Jalan Panjang (Sepakbola) Jerman Mengatasi Rasisme

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Jalan Panjang (Sepakbola) Jerman Mengatasi Rasisme

Sementara rasisme terhadap pemain sepakbola masih terjadi di Spanyol, Italia, Inggris, dan Rusia, tapi itu tak terjadi di Jerman. Mereka sedang merasakan buah manis dari keterbukaan dan penerimaan terhadap kaum minoritas. Jalan yang ditempuh, bagaimanapun, panjang dan tidak mudah.

Para imigran mulai ramai berdatangan ke Jerman selepas Perang Dunia Kedua. Saat itu, Jerman Barat sedang menjalankan program rekonstruksi dan kebangkitan ekonomi. Program ini berjalan lancar dan cepat, sehingga Jerman Barat sembuh dari kerugian perang dalam waktu relatif singkat.

Karenanya, program yang digagas oleh Konrad Adenauer (Kanselir Jerman Barat) dan Ludwig Erhard (menteri ekonomi) ini dikenal dengan nama Wirtschaftswunder atau keajaiban ekonomi. Namun tidak ada keajaiban yang mampu mengatasi kebutuhan Jerman Barat terhadap pekerja yang sangat banyak jumlahnya.

Jerman Barat akhirnya menjalin kerja sama mengenai perekrutan buruh dengan Italia, Yunani, Spanyol, Turki, Maroko, Portugal, Tunisia, dan Yugoslavia. Dari negaranya masing-masing, para buruh berangkat ke Jerman untuk menjadi pekerja tamu. Di Jerman sendiri mereka dikenal dengan nama Gastarbeiter.

Para pekerja tamu dinamakan demikian karena mereka menerima kontrak kerja selama dua tahun. Setelah kontraknya berakhir, mereka diharuskan pulang ke negara asal. Pada praktiknya tidak demikian. Banyak dari mereka yang memilih tidak pulang.

Para Gastarbeier bertahan dan membawa serta keluarganya ke Jerman. Banyak pula di antara mereka yang membangun keluarga di sana. Pembatasan masa tinggal akhirnya dihapuskan, karena para pelaku pemimpin perusahaan juga enggan mengeluarkan biaya tambahan untuk mendatangkan dan melatih para pekerja baru.

Selain dari rekrutmen pekerja tamu, gelombang imigran kembali masuk ke Jerman setelah reunifikasi Jerman Barat dan Jerman Timur. Mereka yang datang pada fase ini adalah para pengungsi dan para pencari suaka dari Eropa Timur.

Banyaknya jumlah mereka sempat membuat keadaan memanas. Setiap Jerman dirundung masalah, para imigran dan keturunannya selalu menjadi kambing hitam. Ketegangan memuncak di awal tahun 1990an. Banyak kekerasan diarahkan kepada para keturunan imigran. Di tahun 1993, lima orang dengan latar belakang Turki ditemukan tewas di Solingen.

Perlahan tapi pasti, keadaan membaik. Angka rasisme menurun. Jerman menerima keberadaan para keturunan imigran dengan tangan terbuka. Malah dengan bangga Jerman memamerkan kepada dunia keterbukaan mereka terhadap para keturunan imigran. Jerman modern adalah Jerman Generasi M; Generasi Multikultural.

Wajah Generasi M yang paling mudah dikenali adalah tim nasional Jerman untuk Piala Dunia 2010. Sebelas dari dua puluh tiga pemain yang berangkat ke Afrika Selatan adalah keturunan imigran.

Serdar Tasci dan Mesut Özil memiliki latar belakang Turki. Lukas Podolski, Miroslav Klose, dan Piotr Trochowski lahir di Polandia. Selain mereka, para pemain keturunan imigran dalam tim nasional Jerman untuk Piala Dunia 2010 adalah Sami Khedira (Tunisia), Dennis Aogo (Nigeria) Cacau (Brasil), Jérôme Boateng (Ghana), Marko Marin (Republik Federal Sosialis Yugoslavia), dan Mario Gómez (Spanyol).

Di Piala Dunia 2014, persentase keturunan imigran menurun. Hanya ada Özil, Khedira, Podolski, Klose, Boateng dan Shkodran Mustafi (Albania). Namun penurunan kuantitas ditutupi oleh peningkatan kualitas.

Sementara di tahun 2010 para keturunan imigran hanya mampu membawa Jerman meraih medali perunggu, empat tahun berselang mereka berhasil membawa Jerman menjadi juara.

Persentase pemain keturunan imigran dalam starting eleven Jerman di partai final mencapai angka 27,27%. Jumlah tersebut pasti sudah lebih banyak lagi jika Khedira tidak mengalami cedera saat pemanasan. Jerman benar-benar telah menuai buah manis dari keterbukaan mereka terhadap kaum minoritas.

Dari negara yang punya catatan hitam dalam hal kebejatan dan kebencian rasialis, melalui program mematikan ala NAZI-Hitler, Jerman beranjak menjadi bangsa yang boleh jadi salah satu yang terdepan dalam membangun keterbukaan dan saling pengertian yang melintasi batas-batas ras. Sejarah yang kelam memberi mereka banyak pelajaran dan mereka mengambil manfaat dari pelajaran sejarah dengan sebaik-baiknya.

Kami juga beberapa kali mengangkat isu rasisme di sepakbola, berikut di antaranya:

Rasisme yang Tak Kunjung Usai di Sepakbola Inggris


Aksi Rasis Suporter Chelsea dan Catatan Buruk Lainnya


Rasisme pun Hadir di Sepakbola Israel


Agar Dakwaan Rasisme Tak Sembarangan Dipakai untuk Menghukum


Ketika Rasisme Ditularkan Sejak Kecil


Komentar