Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Jika paradigma anggota komisi disiplin Federasi Sepakbola Polandia, Polski Zwiazek Pilki Noznej (PZPN), diisi oleh orang yang sama seperti yang di PSSI, yakinlah ratusan suporter ini mesti di bawa ke Pengadilan Internasional di Den Haag.

Apa pasal? Pertama, mereka menyalakan cerawat. Kedua, mereka menekan anak yang masih di bawah umur. Ketiga, mereka menginspirasi anak di bawah umur untuk menyalakan cerawat—sebagai kejahatan internasional—di stadion.

Hal ini terjadi di Piala Lech Polandia yang mempertandingkan pesepakbola usia dini U-12. Kompetisi ini pertama kali digelar pada 2006, dan sejak 2007 sejumlah klub di luar Polandia turut serta dalam kompetisi tersebut.

Piala Lech Polandia semakin menarik perhatian, terutama bagi orang tua yang mendukung timnya bermain. Sejak 2009, mereka menyemarakan stadion dengan atraksi yang terbilang spektakuler untuk ukuran pertandingan U-12.

Sekitar lima ratusan penonton yang memadati tribun belakang gawang, mulai meneriakan chant dukungan. Jelang pertandingan, mereka pun melemparkan kertas gulung ke dalam lapangan. Di tengah pertandingan, sekitar belasan cerawat dinyalakan. Stadion pun merah terang benderang oleh cerawat yang menyala.

Ini yang dirasakan oleh tim Tottenham Hotspur U-12 yang berlaga pada Piala Lech Polandia tahun 2010. Chant dari suporter klub Lech Poznan begitu menggema di seantero stadion. Keriuhan dari tepukan tangan, dan teriakan yang bersemangat, begitu mengintimidasi tim yang bermain saat itu.

Baru berjalan beberapa menit, satu persatu dari mereka mulai menyalakan cerawat. Disimpan di area tengah, cerawat dibiarkan menyala berkedip-kedip. Kamera telepon genggam penonton pun tak henti menyorot mereka yang berdiri di belakang gawang.

Pertandingan belum berakhir, cerawat kembali dinyalakan kali ini dengan cara yang berbeda. Mereka mengangkatnya dan membuat tribun belakang gawang memancarkan sinar merah.

Saat pertandingan usai, mereka pun memberi tepuk tangan yang begitu kencang untuk mengapresiasi para pemain kedua tim di lapangan. Apa yang mereka lakukan, menyiratkan dukungan penuh terhadap pesepakbola usia dini. Mereka mengajarkan bagaimana para pemain mengelola tekanan yang nantinya pasti didapat dari penonton.

Namun, hal tersebut tak akan mungkin terjadi di Indonesia, kecuali mereka ingin diseret ke Pengadilan Internasional, dengan tuduhan melakukan kejahatan internasional.





Sumber gambar: jalbum.net

Komentar