Yang Terlupakan dari Gemerlapnya Liga Primer Inggris

Cerita

by Abimanyu Bimantoro

Abimanyu Bimantoro

Football Analyst | Promising Sports Brand Strategist | Liverpool #YNWA

Yang Terlupakan dari Gemerlapnya Liga Primer Inggris

Liga Primer Inggris memang telah menjelma menjadi liga paling gemerlap saat ini. Kesebelasan dengan penghasilan milyaran paun bertebaran di sini. Pemain-pemain dengan bayaran selangit pun berjumlah sangat banyak di liga ini.

Namun siapa sangka, terdapat satu bagian dari Liga Primer yang berada sangat jauh dari kehidupan gemerlap. Beberapa orang yang menjadi bagian dari Liga Primer Inggris ini bahkan kesulitan untuk menyejahterakan keluarganya.

Mereka adalah para pekerja kebersihan, serta beberapa staf yang bekerja di restoran dan hotel yang dikelola kesebelasan Liga Primer Inggris. Rata-rata dari mereka dikabarkan hanya mendapatkan bayaran £6,5 per jamnya.

Angka ini memang sesuai dengan upah minimum yang ditetapkan pemerintah Inggris. Namun, menurut penelitian yang dilakukan Loughborough University, angka ini tidak cukup untuk bisa menyejahterakan seseorang yang tinggal di Inggris.

Menurut mereka, setidaknya seseorang harus memiliki upah minimal £9,5 per jamnya bagi mereka yang berada di London, £7,5 per jamnya bagi mereka yang berada di kota selain London. Jumlah ini baru merupakan jumlah yang mencukupi bagi seseorang untuk bisa menyejahterakan dirinya dan keluarganya.

Mayoritas kesebelasan Liga Inggris saat ini masih menggunakan standar yang diberikan pemerintah Inggris dalam memberikan upah kepada para pekerjanya. Jika dengan angka tersebut, upah satu jam bekerja bahkan tidak cukup untuk membayar tiket kereta jika sang pekerja tinggal di daerah London Timur dan bekerja di pusat Kota London.

Kebanyakan dari mereka kemudian harus memilih bus kota yang membutuhkan biaya lebih murah. Namun konsekuensinya, mereka harus berangkat lebih pagi dan akan pulang lebih malam karena bus kota membutuhkan waktu tempuh lebih lama.

Salah satu komunitas sosial yang berada di Inggris, Citizens UK, meneriakan kampanye ini kepada seluruh tim Liga Inggris. Mereka berharap seluruh tim di Liga Inggris bisa lebih memerhatikan kesejahteraan seluruh pekerjanya. Membuat mereka mampu membayar tiket kereta akan membuat mereka memiliki waktu lebih lama dengan keluarga. Maka bukan kesejahteraan secara materi saja yang terpenuhi, namun kebutuhan untuk bisa berkumpul bersama keluarga lebih lama pun bisa terpenuhi.

Ironis memang melihat kenyataan ini. Padahal beberapa hari lalu kita baru saja mendapatkan data bahwa total pengeluaran seluruh tim Liga Inggris di bursa transfer musim dingin mencapai £125 juta. Saat bursa transfer musim panas 2014 lalu bahkan pengeluaran mereka mencapai £815 juta. Angka ini merupakan yang tertinggi dan menunjukkan peningkatan hingga 33% dari total pengeluaran yang terjadi tahun sebelumnya.

Chelsea menjadi satu-satunya kesebelasan Premier League yang sudah menerapkan hal ini. Sejak tanggal 11 November 2014 lalu, kesebelasan milik Roman Abramovich ini sudah mulai menerapkan upah minimum yang disarankan Loughborough University kepada seluruh stafnya.

Kini diharapkan seluruh kesebelasan Liga Inggris mampu mengikuti langkah Chelsea ini. Salah satunya adalah kesebelasan kaya raya lainnya, Manchester City.

Salah seorang pendukung Manchester City yang mendukung kampanye ini, Julian Cooke, mengatakan, "Kami tentu senang dengan datangnya Wilfried Bony. Namun, sejalan dengan datangnya pemain berkualitas, kami juga ingin semua staf mendapatkan bayaran yang pantas."

Ini cerita klasik sebenarnya. Sebab, dalam setiap pesta, selalu ada yang tidak dilibatkan bersenang-senang, tapi merekalah yang justru terlibat jauh di belakang, saat lampu-lampu pesta sudah dipadamkan, dan mereka kemudian membersihkan meja, piring, dan gelas yang kotor. Pada setiap gedung yang megah, selalu ada sekrup-sekrup kecil yang tak tampak; tapi kita tahu apalah artinya gedung itu tanpa mereka.

Di balik gemerlap sesuatu, niscaya ada yang terselip, terlupakan, dan dilupakan. Juga terabaikan. Dalam hal ini, sekali lagi, Liga Primer Inggris bukanlah pengecualian.

Sumber gambar: westernspring.co.uk

Komentar