Pesan Ancelotti untuk (Pelatih) Real Madrid

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Pesan Ancelotti untuk (Pelatih) Real Madrid

Hingga pekan ke-14 Liga Spanyol, Real Madrid hanya berjarak empat poin dari pemuncak klasemen Barcelona. Perbedaan empat poin memang terdengar tidak terlalu lebar. Namun, mengharapkan Barcelona untuk terpeleset adalah sesuatu yang sulit. Salah-salah, justru Madrid yang tak bisa menemukan konsistensi.

Hingga hampir pertengahan musim, masih terdengar rumor yang menyatakan kalau ada masalah terkait sang pelatih, Rafael Benitez, dengan sejumlah pemain. Selain itu, Benitez pun dikritik karena cara pandangnya yang pragmatis dan membawa Madrid tak ubahnya seperti klub macam Getafe. Satu-satunya alasan mengapa Benitez bisa membawa Madrid ke papan atas tak lain karena mereka dihuni oleh skuat yang mumpuni.

Mantan Pelatih Real Madrid, Carlo Ancelotti, dalam wawancaranya dengan Independent, memberikan kisi-kisi tentang kesuksesannya yang berhasil meraih lima gelar Liga Champions sebagai pelatih dan pemain. Menurutnya, tugas utama dari seorang pelatih adalah membuat pemilik atau presiden klub senang. Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan kerja keras bersama pemain dan segenap elemen yang ada di klub.

“Kunci sukses sebagai manajer adalah hubungan Anda dengan pemain. Klub besar dan pemain yang penting akan sukses kalau lingkungannya mendukung. Para pemain harus menikmati pekerjaan mereka dan bebas mengekspresikan bakat mereka,” tutur Ancelotti.

Soal nama-nama besar di dalam tim, Ancelotti justru bersyukur. Menurutnya, para pemain seperti Cristiano Ronaldo, Zlatan Ibrahimovic, Kaka, dan Zinedine Zidane, justru mudah untuk diajak bekerja sama, “Karena mereka amat profesional.”

Selain profesionalitas, Ancelotti beranggapan bahwa para pemain top memiliki mentalitas juara yang mana membantu setiap pelatih yang menanganinya. “Tentu, terkadang aku bisa marah, tapi biasanya hubunganku dengan para pemain tenang,” tutur pelatih kelahiran 10 Juni 1959 ini.

Apa yang diucapkan Ancelotti sejatinya memberikan motivasi buat Benitez untuk lebih dekat dengan pemain. Terlebih, Ancelotti mendapatkan pengalaman baru usai ia melatih Real Madrid. Ia pun memberi peringatan untuk Benitez.

“Pengalaman memberi tahu Anda bahwa dengan tidak memenangkan gelar, mereka (manajemen) akan mendepakku kalau aku tak menang. Aku tahu ketika aku melatih Real Madrid bahwa ada kemungkinan ke arah situ (dipecat),” ucap Ancelotti.

Baca juga: Ancelotti Pelatih Hebat Didikan Arrigo Sacchi

Merindukan Sosok Ancelotti?

Ambisi terbesar Ancelotti adalah untuk memenangkan gelar Liga Champions lainnya. Menurutnya, ia beruntung bisa meraih tiga gelar sebagai pelatih, “Aku ingat setiap momen dari kemenangan tersebut. La Decima amat spesial karena sejak pertama aku tiba di Madrid, semua orang membicarakan tentang itu.”

Dengan ambisi yang begitu besar, Ancelotti tentu memerlukan kesebelasan yang mampu menampung ambisinya tersebut. Dari pengalamannya, ia memerlukan adanya ikatan antara pemain dan segala elemen di klub. Jika itu terjadi, gelar Liga Champions bukan tidak mungkin untuk digapai.

Sosok Ancelotti mungkin saja dirindukan. Ia memberikan ketenangan di ruang ganti ataupun di media. Ancelotti biasanya tak mau membawa masalah di dalam tubuh klub ke media. Ini pula yang membuat penggemar terkesan tidak terlalu memusingkan kepergian Xabi Alonso dan Angel Di Maria dari Real Madrid.

