Ketika Seorang Bocah 11 Tahun Menjadi Manajer Sepakbola

Cerita

by Zakky BM

Zakky BM

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Ketika Seorang Bocah 11 Tahun Menjadi Manajer Sepakbola

Masih ingatkah kalian dengan tulisan lawas kami yang berjudul “Legenda Seorang Suporter yang Sangat Cerewet?”. Nah, jika tidak, mari saya ingatkan lagi sedikit ceritanya.

Alkisah seorang supporter kesebelasan West Ham United yang bernama Steve Davies hadir saat kesebelasan favoritnya bertanding di laga pra-musim melawan Oxford United. Saat itu, The Hammers bermain buruk dan memancing Steve untuk berkomentar sambil berteriak-teriak dan memaki apa yang ada di lapangan.

Akhirnya, Harry Redknapp yang bertindak sebagai manajer West Ham saat itu terganggu dengan celotehan-celotehan Steve tersebut. Singkat cerita, Steve disuruh bermain oleh Redknapp saat itu juga bahkan sempat mencetak gol, meski akhirnya dianulir karena offside.

***

Sekelumit cerita Steve Davies tersebut mungkin menggambarkan sosok seorang supporter yang gemar mengomentari dan berceloteh semua hal saat menonton di lapangan. Namun, lain halnya dengan kisah yang satu ini. Bukan dipaksa menjadi pemain seperti Steve, melainkan menjadi seorang manajer tim!

Ia adalah Daniel Fryer, seorang bocah cilik berumur 11 tahun asal Wesham, salah satu daerah kecil di wilayah Lanchasire, Inggris. Sebagaimana anak kecil lainnya di berbagai belahan dunia, ia sangat menggemari olahraga si kulit bundar ini.

Suatu ketika, Daniel Fryer yang bertugas sebagai ballboy di Kellamergh Park, markas dari AFC Fylde ini, diberi kesempatan oleh kesebelasan berjuluk The Coasters tersebut untuk menjadi manajer di salah satu pertandingan pra-musim mereka.

Selidik punya selidik, ternyata kesempatan emas ini sejatinya adalah milik Paul Kirkham. Ia memenangkan undian yang digelar pihak kesebelasan untuk para suporter setianya yang memiliki tiket musiman. Namun ternyata, Paul Kirkham tak bisa menghadiri hadiah yang ia terima tersebut karena ada pekerjaan yang tak bisa ia tinggalkan. Jadilah Paul mendonasikan hadiah tersebut untuk Daniel, sang bocah ballboy tersebut.

Sang anak girang bukan kepalang, begitu pula sang ayah. Ayah Daniel mengungkapkan rasa terimakasih sebesar-besarnya kepada Paul karena telah mendonasikan hadiah tersebut kepada anaknya. Ini adalah kesempatan sekali seumur hidup.

Ia juga menambahkan bahwa ia dan Daniel adalah suporter setia dari AFC Fylde. Bahkan, ia sudah memesan tiket tahunan dan juga kostum terbaru untuk musim depan. Menurutnya, kesempatan me-manajeri kesebelasan favorit tentu hal yang luar biasa yang tidak bisa didapatkan orang lain kebanyakan.

Akhirnya, hari itu tiba. Tepat tanggal 29 Juli 2015 lalu, AFC Fylde menjamu kesebelasan Bolton Wanderers. Ketimpangan sangat terlihat jika melihat posisi mereka dalam susudan piramida sepakbola Inggris. AFC Flyde berlaga di divisi Nasional bagian utara (dulu lebih dikenal divisi Conference utara) dan sedangkan Bolton Wanderers berlaga di divisi Championship.

Meskipun mereka terpisah sejauh empat divisi, akan tetapi tuan rumah AFC Fylde tak gentar. Di bawah komando sang bocah cilik, AFC Fylde bermain mengesankan.  Bahkan, untuk menegaskan bahwa ia adalah seorang manajer, pihak klub memberikan jaket khusus untuk Daniel yang bertuliskan “Boss” di bagian belakang jaket tersebut.

Daniel saat mengotak-atik line up tim. (Sumber: mirror.co.uk)
Daniel saat mengotak-atik line up tim. (Sumber: mirror.co.uk)

Ia juga melakukan hal-hal yang lumrah seperti yang dilakukan oleh para manajer umumnya, yaitu merencanakan taktik dan melakukan pergantian pemain saat pertandingan berjalan.

Satu babak berlalu, skor kacamata masih saja betah menghiasi pertandingan petang itu. Namun, ketika babak kedua baru sepuluh menit berjalan, AFC Fylde akhirnya tertinggal 0-1 dari Bolton Wanderers oleh tendangan penalti dari Newell.

Respon cepat dilakukan sang bocah untuk mengubah jalannya pertandingan. Blinkhorn, Wilson dan Kay dimasukkan menggantikan Baker, Lowe dan Allen di menit 65 atau tepat sepuluh menit setelah tertinggal 0-1.

Meski harus menunggu sampai menit 80, akhirnya pergantian pemain oleh sang bocah tersebut membuahkan hasil. Serangan gencar AFC Fylde mampu memaksa pemain bertahan melakukan pelanggaran di kotak penalti. Charles yang maju sebagai eksekutor tak menyia-nyiakan kesempatan. Akhirnya, skor pun berakhir imbang 1-1. Jelas hasil yang tidak buruk bagi debut sang bocah cilik tersebut.

Pasca pertandingan usai, sang bocah tersebut mendapatkan kesempatan untuk melakukan konferensi pers layaknya manajer-manajer setelah mendampingi anak asuhnya di lapangan.

Ia menuturkan bahwa dirinya senang mendapatkan jaket bertuliskan “Boss” tersebut serta ia juga gembira bisa mencoret-coret buku catatan ala manajer-manajer sungguhan yang ia biasa lihat dari pinggir lapangan. Intinya, ia sangat bahagia hari itu.

Mengenai hasil imbang yang diraih timnya tersebut, sang manajer cilik berujar bahwa ia telah memastikan untuk membuat para pemain ada dalam kepercayaan diri yang tinggi sejak memulai laga. Ia tahu betul karena lawan yang dihadapainya adalah kesebelasan dari divisi Championship liga Inggris. Jadi jika minder, alamat habis sudah pastinya. Maka pemain harus percaya diri, agar berani.

PAY-Daniel-Fryer (1)
Daniel saat konferensi pers (sumber: mirror.co.uk)

Bahkan pada kesempatan team-talk di akhir pertandingan, Daniel memuji seluruh punggawa The Coasters dengan berujar "Well Played". Sontak ia mendapat tepuk tangan meriah dari seluruh pemain di ruang ganti kala itu. Ia pun tersenyum malu.

Lalu, bagaimana komentar dari pelatih sungguhan kesebelasan AFC Fylde tentang kinerja si manajer cilik tersebut?

Dave Challinor yang sehari-hari berprofesi sebagai pelatih mengungkapkan kekagumannya kepada Daniel Fryer, si manajer cilik tersebut. Ia berujar bahwa ini akan menjadi wawasan dan pengalaman yang luar biasa bagi si anak bisa mengalami dan duduk di bench serta membaur di ruang ganti dan -- tentu saja-- memberi instruksi.

Well done, Daniel!

Tulisan dan gambar disadur dari BBC.co.uk & Mirror.co.uk

Komentar