediatama

Komentar