Di Madrid, Ancelotti memang tak bergelimang trofi. Selama dua musim melatih, tidak sekalipun ia meraih gelar juara La Liga. Meskipun demikian, capaiannya dengan menjadi juara Liga Champions membawa Real Madrid meraih La Decima, atau gelar kesepuluh, yang merupakan gelar terbanyak bagi kesebelasan di Eropa, menjadi amat prestisius.

Baca juga: Ancelotti dan Hubungan Mesranya di Liga Champions

Saat melatih Madrid, sebenarnya banyak tantangan yang harus ia hadapi. Salah satunya adalah kebijakan transfer yang kurang tepat.

Saat pertama kali datang ke Real Madrid, Ancelotti sudah dihadapkan pada sebuah tantangan. Ia mesti memaksimalkan pemain termahal di dunia, Gareth Bale, yang didatangkan manajemen beberapa hari setelah kedatangannya.

Di musim keduanya bersama Madrid, Ancelotti pun harus bisa memoles Toni Kroos dan James Rodriguez yang nilai transfer keduanya mencapai 70 juta pounds kalau digabungkan. Ancelotti tak banyak bicara. Ia tak menyalahkan manajemen saat banyak orang yang mencercanya karena pembelian yang terkesan tak efektif.

Musim lalu, Real Madrid dianggap mengalami penurunan kualitas saat bertahan. Ancelotti dianggap salah menempatkan Kroos sebagai gelandang bertahan, padahal posisi aslinya adalah gelandang serang. Ancelotti tak bisa mengelak dengan memainkan Kross, toh ia tak punya gelandang yang kualitasnya sama seperti Xabi Alonso yang dijual ke Bayern Munich.

Ancelotti pun disalahkan karena menyia-nyiakan para pemain mahal. Dengan formasi tiga gelandang dan tiga penyerang, Ancelotti cuma bisa menurunkan Toni Kroos, James Rodriguez, Luka Modric, Cristiano Ronaldo, Gareth Bale, dan Karim Benzema. Saat Bale cedera atau tak bisa main, Ancelotti menurunkan Isco di sisi kanan. Peran Isco dianggap tidak begitu memberikan pengaruh besar. Publik lupa kalau Madrid telah menjual Angel Di Maria ke Manchester United.

Saat Di Maria pergi, Ancelotti tak mau menyalahkan klub. Ia malah menyatakan walau Di Maria “bertenaga” tapi ia sering kehilangan kontrol dan gagal menempatkan umpan dengan tepat. Padahal, Ancelotti memberi gestur kalau ia sebenarnya tak rela kehilangan Di Maria yang pindah ke Manchester United.

Segala ketenangan ini yang menjadi salah satu faktor mengapa Ancelotti bisa awet melatih AC Milan. Selama kurang lebih delapan tahun, Ancelotti mempersembahkan dua gelar Liga Champions dan satu gelar Serie A. Direksi AC Milan memercayai Ancelotti meski sang pelatih baru memberi satu gelar. Perpisahannya dengan Milan pun tak lain karena ia mengundurkan diri untuk bergabung bersama Chelsea.

Sejak membesut Juventus, rasio kemenangan Ancelotti selalu di atas 50%. Bahkan kala menangani Real Madrid, presentase kemenangannya mencapai 74% atau yang terbesar sepanjang sejarahnya menjadi pelatih. Jika dirata-ratakan, sepanjang kariernya Ancelotti berhasil memenangi 58,25% pertandingan. Angka ini sedikit lebih tinggi dari yang dicapai Sir Alex Ferguson dengan 58,14% (Angka ini memang tidak adil karena Sir Alex menangani 2131 laga, sementara Ancelotti hanya 970 laga).

Dari data di atas, kita tidak bisa mengesampingkan bahwa Ancelotti adalah pelatih hebat. Banyak hal yang bisa diambil pelajaran dari saran untuk kompatriotnya sesama pelatih; utamanya pelatih Real Madrid saat ini, Rafael Benitez.

Komentar