Saat Perjalanan Berubah Rute

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Saat Perjalanan Berubah Rute

Perjalanan adalah rutinitas bagi klub olahraga yang mengikuti kompetisi. Perjalanan darat dan udara menjadi hal yang biasa. Namun, ada kalanya mereka celaka. Beberapa di antaranya meregang nyawa karena pesawat udara.

Pesawat udara adalah transportasi paling aman yang ada saat ini. Dibandingkan dengan transportasi darat, jarang sekali kecelakaan yang menimpa pesawat udara. Namun, karena ekslusifitasnya, kecelakaan pesawat udara selalu menjadi sorotan dunia.

Pesawat udara menjadi pilihan karena efektifitas waktu yang ia miliki. Misalnya, jarak 1200 kilometer Jakarta-Denpasar ditempuh dalam waktu 30 jam lewat perjalanan darat, sementara lewat udara tidak lebih dari dua jam saja. Namun, tentu saja, kecelakaan—walaupun tidak ada yang menginginkan itu semua—bisa dibilang lebih fatal ketimbang kecelakaan di darat.

Tragedi “Munich Air Disaster” hanyalah satu dari sekian banyak kecelakaan pesawat yang menimpa klub olahraga. Ada yang selamat, ada pula yang meninggal seluruhnya. Berikut kami sajikan sejumlah kecelakaan udara yang menimpa klub olahraga.

Ditutup-tutupi Angkatan Laut


(Sumber gambar: listverse.com)

Alianza Lima adalah kesebelasan yang berlaga di Liga Peru. Kesebelasan tersebut merupakan salah satu klub terbesar di Peru, bersama dengan Universitario de Deportes dan Sporting Cristal. Hingga 1986, Alianza Lima telah mengoleksi 17 gelar Liga Peru. Namun, sejak saat itu pula, selama 10 tahun, Alianza Lima tak pernah lagi menjadi pemuncak liga.

Salah satu alasannya adalah karena kecelakaan pesawat yang mereka tumpangi pada Desember 1987. Padahal, ketika itu, mereka diperkuat pemain terbaik pada masanya. Ini terbukti dari hasrat mereka menjadi juara dengan menduduki peringkat kedua pada 1986 dan 1987.

Saat itu Alianza baru saja pulang dari Pucallpa, daerah dengan hutan lebat di timur Peru. Mereka menyewa pesawat milik Angkatan Laut (AL) Peru, yakni Fokker F27-400M. Pesawat naas tersebut mengangkut 44 orang yang berisi pemain, manajer, staff, pemandu sorak, dan kru pesawat itu sendiri.

Setelah mengangkasa, kru pesawat menyadari ada kerusakan pada pesawat tersebut. Roda pendaratan terkunci, tak mau membuka. Setelah berdiskusi dengan menara pengawas, pilot mencoba untuk melakukan pendaratan darurat. Sayangnya, karena terbang rendah dan ada kerusakan mekanik, pesawat terjatuh ke Samudera Pasifik.

Jatuhnya pesawat yang mengangkut Alianza Lima, nyatanya ditutup-tutupi oleh AL sebagai pemilik pesawat. Mereka tidak mengeluarkan hasil penyelidikan dan tidak memperkenankan siapapu untuk melakukan investigasi terhadap kecelakaan tersebut.

Karena hal ini, AL pun digugat dengan tuduhan pesawat yang ditumpangi Alianza Lima berada dalam kondisi yang buruk. AL dituduh menyembunyikan fakta yang sebenarnya agar citra mereka tidak tercemar.

Butuh waktu hingga 19 tahun untuk mengungkap kasus tersebut. Pada 2006, hasil resmi terhadap penyelidikan tersebut mendapat titik terang. Laporan tersebut menerangkan bahwa pilot yang menerbangkan kurang memiliki jam terbang malam. Ia pun gagal menerjemahkan prosedur darurat. Tuduhan terhadap AL 19 tahun silam nyatanya memang benar, kalau pesawat memang bobrok kualitasnya.

Alianza pun melanjutkan kompetisi yang akan berakhir pada awal 1988. Mereka memainkan para pemain yang telah pensiun, pemain dari akademi, dan pemain yang dipinjamkan oleh kesebelasan Chile, Colo-Colo. Kecelakaan ini adalah malapetaka besar bagi Alianza, karena mereka kehilangan semua skuat yang paling menjanjikan dalam dekade tersebut.

Turut di dalamnya, Francisco Bustamante dan Jose Casanova adalah pesepakbola muda yang membela timnas, serta Alfredo Tomasino yang merupakan pencetak gol terbanyak Alianza. Tomasino sebenarnya hampri selamat karena hanya ia yang mampu berenang berhari-hari, meski akhirnya ia menyerah beberapa saat sebelum pilot pencari menemukan tubuhnya yang sudah tenggelam.

Banyak teori konspirasi yang mengiringi. Mulai dari pesawat membawa obat-obatan terlarang, hingga Alianza sengaja menceburkan diri ke laut, ketimbang kemungkinan menabrak lingkungan kumuh di sekitar bandara.

Kecelakaan pesawat tersebut akhirnya diangkat ke layar lebar pada 4 Desember lalu dengan judul “F-27”.



Motivasi Juara Afrika


(Sumber gambar: guardian.com)

Pada 27 April 1993, kesebelasan nasional Zambia bertandang ke Dakar, untuk menghadapi Senegal dalam babak kualifikasi Piala Dunia Zona Afrika. Mereka menumpang pesawat Angkatan Udara (AU), AF-319.

Pesawat tersebut tidak bisa langsung menuju Dakar, melainkan harus tiga kali transit untuk isi bahan bakar. Pertama di Brazzaville, Kongo; kedua di Libreville, Gabon, dan terakhir di Abidjan, Pantai Gading.

