Manis Pahit Pemandu Bakat Sepakbola Eropa

Cerita

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Manis Pahit Pemandu Bakat Sepakbola Eropa

Sepakbola bukan hanya soal pemain dan pelatih, tapi lebih daripada itu. Sepakbola juga melibatkan tukang bersih-bersih stadion, kitman, fisioterapis, pemandu bakat, dan profesi lainnya. Tanpa melibatkan itu semua rasanya akan susah melihat klub berbicara banyak.

Bahkan di era sepakbola modern, klub-klub yang memiliki kemampuan finansial juga tak melupakan budaya mencari “bakat” pemain, selain mengembangkan produk lokal di akademi, seperti halnya La Gaillette, akademi yang dikenal produktif dalam menelurkan bakat di Perancis. Sebab, hal ini memiliki memiliki efek jangka panjang yang begitu luas. Tak hanya dapat dimainkan di kemudian hari, tapi juga dapat berkontribusi secara finansial terhadap klub.

Pengertian pemandu bakat memang sangat luas. Sebab, pemandu bakat tak hanya mencari pemain tapi juga mencari seluk beluk taktik hingga manajemen klub tertentu, baik yang akan dilawan maupun diajak kerjasama. Pengaruh pemandu bakat dalam sebuah klub tak bisa terelakkan lagi.

Munculnya talenta-talenta berbakat belakangan menjadi fenomena tersendiri. Bahkan dalam beberapa hari terakhir, media-media besar Eropa sibuk menuliskan tentang sosok pemandu bakat yang hadir di tengah-tengah pertandingan pekan ini seperti kala KAA Gent melawan Wolfsburg dan Anderlecht melawan Olympiacos.

Pemandu bakat sendiri memang jarang sekali dibahas di Indonesia. Bahkan penulis hanya mengetahui nama Indra Sjafri, yang katanya sering mengunjungi daerah-daerah untuk menemukan pemain-pemain muda berbakat. Di luar, siapa yang tak tahu nama-nama seperti Leonardo Araujo, Francis Cigagao, dan Øyvind Johansen. Tanpa mereka, mungkin klub-klub besar Eropa tak menemukan nama-nama Kaka, Hector Bellerin, dan Martin Ødegaard.

Di Eropa maupun Amerika Selatan, pemandu bakat sudah menjadi profesi khusus. Bahkan, salah satu developer game terkenal, Electronic Arts, sering membuka lowongan di laman “EA Sports Football Talent Scout” yang nantinya akan bekerja untuk mencari data mengenai sebuah pemain dan klub. Hal yang sangat menyenangkan bila dilakukan oleh penikmat sepakbola.

Halaman EA Sports Talent Scout
Halaman EA Sports Talent Scout

Tak hanya itu, Real Madrid, salah satu klub papan atas Eropa juga menjadikan pemandu bakat sebagai suatu sarana belajar. Yang mana mereka membuat suatu jurusan dengan nama “Master in Talent Identification and Development in Soccer” hasil kerjasama dengan Escuela Universitaria Real Madrid.

Tujuan sekolah ini bahkan sangat jelas dipaparkan dalam website-nya: menghasilkan lulusan yang mampu mengidentifikasi, menemukan, dan mengembangkan talenta seseorang dalam bermain sepakbola, kemampuan untuk mengatur tim, dan menilai pemain serta tim dalam latihan maupun kompetisi tertentu. Sayangnya, sekolah ini hanya dibuka dalam kelas berbahasa Spanyol saja. Sekolah ini bahkan memberikan magang ke beberapa klub sepakbola besar Eropa.

Melihat hal-hal diatas, rasanya menjadi pemandu bakat di sepakbola sangat menyenangkan. Tak hanya menonton sepakbola setiap hari, mereka juga dipastikan akan mengunjungi daerah-daerah baru sewaktu-waktu. Traveller banget, lah!

Tapi, nyatanya dunia pemandu bakat tak semenyenangkan itu. Beberapa pemandu bakat butuh banyak waktu untuk melihat bakat seorang pemain dalam bermain sepakbola. Tak cukup itu, Michael Calvin, penulis buku The Nowhere Men, mengaku bahwa tak ada sisi glamor dalam kehidupan seorang pemandu bakat.

Di buku yang membahas mengenai seluk beluk kepemandu-bakatan, beberapa contoh pemandu bakat mengalami setiap tekanan perharinya.

“Ada seorang pemandu bakat sebuah tim bernama Steve Jones. Ia bercerita bahwa ia ditugaskan untuk memantau taktik yang digunakan untuk calon lawan timnya. Ia pun membuat sebuah laporan sepanjang 13 halaman, yang ia kerjakan usai laga di malam hari dan harus dilaporkan ke klub sebelum tengah malam,” ujar Calvin kepada BBC.

“Jones berkata bahwa ia bekerja dalam delapan jam seharinya dan ia hanya dibayar empat pounds perharinya. Itu belum termasuk perjalanan jauh yang setiap hari ia lakukan,” tambahnya.

Calvin menjelaskan bahwa perjalanan dan kegiatan yang dilakukan pemandu bakat tak selamanya menyenangkan.

“Pemandu bakat adalah orang yang mengendarai kendaraannya jam satu dini hari tanpa siapa pun. Jika kendaraan Anda belum menyelesaikan 200.000 mil dalam tiga tahun, Anda belum benar-benar seorang pemandu bakat,” tambahnya.

“Pengalaman terbesar saya tentu saat melihat Raheem Sterling. Saya sempat berada di lingkungan yang penuh dengan kriminalitas dan kaum marjinal. Selain itu, lawan bicara saya hanya sekelompok St. Raphs Soldiers (salah satu gangster berpengaruh di London). Oh, Tuhan saya tidak tahu sedang berada di mana,” tambahnya.

Melihat fakta di lapangan, seorang pelatih lebih dikenal daripada pemandu bakat. Intinya, bagi kalian yang bermimpi menjadi pemandu bakat harus dipikirkan lagi. Menjadi pemandu bakat tak semenyenangkan itu.

Komentar