Kisah Sedih Pesepakbola Pro Kulit Hitam Pertama

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Kisah Sedih Pesepakbola Pro Kulit Hitam Pertama

Sepakbola adalah medium yang tepat bagi kesetaraan suku, agama, ras, dan antar golongan. Sebuah klub sepakbola pada masa kini bagaikan dunia mini di mana orang-orang dari seluruh penjuru dunia dan dari berbagai latar belakang bisa berkumpul di dalamnya.

Saat perbudakan kulit hitam masih merajalela di Amerika Serikat, sepakbola menunjukkan kesetaraan yang sebenarnya dari sebuah kebebasan semu ala Negeri Paman Sam.

Dialah Arthur Wharton, seorang pria kelahiran Gold Coast, koloni Inggris di Afrika yang kini menjadi sebuah negara merdeka bernama Ghana. Arthur mendobrak batas-batas kebebasan warga kulit hitam. Pria kelahiran 1865 tersebut merupakan pesepakbola profesional kulit hitam pertama di dunia.

Awalnya, pada 1882, Arthur berangkat ke Inggris dengan tujuan belajar menjadi misionaris untuk Gereja Methodis. Namun, semuanya berubah saat ia merasa memiliki bakat di bidang olahraga. Pada 1886 ia mencatatkan rekor sebagai pelari tercepat dengan rekor 10 detik untuk jarak 100 yards. Ia juga dikenal sebagai pembalap sepeda dan pemain kriket.

Namun, pencapaiannya di sepakbola lebih menonjol. Ia memang bukan pesepakbola kulit hitam pertama, karena ada Robert Walker dan Andrew Watson. Namun, keduanya adalah pesepakbola amatir yang tidak menandatangani kontrak profesional.

Karirnya pun terbilang unik. Ia mengawalinya sebagai penjaga gawang di klub Darlington sebagai pemain amatir. Pada 1889, ia menandatangani kontrak dengan Rotherham Town yang menjadikannya sebagai pesepakbola profesional kulit hitam pertama. Di penghujung karirnya pada musim 1901/1902 ia berposisi sebagai pemain sayap dan mencetak dua gol dari enam penampilan.

FIFA pun memberi penghormatan atas apa yang telah ditorehkan Arthur. FIFA membuat sebuah patung kecil yang dipajang secara permanen di kantor pusat FIFA di Zurich, Swiss.

Blatter menyatakan pembuatan patung tersebut sebagai bentuk perhatian FIFA pada masalah rasisme di sepakbola. “Kami bekerja melawan diskriminasi. Sepakbola menghubungkan orang, membawa mereka bersama-sama,” kata Blatter.

Namun, kehidupan Arthur tak segemilang bakat yang dimilikinya. Di penghujung hidupnya, ia yang ketergantungan alkohol, bekerja sebagai buruh di sebuah tambang batu bara. Arthur wafat pada 1930 dalam kondisi sebagai pengemis yang terlunta-lunta.

Pusaranya hanya ditandai dengan batu yang tak berukir. Orang-orang yang baik hati memakamkannya begitu saja, tanpa pernah tahu pencapaian apa saja yang pernah dilakukannya.

Sebuah akhir yang sedih bagi Arthur Wharton, sang pemula kulit hitam di sepakbola pro.

patung
Sheila Leeson bersama patung sang kakek Arthur Wharton

Sumber gambar: dailymail.co.uk

Komentar