Sejak perhentian pertama di Brazzavile, kru pesawat telah menyadari adanya masalah pada mesin pesawat. Saat perjalanan menuju Libreville, mesin kiri terbakar, lalu mati. Anehnya, pilot mematikan mesin pesawat sebelah kanan yang membuat pesawat menukik, lalu terjatuh ke laut.

Tragedi tersebut nyatanya menjadikan motivasi bagi insan sepakbola Zambia. Saat mereka mengikuti kompetisi Piala Afrika 2012 yang dihelat di Gabon, tragedi tersebut memengaruhi mereka. Benar saja, pada 12 Februari 2012, mereka menjuarai turnamen tersebut setelah menang atas Pantai Gading lewat drama adu penalti.

Namun, yang paling mengharukan, mereka melakukannya di Stade d’Angondje, yang terletak sekitar 800 meter dari tempat kecelakaan yang merenggut nyawa 18 penggawat timnas Zambia, tujuh ofisial, dan lima kru pesawat.

Sebelum partai final tersebut, seluruh rombongan kesebelasan Zambia melakukan Ziarah ke tepi pantai. Mereka membawa karangan bunnga sebagai bentuk penghormatan atas para korban.

Kehilangan Superioritas Turin


Berakhir di Superaga (Sumber gambar: listverse.com)

Kota Turin, Italia selalu identik dengan Juventus. Siapa yang peduli dengan Torino? Begitu kata penggemar bola masa kini. Namun, pandangan tersebut tak berlaku pada 1940-an, di mana Torino adalah penguasa Turin, dan Italia.

Dalam periode tersebut, Torino merengkuh gelar sebanyak lima kali. Namun, “Tragedi Superga” mengubah segalanya. Setelah itu, Torino hanya mampu menjadi juara satu kali pada musim 1975/1976. Sisanya, mereka harus berada di balik bayang-bayang Juventus.

Tragedi Superga mengakhiri era keemasan Torino atau yang lebih populer dengan “The Grande Torino”. Saat itu, 4 Mei 1949, skuat Torino menaiki pesawat FIAT G212CP yang dioperasikan Avio Linee Italiane. Mereka baru saja pulang dari Lisbon, Portugal, setelah melakukan pertandingan persahabatan menghadapi SL Benfica.

Pesawat sempat mengisi bahan bakar di Barcelona, lalu kondisi cuaca berubah buruk. Badai petir melanda saat mereka memasuki wilayah Italia. Dengan visibilitas rendah, pilot sulit mengendalikan pesawat.

Pesawat tersebut menabrak dinding belakang komplek Basilica yang terletak di bukit Superga. 31 penumpang tewas termasuk 18 pemain, staf, dan jurnalis. Pihak berwenang Italia menyatakan bahwa navigasi yang eror, serta buruknya radio bantu menjadi faktor terjadinya kecelakaan tersebut.

Tragedi tersebut menghasilkan dampak emosional yang besar, karena Torino adalah kesebelasan terkuat di Italia saat itu. Dengan empat pertandingan sisa, mereka pun menurunkan pemain dari akademi. Lawan yang mereka hadapi, Genoa, Palermo, Sampdoria, dan Fiorentina pun menunjukkan rasa hormatnya. Mereka sama-sama menurunkan pemain dari akademi.

**

Sebenarnya, Alianza masih bisa terbang keesokan harinya. Namun, kemenangan 1-0 atas Deportivo Pucallpa, membuat mereka di peringkat teratas klasemen. Alianza ingin segera pulang karena ingin merayakan kemenangan tersebut bersama keluarga. Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Mereka memang kembali, tapi dengan peti mati.

Sementara mereka yang tewas di Gabon adalah sumber motivasi bagi Zambia. Kuburan tanpa nisan bahkan dengan jasad yang tidak ditemukan, hanya berjarak 800 meter dari tempat mereka bertanding di babak final Piala Afrika 2012.

Sementara itu kecelakaan pesawat merupakan titik terendah Torino, bahkan hingga saat ini. Mereka harus kembali masuk dalam bayang-bayan Juventus sebagai penguasa Turin, dan Italia.

Perjalanan adalah hal yang tak terhindarkan, karena hanya lewat perjalanan, manusia melakukan perubahan.

Tokoh Zulbahri dalam cerpen “Ave Maria” karya Idrus misalnya. Tidak akan ada perubahan sikap pada dirinya andai ia tak pulang ke Malang, lalu berhasrat membunuh Wartini, bekas istrinya, dan Syamsu, adik kandungnya. Hasrat itu masih akan ia simpan, andai ia tak kembali ke Jakarta, ke rumahnya yang dulu, tempat kini Wartini dan Syamsu tinggal. Di depan rumah, Zulbahri menemukan keduanya bahagia dalam lantunan nada Ave Maria.

Perubahan itu banyak bentuknya. Tanpa perjalanan, Juventus mungkin tak akan pernah bisa meraih gelar Serie-A musim 1949/1950 yang diprediksi jatuh ke tangan Torino. Tanpa perjalanan, tidak ada ruh tambahan dalam diri pemain Zambia untuk mengalahkan Pantai Gading di final Piala Afrika.

Meski begitu, tidak ada yang tahu pasti ke mana kita akan menuju. Rute bisa saja berubah tanpa bicara. Tiba-tiba saja kita tak kembali ke rumah bertemu dengan keluarga. Bukan tidak mungkin, rute kita diputar begitu saja menuju rumah yang sebenarnya; rumah tempat keabadian berada.

Terinspirasi dari: listverse.com

Sumber gambar: nytimes.com

Komentar